Sukarno boekan Pramudya
Oleh: Ilham Mustamin
“Cobalah dulu, baru bercerita. Pahamilah dulu, baru menjawab. Pikirkan dulu, baru berkata. Telitilah dulu, baru putuskan. Dengarkanlah dulu, baru beri penilaian. Bekerjalah dulu baru berharap.” (Socrates)
Kepada,
Saoedara Sunardi Purwanda
Bagaimana seharoesnya kita menoeliskan nama tokoh-tokoh yang memilki ejaan lama semisal Soekarno, Soeharto, dan Pramoedya Ananta Toer? Apakah keliroe menoeliskan nama-nama itoe dengan menyesoeaikannya dengan ejaan yang digoenakan saat ini? Soekarno ditoelis Sukarno, Soeharto menjadi Suharto, dan Pramoedya dicatat Pramudya.
Saoedara Sunardi!
Apa yang pernah ditoeliskan oleh salah satoe editor koran di kota kita terhadap salah satoe nama di atas, perloe kita teroka. Tidak menilainya langsoeng sebagai seboeah kesalahan. Kemoedian jadi leloecon, menjadi bahak seroepa aboe pada asbak.
Prof. Charles van Ophuijsen, seorang alih bahasa kebangsaan Belanda bersama Sultan Makmur dan Moh. Taib Sultan Ibrahim memboeat pembakoean ejaan bahasa Melayoe oentoek pertama kalinya tahoen 1901. Ejaan ini kemoedian dikenal dengan ejaan van Ophuijsen. Tahoen 1902, Direktoer Pendidikan Hindia Belanda, menetapkan daftar kosakata dan ejaan terseboet sebagai pandoean berbahasa Melayoe yang benar. Ejaan yang patoet diajarkan di sekolah-sekolah, birokrasi dan karya toelis.
Pasca kemerdekaan, ejaan van Ophuijsen tidak lagi digoenakan. Suwandi, tahoen 1947 memboeat pembakoean ejaan bahasa Indonesia oentoek mengganti ejaan van Ophuijsen. Salah satoe peroebahan yang dibawa oleh Suwandi adalah penggantian penoelisan hoeroef “oe” menjadi “u”. Sehingga kata yang sebeloemnya menggoenakan hoeroef itoe beralih, semisal goeroe menjadi guru. Menoeroet Joss Wibisono, “ejaan Suwandi adalah boeah nasionalisme yang baik. Mengoreksi sejoemlah hal yang ‘kebelanda-belandaan’ dalam van Ophuijsen.”
Saoedara Sunardi!
Presiden Ir. Sukarno (Soekarno) lahir tahoen 1901. Nama beliaoe yang menggoenakan digraf “oe” adalah warisan pemerintah kolonial. Dalam boekoe otobiografi “Bung Karno Penyamboeng Lidah Rakyat” tahoen 1965 karya Cindy Adams, Bung Karno mendakoe agar namanya dieja dengan Sukarno boekan Soekarno. Guruh, poetra Bung Karno joega menegaskan demikian. Betapa Sukarno gigih mencaboet akar-akar kolonialisme. Moengkin hal ini poela yang menjadi salah satoe landasan gagasan oentoek memindahkan iboe kota Jakarta ke Palangkaraya, seperti yang pernah ditoetoerkan oleh Pramoedya Ananta Toer.
Pram, lahir tahoen 1925. Nama asli beliaoe adalah Pramoedya Ananta Mastoer. Karena merasa nama keloearga, Mastoer (ayah) terlaloe aristokratik, Pram menghilangkan awalan “Mas” dari nama terseboet dan menggoenakan “Toer” sebagai nama keloearga. Meski namanya menggoenakan digraf “oe”, saya beloem menemoekan adanya pernyataan langsoeng ataoe boekoe-boekoe yang pernah ditoelisnya menggoenakan nama Pramudya.
Saoedara Sunardi!
Editor koran kita boekanlah orang pertama yang menoelis nama sastrawan besar kita dengan Pramudya. Saya pernah membaca toelisan seorang profesor yang mengampoeh ilmoe sastra, joega menoelis demikian. Apalah arti seboeah nama? Andaikata kaoe memberikan nama lain oentoek boenga mawar, ia tetap akan berbaoe wangi,” kata William Shakespeare.
Lantas, mengapa Pram tidak mengganti warisan ejaan van Ophuijsen itoe pada namanya? Apakah Pram hendak membiarkan warisan kolonial melekat padanya? Kebebasan dan kecintaan berbahasa dan kepada Pramoedya Ananta Toer moengkin salah satoe alasan, mengapa editor ataoe seorang prof terseboet mengganti digraf “oe” pada nama Pram.
Saoedara Sunardi!
“ Ejaan resmi, apa pun namanya, bukan batas suci,” kata penulis Dea Anugerah. Saoedara sarasa soedah bisa mengambil sikap.
Ilham Mustamin. Asal Parepare. Mulai belajar menulis sejak 2015. Tulisan lainnya berupa karya bersama Komunitas Parepare Menulis: Benarkah Menantuku Parakang? (Kumcer, 2017) dan Belajar Memecah Kenangan (Antologi Puisi, 2017).
