Alien di Bumi: Lebih dari Sekadar Fiksi Ilmiah?

Diva Alfirman
Nov 5 · 7 min read

Apa yang terpikir oleh kalian ketika mendengar kata “Alien”? Mahluk aneh? Mahluk luar angkasa? Sebagian besar dari kalian pasti berpikir bahwa alien hanyalah mahluk fiktif belaka, yang diciptakan oleh para pembuat teori konspirasi. Sejujurnya aku tidak terlalu banyak mengetahui soal itu, meskipun memang terdengar menarik. Aku juga tidak akan membuang waktu untuk mengupas fakta, atau lebih tepatnya “teori”, mengenai keberadaan alien di Bumi. Tetapi satu hal yang pasti, aku tahu bahwa alien benar-benar ada, dan mereka berada di Bumi. Bagaimana bisa? Dari mana mereka berasal? Apakah kita sedang terancam menghadapi invasi besar-besaran layaknya film Independence Day atau Pacific Rim?

Inilah sosok Supergirl (diperankan oleh Melissa Benoist), si alien pahlawan pejuang kebenaran

Aku ingin sedikit bercerita mengenai salah satu acara tv favoritku saat ini, yaitu Supergirl. Buat kalian yang akrab dengan cerita komik, apalagi komik superheroes, pastinya sudah tidak begitu asing dengan tokoh satu ini. Ya, Supergirl merupakan saudara sepupu kandung dari si Manusia Besi, yaitu Superman. Oke, lebih lanjut mengenai Supergirl. Acara ini menceritakan sosok Supergirl, identitas rahasia dari seorang Kara Danvers, yang sehari-harinya bekerja sebagai wartawan di sebuah perusahaan media cetak ternama. Kara terus berusaha menyeimbangi kehidupannya sebagai seorang wartawan sekaligus sebagai superhero yang melawan berbagai macam penjahat, termasuk pula alien-alien jahat dengan seabrek kemampuan unik.

Di sisi lain, Kara juga harus berjuang mati-matian untuk membela hak kaum alien yang menjadi korban diskriminasi manusia. Ya, alien jahat memang banyak, tetapi tidak sedikit juga yang berhati baik dan hanya ingin hidup layaknya warga negara normal, berdasarkan cerita series tersebut. Sayangnya, tidak semua manusia memahami itu. Kebanyakan dari mereka menganggap bahwa alien, apapun itu bentuknya, adalah sesuatu yang harus dimusnahkan dari muka bumi. “Apa sih ini, mahluk asing, menuh-menuhin bumi aja. Pergi sana!” Kurang lebih seperti itulah pemikiran kebanyakan manusia yang digambarkan di series tersebut. Belum lagi usaha mereka untuk mengusir alien dengan segala cara, bahkan hingga membentuk suatu grup teroris radikalisme.

Lebih dari sekadar pembasmi kejahatan, Supergirl juga berjuang mati-matian membela hak asasi para alien yang berada di Bumi.

Lalu, apa esensinya menceritakan semua ini? Lagipula, cerita dan tokoh-tokoh yang ada di acara ini kan hanya fiktif belaka, buat apa dibahas jauh-jauh? Begini, memang sih tokoh-tokoh dan kejadian yang diceritakan merupakan fiksi ilmiah, tapi bukan berarti isu yang diangkat sepenuhnya dibuat-buat. Iya, disini aku berbicara soal alien. Menonton series Supergirl selama empat tahun kebelakang ini, ditambah dengan film-film fiksi ilmiah lainnya (ga bisa disebut satu-satu, kebanyakan hehe), membuatku menyadari bahwa alien itu benar-benar ada. Engga, aku bukan sedang mengkhayal atau semacamnya, tapi aku kini tahu bahwa keberadaan alien itu adalah hal yang nyata. Akan tetapi, mungkin kebanyakan dari kalian berpikir bahwa alien yang dimaksud berasal dari luar angkasa. Atau bahkan berasal dari dalam perut bumi layaknya monster-monster raksasa bernama kaijuu yang tampil pada film Pacific Rim. Bukan, alien yang aku maksud berasal dari dalam bumi sendiri, dan mereka, tergantung pada pendefinisian kalian, berpotensi berada sangat dekat dengan kalian saat ini.

