Sep 6, 2018 · 1 min read
Satu minggu, dua bulan, sepuluh tahun, dan meski waktu lewat seperti anak panah yang dibiarkan melesat, laki-laki itu tak mampu menemukan semburat merah di pipi mereka yang lalu lalang. Atau deretan gigi putih rapi dari senyum yang berserakan di tengah keramaian.
Yang tersisa hanya pucat pasi di antara wajah-wajah asing tak diinginkan. Dan satu-satunya jalan adalah dengan mengumpulkan puing dari apa yang tersisa di ruang kewarasan, sebelum memori tentang dua bibir yang enggan berjauhan hilang dan berlalu dengan tergesa, seperti senja yang melebur dengan gelap.
01 September 2018
08:11 PM
