
PERKARA YANG DI ATAS
Kolose 3 : 1–3
Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Karena hidup kita ada bersama Kristus di sorga.
(Ayat Kol 3:3), kita harus memikirkan perkara yang di atas dan membiarkan sikap kita ditentukan olehnya. Kita harus menilai, mempertimbangkan, dan memikirkan segala sesuatu dari sudut pandangan kekekalan dan sorga. Tujuan dan sasaran kita hendaknya mencari hal-hal rohani (ayat Kol 3:1–4), melawan dosa (ayat Kol 3:5–11), dan mengenakan watak Kristus (ayat Kol 3:12–17). Semua sifat baik, kuasa, pengalaman, dan berkat rohani ada bersama Kristus di sorga. Ia memberikan hal-hal itu kepada sekalian orang yang dengan sungguh-sungguh meminta, dengan tekun mencari dan terus-menerus mengetok (Luk 11:1–13; 1Kor 12:11; Ef 1:3; 4:7–8).
Renungan di atas tiba-tiba teringat dalam benak saya. Ketika sejenak merenungi apa saja yang saya kerjakan selama ini. Akhir-akhir ini saya merasa terikat dengan sebuah rutinitas, tanggung jawab dan berbagai tenggat waktu. Saya tahu ini bukan alasan, tapi saya harus akui bahwa situasi ini membuat saya melupakan hal-hal yang penting dalam hidup.
Saya bangun dan tidur dengan berbagai target pekerjaan di pikiran saya. Menjadi terbiasa terbangun dengan daftar hal-hal apa saja yang harus saya selesaikan sepanjang hari. Bahkan tidak jarang saya tertidur saat menyelesaikan pekerjaan tersebut.
Berkebalikan dengan istri saya, ketika pagi-pagi saya masih mengantuk dan berbaring di tempat tidur saya sering melihatnya sudah terduduk dan berdoa. Sejenak kemudian ia menyalakan lagu-lagu pujian, menyanyikannya bahkan saat pergi ke kantornya. Saat sampai di rumah tidak jarang Ia minta saya mematikan tv lalu kemudian menyalakan lagu-lagu pujian.
Ketika saya merasa harus meluangkan waktu untuk baca buku-buku untuk memperkaya kompetensi saya sebagai konsultan HRD, Ia selalu punya waktu untuk baca alkitab atau buku-buku rohani. Dalam hati saya berpikir… “oh sudah taulah isinya saya kan sudah Kristen sejak lahir”
Ya, berbeda dengan saya yang terlahir di keluarga Kristen. Istri saya baru mengenal Yesus Kristus tahun lalu. “Oh… Pantes!” Yap… saya juga berpikir demikian, wajar lah ya… seperti layaknya orang yang baru pindah Agama biasanya ada fase “lagi hot-hot-nya”
Tapi di sini-lah masalah saya… saya tidak “hot” lagi. Api kasih mula-mula terhadap Tuhan seringkali redup… saya bersyukur Tuhan tidak pernah memadamkan sumbu yang telah pudar. Ya, saya ini wujud sumbu yang telah pudar itu. Tepat dimana saya merasa sedang bersinar di tengah dunia karena karir, sebenarnya saya adalah sumbu yang sedang pudar itu…
Sekalipun pendapatan saya beberapa kali lipat dari istri saya, namun saya menyadari bahwa hidupnya lebih bahagia. Dan Puji Tuhan untuk itu karena sukacita surga itu bisa saya rasakan darinya, gak kebayang kalau dia pulang kantor dengan wajah cemberut dan curhat sana-sini. Bukan… bukan karena tidak ada masalah dalam pekerjaannya, tiap hari ia harus menempuh 60 Km pulang-pergi ke kantor. Sedangkan saya? Saya nulis ini saja dari coffee shop yang sangat nyaman.
Bukan hanya itu, sepertinya tidak banyak yang membuat Ia khawatir. Malah banyak kesempatan yang datang kepadanya tanpa pernah dibayangkan sebelumnya. Intinya Ia menjalani hari-hari lebih ringan dibandingkan saya. Apa yang berbeda?
Ia memikirkan segala perkara yang di atas… kerinduannya untuk lebih dan lebih lagi mengenal Tuhan. Kerinduan yang biasanya sudah mulai hilang pada orang yang “sudah lama Kristen” seperti saya. She just wants to worship… dengerin sermon dan nyata roh kudus memandunya untuk semakin berpengertian. Dan saya menyaksikan bagaimana Tuhan menjaga hidupnya tetap dalam sukacita. Ia bersama-sama dengan Tuhan melakukan hal-hal yang saya sendiri tidak akan berani melakukannya seperti mendoakan seorang pramuniaga paruh baya di tengah keramaian pasar atom. Ketika saya tanya mengapa kamu melakukan itu jawabnya: “Saya hanya melakukan apa yang Tuhan gerakkan dalam hati saya”
Ini hal-hal yang susah bagi orang seperti saya. Saya akan terlalu pusing membayangkan apa yang akan orang lain pikirkan lalu menjadikannya alasan untuk “saya doakan di rumah saja” namun kemudian tidak pernah melakukannya.
Ia fokus pada perkara yang di atas, ketika mendengarkan khotbah… Ia tidak pusing dengan latar belakang pendeta, bagaimana kehidupannya. Ia tidak pusing dengan denominasi apa dan doktrin apa yang melekat pada gereja itu. Ia tidak peduli dengan kualitas pelayanan orang lain. Ia juga tidak peduli pada fokus pelayanan gereja. Ia hanya ingin menangkap apa yang Tuhan ingin sampaikan padanya, selebihnya cuma gimmick.
Bukankan Tuhan Yesus juga sudah bilang kalau ini bagian terbaik? Diam di bawah kaki-Nya dan mendengarnya… Bukankan bagian ini tidak akan diambil daripadanya? Saya… merasa gagal sebagai seorang yang mengaku Kristen.
Firman Tuhan yang mengatakan “Carilah dulu kerajaan Tuhan maka semuanya akan ditambahkan” ini adalah benar, dan saya melihatnya pada istri saya.
Di sini saya menyadari segala kesibukan dan daya upaya saya sia-sia… ya sia-sia jika melupakan perkara-perkara yang di atas (Tuhan dan kehendakNya). Sibuk membangun reputasi di dunia tapi tidak semakin serupa dengan Kristus.
Saya bersyukur bahwa Tuhan memberikan seorang penolong yang luar biasa… khususnya karena ia menolong saya untuk selalu memikirkan perkara-perkara yang di atas.
I am beyond grateful to the Lord Jesus Christ to give me a wife like you Kartika Dewi Heristi.