Jadi, tidak perlu mencari jauh-jauh ke luar angkasa. Meskipun rasanya sudah banyak teori “konspirasi” yang berusaha membuktikan keberadaan alien, namun sepertinya hal tersebut hanya sebatas angan-angan saja. Alien tidak akan datang ke bumi mengendarai pesawat antariksa, ataupun datang dari dalam perut bumi. Alien sudah ada dari dulu. Mereka berada di tengah-tengah kita. Lah, kok bisa? Memangnya, alien seperti apa sih yang dimaksud? Balik lagi ke pendefinisian “alien” yang mendasar. Mungkin kebanyakan orang memiliki persepsi bahwa alien adalah mahluk luar angkasa. Mahluk-mahluk yang identik dengan kulit hijau, perawakan tubuh aneh, dan antena. Ya, pokoknya seperti itu. Namun sesungguhnya, definisi alien bisa dibilang lebih luas daripada itu. Alien adalah “mahluk asing”, lebih jauh lagi merupakan kata serapan dari kata bahasa Inggris “alien” yang berarti “asing”. Sesuatu yang berbeda dari normalnya. Istilah serupa lain yang dapat digunakan adalah “foreign”, “estranged”, “unusual”, yang semuanya berarti asing. Terdapat juga istilah “alienate” yang berarti mengasingkan atau menjauhkan, bisa juga disebut “ansos” alias anti-sosial di jaman yang berkembang ini. Alien adalah segala sesuatu yang bersifat asing dan tidak biasanya, dan umumnya berasal dari luar.

Seperti inikah alien yang kalian bayangkan? Atau lebih “seksi” lagi? Bagaimanapun, mayoritas alien yang digambarkan dalam cerita fiksi memiliki wujud yang tidak biasa, bahkan tidak jarang menyeramkan.

Lalu, seperti apa alien itu, yang katanya berasal dari dalam bumi? Cobalah lihat sekitar kalian. Apakah kalian menemukan suatu “keanehan”? Sesuatu, atau bahkan seseorang, yang berada pada tempat tidak seharusnya? Orang-orang dengan warna kulit, warna rambut, logat bicara, atau ekstrimnya bentuk fisik yang berbeda dari orang pada umumnya? Apa ada yang aneh dari mereka? Aneh, beda, bukan pada tempatnya. Tapi mereka tetap saja berada di situ, dengan berbagai macam alasan yang tidak dapat diketahui secara langsung. Apakah mereka dapat disebut alien?

Tergantung bagaimana kamu mendefinisikannya, alien sejak jaman dahulu kala sudah ada di Bumi. Bahkan hingga kini alien pun masih menjelajahi Bumi. Lucunya, mereka seringkali tidak menganggap bahwa mereka adalah alien. Siapa juga yang mau dicap alien, apalagi oleh diri mereka sendiri? Tapi sayangnya, orang-orang menganggap demikian. Padahal, orang-orang yang barusan melabeli “orang” tersebut sebagai alien, bisa saja dianggap alien di tempat lain. Bagaimana caranya? Mari kita ambil contoh kasus, yaitu aku sendiri. Aku adalah seorang mahasiswa rantau di Tanah Pasundan alias Bandung, Jawa Barat. Kebetulan, aku sendiri lahir dan besar di ibukota. Wajar saja ketika aku tiba di tempat ini, yang notabene didominasi orang-orang Sunda, aku merasa agak asing, bahkan di dalam lingkaran teman-teman baruku. Mereka apalagi, melihatku bicara dengan bahasa dan logat Betawi kental, dan berpikir “Naon sih budak Jakarta meni kieu mun ngomong teh, siga naon wae” (translate: apaan sih anak Jakarta gini amet kalo ngomong, kayak apaan aja). Mungkin ga se-lebay itu, dan untungnya dalam kasus aku tidak disertai dengan pengucilan dan pencemoohan secara ekstrim, tapi aku tetap dianggap aneh, alien bahkan. Dan aku tidak terlalu mempermasalahkan itu. Mengapa? Karena aku tahu bahwa jika mereka datang ke daerah asal aku, merekalah yang akan dianggap alien. Begitulah siklusnya. Belum lagi bicara soal teman-temanku yang berasal dari daerah lain, bahkan hingga luar pulau sekalipun. Orang-orang yang hampir tidak pernah aku temui sebelumnya. Orang-orang yang berbeda dariku. Menurut pendefinisian subjektifku, merekalah alien sesungguhnya.

