Tanya yang Dariku Dan Jawab yang Untukmu ( Senja dan Hujan )

Lalu, sintak terbesit tanya pada diri.
“Mengapa kau tak pernah bercerita perihal senja yang sangat jelas keindahannya ?”
“Mengapa kau selalu bercerita perihal hujan yang selalu membawa sendu di tiap hadirnya ?”

Begini,
Senja memang sangatlah setia pada sore dan keindahannya.
Senja selalu mampu menyihir tiap-tiap mata yang memandang dan menikmatinya.
Akupun selalu mampu tersihir oleh keindahannya.
Bahkan aku selalu mampu merasakan kedamaian di tiap sinarnya.
Namun, ada hal yang memang tak ku sukai dari senja yang setia akan sorenya.
Perginya selalu petang yang di sisakannya.
Aku benci petang yang menggelap.
Bagaimana tidak ? Setelahnya tak ku temui lagi sinar senja dengan keindahannya.
Senja pergi begitu saja, meninggalkan gelap ditiap hadirnya.

Sedangkan Hujan,

Tunggu ! Katamu hujan selalu mampu membawa sendu di tiap hadirnya ?
Memang benar adanya,
Hadirnya hujan selalu saja menghadirkan sendu di hatiku.
Hujan selalu mampu menghadirkan rindu yang tanpa pernah ia beritahu cara menuju temu.
Hujan selalu mampu menyisakan kata pilu di tiap akhiran rindu.
Sudahlah aku suka hujan !
Tak penting seberapa sendu,pilu dan rindu yang akan menempa hatiku.
Karena perginya hujan selalu meyakiniku jika pelangi akan segera menghampiriku.
Yaa, pelangi !
Aku selalu yakin setelah kepergian hujan keindahan pelangi lantas menghampiriku.
Keindahan pelangi akan mengindahkan mataku.
Sendu,pilu dan rindu menderu yang sedari awal hujan persembahkan untukku akan seketika berubah menjadi bahagia yang nyata karena pelangi di janjikan setelahnya.
Dan aku yakin adanya .

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Dita Kusuma Dewi’s story.