Bulan Ramadhan tahun ini secara sengaja tak sengaja saya melakukan tiga macam percobaan. Percobaan terhadap tubuh dan mental. Percobaan untuk mengukur batas-batas tubuh dan pikiran.

Batasan tubuh diwakili oleh asupan makanan dan minuman. Selain nutrisi, batasan tubuh diwakili oleh tidur, walaupun tidur ada partisipasi dari batasan mental. Untuk batasan mental ada pada perihal pemenuhan terhadap target.

Percobaan pertama adalah batasan asupan makanan dan minuman. Sudah jamak diketahui bahwa ketika puasa tubuh hanya mendapat dua kali makanan, yaitu ketika sahur dan berbuka. Kecuali ada makan besar antara waktu buka dan sahur.

Tapi secara umum tubuh hanya diisi dua kali makan besar. Semacam menabrak kebiasaan umum bahwa tubuh membutuhkan makan tiga kali sehari. Untuk batasan makan dua kali sehari ini sebenarnya sudah saya terapkan di luar waktu puasa Ramadhan.

Melewatkan sarapan dan hanya makan diwaktu siang dan malam. Jadi hanya semacam pergeseran waktu makan. Percobaan yang saya lakukan adalah makan besar satu kali sehari. Makan besar diwaktu sahur atau berbuka saja. Selama berpuasa beberapa hari ini, tidak setiap hari melakukan pola makan satu kali sehari.

Seingat saya hanya melakukan pola makan satu kali sehari selama puasa ini hanya 3 kali. Awalnya karena terlewatkan waktu makan sahur. Ternyata hingga maghrib tubuh masih mampu menyangga untuk berdiri tegak. Dari kejadian inilah terpikir untuk makan satu kali sehari.

Jadi jika makan besar waktu berbuka, maka waktu sahur cukup makna buah, ngemil snack dan minum. Begitu juga sebaliknya. Dari tiga kali percobaan alhamdulillah kuat menjalaninya. Kembali pada adagium tubuh itu butuh pembiasaan.

Percobaan selanjutnya adalah waktu tidur. Selama Ramadhan praktis jumlah waktu tidur berkurang. Tapi hampir separuh Ramadhan terlewati saya baru sadar kalo pola tidur saya masih ngawur. Tidur kelewat malam sehingga selepas sahur mata terperangkap dalam kantuk yang sangat berat.

Akibatnya selepas shubuh tak kuat menahan kantuk. Akibatnya masuk kerja menjadi telat dan suasana hati atau mood menjadi aras-arasen. Jadi percobaan mulai esok adalah tidur lebih cepat dan menahan kantuk selepas shubuh. Karena tubuh sudah terbiasa tidur selepas shubuh maka saya rasa hal ini akan menjadi tantangan mental yang paling berat.

Percobaan terakhir adalah masalah komitmen menyelesaikan tulisan #ramadhanotes. Ramadhanotes tahun ini bersifat publik, sedangkan tahun sebelumnya menulis di aplikasi evernote.

Tahun lalu mencatat kejadian selama Ramadhan seperti bangun sahur jam berapa, makan sahur apa, maka buka apa, di kantor ngapain ajah, ada kejadian apa dan sebagainya. Makan di tahun ini agak berbeda dengan membuat tulisan yang diterbitkan di blog. Tulisan bertemakan seputar Ramadhan baik itu berupa renungan maupun berupa memoar mengenai kejadian selama Ramadhan.

Jika Ramadhan hanya 29 atau genap 30 hari maka tulisan yang insyaa Allah terbit di blog ini dengan gambar ilustrasi #RAMADHANOTES akan tetap berjumlah 30 tulisan. Awalnya #RAMADHANOTES saya maknai satu tulisan perhari. Namun dalam perjalanannya jik ada satu hari yang terlewat maka di hari berikutnya saya menulis hutang tulisan tersebut. Jadi bisa ada dua tulisan dalam satu hari.

#RAMADHANOTES akhirnya mengalami peregseran makna yaitu jumlah tulisan sesuai dengan jumlah hari yang sudah berlalu di bulan Ramadhan. Selama ini saya terlalu lunak terhadap diri sendiri dengan mengendurkan target-target yang sudah dibuat. Untuk kali ini saya sudah menemukan cara untuk memenuhi target 30 tulisan hingga akhir Ramadhan nanti. Sebuah cara yang tak sengaja saya temukan sejak tulisan #Ramadhanotes ke 12.

Selain buat gaya-gayaan, 30 tulisan ini adalah sebagai tantangan mental untuk membuktikan bahwa diri ini masih patuh dan berusaha lebih keras jika diberikan batasan target di luar kebiasaan. Bahasa Mas Jaya sih The Power of kepepet. Dipepet oleh target, kedengarannya semacam maksain diri yaa. Yaa lebih baik mensimulasikan keadaan kepepet daripada dihadirkan kepepet yang beneran. Dengan kata lain ini adalah latihan kepepet haha.

Salam..

The post Tiga Percobaan appeared first on diptra.

Originally published on Wordpress