
Hujan mulai mereda nampaknya setelah seharian mulai dari siang air tak kunjung henti tercurah dari langit. Namun langit masih tak ubahnya gadis manis yang tak jadi dilamar setelah bertahun-tahun dipacari, sendu bergelung duka.
Dan saya masih teronggok di atas kasur bersprei merah marun. Baru saja terbangun dari tidur. Kesadaran di dunia nyata masih bercampur dengan dunia mimpi.
Hmmh.. agar segera benar-benar terbangun, maka saya ambil novel karya Ernest Hemingway yang baru saja saya baca. Novel tipis dengan satu alur cerita.
Ketika menceritakan ini, saya merasa aneh. Bisa-bisanya menggunakan metode membaca novel untuk membuka ruang kesadaran 100%. Biasanya malah tertidur ketika membaca novel.
Mungkin karena saya berada di tengah klimaks cerita. Pertarungan antara lelaki tua dengan hiu-hiu ganas di atas perahu.
Lelaki tua itu berulangkali berharap yang dilakukan hanyalah mimpi. Namanya Santiago. Kurang 20 halaman lagi selesailah sudah kisah lelaki tua karya Hemingway ini.
Mungkin karena novel terjemahan, gaya bahasa asli Hemingway tak begitu kentara. Padahal itu novel pertama Hemingway yang saya baca pertama kali.
Harus pasrah dengan hasil kerja keras penerjemah novel ini atau bahkan menghaturkan ribuan terima kasih. Jika tak diterjemahkan kedalam bahasa indonesia saya enggan membacanya.
“Mas bukain pintu pager, kayaknya Om Sudar sudah pulang,” lamunan seketika pecah oleh permintaan wanita yang sedang berbaring di sebelah saya.
Ahh iya tadinya kami sekeluarga berencana jalan-jalan ke Selecta. Salah satu kawasan wisata di Batu. Seperti yang saya bicarakan di awal, hujan menghentikan kami mengeksekusi rencana ini.
Sedangkan Om Sudar, paklik istri saya, sudah berangkat terlebih dahulu dan mungkin terjebak hujan di jalan menuju Selecta. Selecta, sebuah kawasan wisata yang menarik di Malang, paling mengesankan adalah taman bungnya.
Melangkahkan kaki gontai menuruni anak tangga dengan kesadaran hampir 100%. Sampai di depan pintu rumah baru teringat bahwa pintu pagar digembok.
Iya juga ya, ngapain istri saya minta untuk bukain pagar untuk Om Sudar kalau pagernya tidak digembok. Hadeeh ternyata kesadaran yang akan mencapai 100% itu adalah kesadaran semu.
Bukan Om Sudar yang ada di depan pagar. Bapak penjual tahwa sedang berkemas-kemas dagangannya setelah melayani penjualan di rumah Bu Bambang, tetangga sebelah rumah.
Pas banget, kemarin-kemarin kepingin makan tahwa. Sekarang penjualnya ada di depan mata magrong-magrong. Okeee fix saya beli tahwanya. Masuk kembali ke rumah menuju dapur. Ambil mangkuk 3 buah.
Bertanyalah saya mengenai harga semangkuk tahwa. 5000 rupiah alias goceng sahut Pak penjual tahwa. Baiklah jadikan 4 mangkok saya menimpalinya. Maka kembali lagilah saya ke dapur mengambil satu buah mangkuk.
Pas 20.000 rupiah untuk 4 mangkuk tahwa. 4 mangkuk untuk saya, Ibuk, adik ipar dan istri adik ipar. Tapi mereka sedang tidur semua di kamar masing-masing. Semoga tidak keburu dingin tahwanya.
Bagi yang tidak paham apa itu tahwa, baiklah saya beri sedikit gambaran. Tahwa adalah kembang tahu dengan kuah air jahe. Teksturnya lembut seperti agar-agar, namun ada cita rasa kedelai yang kuat di tiap suapan.
Setelah menyelusup di wikipedia, tahwa yang sedang saya bahas kali ini memiliki nama asli Tauhue. Makanan ini aseli tanah Tiongkok. Lebih detailnya bisa dibaca pada tautan Tahwa di atas. Hmmm kok sekilas mirip dengan pengucapan Tahu yak..? Jangan-jangan selama ini terjadi puteri nama yang tertukar antara tofu dan tauhue. Ini kalau masuk ke agen naskah sinetron bisa menjadi best seller, best seller di dunia jin.
Yees semangkuk tahwa sudah tandas masuk kedalam perut saya yang mulai membuncit karena umur dan malas olah raga. Kembali ke kamar untuk main game zenkoi. Tersedia untuk Android dan iOS.
Tak lama Maghrib menjelang, saya turun dari lantai dua terbang lewat tangga menuju kamar mandi untuk wudhu. Nah di meja makan saya lihat kok masih tersisa satu mangkuk tahwa. Ternyata istri adik ipar saya tidak doyan tahwa. Hmmm sudah agak dingin sih, tapi daripada mubadzir mari kita sumbang timbunan lemak di perut ini.
Sesendok demi sesendok saya makan tahwa itu penuh penghayatan. Tapi tak samapai seperti penghayatan pembina upacara membaca naskah pembukaan UUD 1945 ketika upacara. Saya erenung dan tercenung menatap semangkuk tahwa yang hampir habis.
Ternyata dua mangkuk tahwa belum dapat menghapus kepedihan hati akibat seuatu kejadian tak menyenangkan kemarin. Ahh saya menyadari satu hal penting bahwa makanan tidak bisa mengobati luka hati. Tapi penerimaan atas luka dan pengakuan atas kesalahanlah yang dapat mengobati sakit hati.
Hmmm spiritual sekali proses makan semangkuk tahwa kali ini. Padahal sebelumnya lupa baca bismillah sebelum makan. Haduuh payah kaliii. Spiritual gundulmu mlocot hiihihihi.
Anyway sejak pertama kali menuliskan judul tulisan acak kadut ini saya bertanya-tanya manakah penggunaan kata yang baku untuk mangkuk. Mangkuk ataukah mangkok yang benar. Seperti halnya apotik, yang benar adalah apotek. Juga kata praktik yang benar adalah praktek. Suami..? Hmmm yang benar istri… hihihihhi
salam dari lelaki pengeja hujan…
Originally published on Wordpress