Bandung yang Merindu

Dizky Arantika
Sep 2, 2018 · 3 min read

4.35 PM

Sore ini Bandung mengisahkan ceritanya.

Yang sedang bercumbu dengan hujan yang belakangan ini hilang entah kemana.

Sebatang rokok Aku bakar, hangatkan badan ditengah nuansa sore langka ini.

Syahdu adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan semua. Tidak akan Aku lewatkan tiap rintikkannya.


Besok kuliahku mulai pukul satu petang. Aku tersadar minggu-ku usai beberapa jam lagi. Aku hisap rokok dalam-dalam. Akankah minggu-mingguku selalu seperti ini?.

Andai Bandung punya rasa, aku yakin ia akan iba padaku. Monoton terpenjara oleh waktu. Terjepit kaderisasi tiap minggu.

Ahh sudahlah nanti juga usai.


Aku hisap rokokku, aku buang abu yang telah menunggu. Hujan masih merindu pada kota tempat tinggalku ini. Biarlah, jarang-jarang mereka bertemu.

Bandung memang tempat yang romantis. Belanda pun tau betapa indahnya kota ini.

Cukup disini saja, aku sudah bisa merasa betapa banyak anugerah yang telah diberikan-Nya.

Meski begitu, Bandung tetap tidak sempurna. Ada ruang dihatiku yang belum terisi.

Aku hisap rokok dalam-dalam. Badanku hangat dibuatnya.


Sore ini sempurna jika ada hadirmu. Tempat berbagi cerita. Tempat bersuka cita.

Mungkin kamu sibuk menyandang predikat mahasiswa baru. Entahlah aku tak tau.

Andai saja kamu disini. Akan aku ajak kamu melihat keindahan kota. Akan aku ceritakan ditiap sudutnya, kisah-kisahku yang pernah aku lalui.

Aku menjadi narator dan kamu jadi penonton.

Kamu yang mengerti jalan pikiran ku. Terlebih mengerti perasaan ku. Ohh betapa aku sedang merindu.

Aku hisap lagi dan kali ini manisnya mulai hilang. Rokok ditanganku semakin terbakar habis.


Pikiranku semakir liar.

Aku banyangkan dirimu yang cantik. Rambut yang hitam lurus tergerai. Wanita yang dewasa dan sederhana. Terbalut sweater hitam yang terlalu besar untuk badanmu.

Iya hitam, warna kesukaanmu.

Kita bergandengan, tak pernah lepas. Duduk ditaman Braga, melihat kendaraan berlalu-lalang dengan sibuknya. Ada anak kecil yang berlarian kesana-kemari, dipantau ayah ibunya dibelakang sambil menikmati secangkir kopi.

Kita bercengkrama tentang cuaca, tentang kuliah, tentang kehidupan, tentang buku yang baru kamu baca. Apapun yang terlintas dibenak kita.

Kita bagaikan pasangan yang telah bertahun-tahun tidak jumpa.

Hahaha betapa naifnya Aku bilang ‘bagaikan’, adakah kata perpisahan yang pernah terucap? Aku rasa tidak. Bagaimana dengan mu?.


Rokokku sudah hampir habis.

Aku hisap lagi, rasa manisnya telah hilang tetapi anganku tetap berjalan.

Aku rasakan dirimu dalam tubuhku, seperti waktu itu kamu memelukku.

Erat.

Tak mau sedetikpun kamu kendorkan tangan itu.

“Diz, kamu tuh tulang semua yaa?”,

candamu. Hahaha kamu memang selalu berhasil buat aku tertawa.


Aku rebahkan tanganku yang sedang menjepit rokok di jari-jemariku ini.

Angan itu tetap berjalan.

1 detik.


5 detik.


10 detik.


30 detik.


semenit.


AHHH PANASS.

Refleks, aku buang rokokku. Basah hingga mati baranya. Asap keluar diujung puntung.

Aku tersadar dari anganku.

Dihadapanku hujan masih turun membasahi Bandung. Hujan terus tanpa lelah bercumbu. Tanpa henti membayar rindu. Ia tau Bandung merindukan hadirnya.

Andai aku bisa sepertimu wahai Bandung. Ohh betapa aku sedang merindu.


Kemanakah dirimu?.

Tempatku merasakan nyaman.

Tempatku kembali dari hidupku yang monoton.

Ahh mungkin kamu keluar angkasa. Ke tempat bintang seharusnya berada.

Pandangku tertuju pada rokok yang mati diguyur hujan. Kini telah basah kuyub. Tidak jelas bentuknya.

Sebatang rokok bisa membuatku berfantasi ria tanpa gangguan.

3 detik Aku terdiam.

Satu.


Dua.


Tiga.


Bagaimana dengan satu batang lagi?.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade