Penonton

Cepat sekali waktu berlalu, pekan kedua di awal tahun 2017 sudah memasuki akhir. Semarak kembang api dan acara tahun baru sudah ditelan oleh keriuhan debat Pilkada Jakarta yang berlangsung Jum’at malam kemarin.

Saya sih tak terlalu mengikuti lagi perkembangan seputar Pilkada Jakarta 2017. Namun saya jadi ingat ketika menjadi saksi pemungutan suara Pilkada Jakarta 2012. Saya ingat, di tahun 2012 itulah momen-momen mulai memanasnya perpolitikan Indonesia di media sosial.

Seorang teman saya yang menjadi simpatisan salah satu partai pendukung Cagub waktu itu, meminta saya menjadi saksi pemungutan suara di TPS di lingkungan sekitar kosan saya. Saya terima saja tawaran dari teman saya waktu itu, dengan dasar mencari pengalaman. Yeah ini pengalaman pertama saya bersentuhan dengan dunia perpolitikan walau hanya menjadi salah satu saksi dari salah satu Cagub waktu itu.

Saya juga sudah lupa menjadi saksi dari pihak Cagub yang mana waktu itu. Saya hanya ingat, waktu itu sedang semarak majunya Jokowi menjadi Cagub Jakarta.

Cukuplah Facebook, Twitter dan media-media online mainstream yang membahas intrik politik yang terjadi dewasa ini. Saya lebih tertarik mengamati perilaku para pendukung masing-masing Cagub.

Tadi pagi saya mengintip sejenak timeline Twitter. Hmm sudah mulai memanas. Saling bully antar sesama pendukung mulai dilancarkan.

Saya enggak ikutan lagi deh kalo bully-bully-an. Masih banyak hal penting lainnya daripada ikut mikirin urusan politik. Politik dan tetek bengek-nya yang menjadi turunan. Bahkan menjadi penambah keruwetan.

Saya membayangakan diskusi dan saling ledek antar pendukung Cagub Pilkada kali ini tak lebih dari obrolan di warung kopi. Obrolan santai sambil menenggak segelas kopi ditemani satu dua pisang goreng hangat.

Hanya saja berada pada ruang dan waktu yang berbeda. Satunya di warung kopi yang terbatas dalam hal ruang dan waktu. Sedangkan warung kopi dunia internet ruang dan waktunya tak terbatas.

Sewaktu-waktu dan di mana pun celoteh warung kopi tentang pilkada bisa diakses.

Baik di internet maupun di warung kopi, kayaknya mendingan jadi penonton saja. Menonton pertandingan politik layaknya menonton pertandingan sepak bola.

Lagian saya tidak punya hak pilih. Semacam ndangdut jika harus menguras perhatian, waktu, tenaga dan emosi.

Lebih baik melakan hal lain yang bermanfaat dan menyenangkan. Well, have a nice weekend

Salam
 dia yang sedang menonton ehem ehem…


Originally published at DiPtra.