Di jaman yang berkembang ini, seseorang yang dicap “berbeda” tidak jarang pula dicap sebagai “kriminal”. Tapi sesungguhnya, apa kesalahan mereka?

Inilah dunia yang kita huni sekarang. Ga perlu jauh-jauh nyari ke luar angkasa, tergantung sudut pandang dan pendefinisianmu, alien sudah menjelajahi Bumi sejak waktu yang tidak dapat ditentukan. Alien adalah mereka yang asing, mereka yang berbeda, baik manusia maupun bukan. Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan ketika para “alien” tersebut datang? Atau lebih simpelnya, apabila kita bertemu mereka? Mungkin film-film barat modern mencontohkan perlawanan terhadap alien secara besar-besaran, layaknya film Transformers, Alien, atau Avengers. Memang sih, mayoritas ras alien tersebut memiliki agenda jahat untuk menguasai Bumi dan ras manusia. Tapi, ada juga alien (fiktif) yang datang hanya dengan niat baik untuk hidup berdampingan dengan manusia, seperti pada cerita Supergirl yang telah aku sebutkan di awal. Harapan tinggal harapan, manusia pun mengabaikan niat tersebut dan menyerang para alien baik. Loh, padahal kan mereka ga ada niat jahat, lalu mengapa mereka diserang? Karena mereka alien. Mereka berbeda. Mereka bukan “kita”. Alasan sesimpel itu saja sudah cukup untuk melawan mereka. Tapi, begitulah manusia. Sekarang coba kita kembali ke dunia nyata. Apa yang terjadi ketika ada orang yang berbeda dari kita? Seringkali kenyataannya tidak berbeda jauh dari Supergirl. Orang-orang demikian, atau “alien”, jika kalian ingin menggunakan definisi tersebut, seringkali menjadi korban cemoohan atau bullying. Dan itu barulah contoh kecilnya yang seringkali luput dari perhatian masyarakat. Diskriminasi, rasisme, supremisme, kaum pembela agama radikal, sudah tidak asing lagi. Perbedaan ras, kelas sosial hingga agama, menjadi alasan-alasan sederhana tapi anehnya cukup kuat untuk mewujudkan diskriminasi bahkan berbagai macam bentuk agresi terhadap kaum “alien”. Perbedaan itu, apakah sudah terlalu membutakan kalian? Kalian yang menyebut diri kalian “manusia”? Padahal masih sesama manusia, tetapi mereka diperlakukan sebagaimana mahluk hijau berantena yang sering dijumpai di film-film fiksi ilmiah. Ngeri juga rasanya membayangkan apa yang terjadi jika alien yang sesungguhnya, yang benar-benar datang dari luar angkasa, datang ke bumi dan berhadapan dengan manusia.

Kurang lebih seperti itulah gambaran mengenai alien, yang selama ini ternyata sudah lama berada di bumi. Orang yang berbeda dari yang seharusnya, entah apa itu definisi “yang seharusnya” sekarang. Kita hidup diantara orang-orang yang beragam, berbeda ras, suku, agama, kebangsaan, bahkan beda pendukung 01 dan 02 pun boleh saja kau anggap aneh. Tidak perlu dipermasalahkan, seharusnya. Perbedaan itu akan selalu ada. Orang asing alias alien akan abadi dan selalu ditemukan. Kamu pun bisa jadi dianggap alien oleh orang lain, di tempat dan waktu tertentu. Terimalah apa yang membuat kamu beda, lalu terimalah apa yang membuat orang lain beda. Lebih baik lagi, rangkul mereka. Tergantung bagaimana kamu melihatnya, perbedaan dapat menjadikan suatu hal lebih indah ataupun menghancurkannya. Bukankah sebuah pelangi lebih indah jika terdiri dari berbagai macam warna? Bukankah suatu kelompok masyarakat akan lebih maju dengan orang-orang yang berbeda kebudayaan, sehingga membuka peluang lebih besar untuk belajar dan saling mengajar? Bukankah negara ini adalah Bhineka Tunggal Ika, yang tetap bersatu terlepas dari segala perbedaannya? Jangan sampai perbedaan tersebut malah memecah-belah kita. Belajarlah dari yang kalian sebut alien itu. Rangkul mereka, jadilah teman mereka. Karena pada ujungnya, alien, tak peduli mereka berasal dari mana, adalah manusia juga.

Berbeda itu pasti, dibedakan itu pilihan

Diva Alfirman

Written by

My thoughts, my experiences, my life, my stories

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade