Basa-Basi

Dita Amallya
Sep 2, 2018 · 2 min read
https://www.saatchiart.com/drawings/charcoal

“Hai”, malam itu, begitu mendengar kabar, segera kuputuskan untuk menyapa dia.

“Hai kak.” Lega, akhirnya ku dengar suaranya setelah dering ke sekian. Sayang. Lesu. Suaranya terdengar lelah.

“Apa kabar?”

“Kak…”

“Yaa?”

“Apa itu pertanyaan basa-basi?”

“Hahahahahahaha”, kami tertawa. Ganjil sekali ternyata menanyakan kabar yang sama-sama kami ketahui keadaannya. Tak lama kemudian kami kembali terdiam. Menunggu.

“Kak…”

“Yaa?”

“Aku sedang diberikan ujian untuk naik level, hehe.”

Ini kelegaanku yang kedua setelah ia mengangkat telpon ini. Ia masih sama seperti sebelumnya, belum berubah.

“Sepakat. Kamu akan menjadi pribadi yang lebih hebat setelah semua ini selesai.” Jawabku tanpa bermaksud membesar-besarkan. Karena pada saat ini saja, ku bersyukur dia sudah bertahan sehebat ini.

“Kak…”

“Yaa?”

“Aku gak sendiri.”

Suaranya bergetar. Aku tahu dia menahan. Yang tentunya karena gengsi, tidak ingin aku ketahui.

“Betul. Ada Allaah yang akan selalu di sampingmu membantumu,” jawabku klise, tapi ku tak mengerti kata-kata apa lagi yang bisa aku lontarkan padanya.

“Bukan, Kak…”

“Ehmm… ya?”

“Aku masih bersama dengan orang-orang yang mau berjuang denganku. Aku tau mereka bisa melakukan hal lain yang lebih bermanfaat dibanding dengan berada di sisiku. Aku tau posisi kita sama-sama tersudutkan. Tekanan datang dimana-mana. Tapi mereka memilihku Kak. Di sisiku.”

Dan mengalirlah cerita yang tak terbendung. Meledaklah bom waktu yang selama ini tak terkatakan, tersimpan rapat di hatinya. Malam itu, kuputuskan untuk menemaninya, mendengarkannya bercerita. Sejam.. dua jam… eh, tiga jam? Kurasa ini waktu paling lama sepanjang sejarah kami berkomunikasi via telpon.

“Kak…”

“Yaa?”

“Makasih.”

“Eh?”

“Makasih sudah berbasa-basi menanyakan kabarku.”

“Hahahahahahaa,”

Kami pun mengakhiri percakapan basa-basi ini dengan tawa. Tiga jam basa-basi yang semoga sedikit dapat melapangkan beban di dada, menghapuskan toxic-toxic yang ada di pikiran.

Semoga.


Priok — Bandung, via jaringan telpon,
Dari yang gemar berbasa-basi,
Dita Amallya.

    Dita Amallya
    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade