Jejak Pikir Tan Malaka

image source: https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/d3/94/41/d394415cb465d5854d0d69d25d031fa7.jpg

Setelah berbulan-bulan mogok membaca, atau membaca tetapi tak pernah bisa selesai, akhirnya saya berhasil menyelesaikan satu buku berjudul Misteri Kematian Tan Malaka, tulisan Paharizal & Ismantoro Dwi Yuwono. Beberapa hari sebelumnya sosok Tan Malaka sempat dibahas dalam acara Mata Najwa, saat menonton itu saya jadi ingat bahwa saya punya buku tentangnya yang belum sempat saya khatamkan.

Dalam buku ini saya agak bingung bagaimana sebenarnya Tan Malaka dengan Nilai-Nilai yang ia percayai itu. Sebelum saya membaca buku ini saya hanya tahu bahwa salah satu tokoh terkenal yang beraliran marxis adalah Soekarno, dengan pertimbangan soal ia yang kerap tak mau diajak berkompromi dengan pihak asing terutama oleh kaum Kapitalis. Tetapi buku ini semakin mengacak-acak ketidaktahuan saya mengenai perjalanan Bangsa ini.

Dijelaskan bahwa Tan adalah seorang Komunis yang menginginkan kemerdekaan 100%. Iya 100% (Saya sampai semakin bingung bagaimana konsep merdeka 100% yang dicita-citakan Tan ini, sih?). Tinggalkan dulu konsep ini, walaupun ia meyakini komunisme, tapi paham yang ia yakini menurut saya hanya sebuah keterpaksaan untuk masuk ke dalam salah satu sayap karena tidak mungkin ia dapat bergerak sendiri jika hendak membawa bangsa ini merdeka. Karena saat itu menurut saya yang paling dekat dengan cita-cita Tan adalah paham komunis, maka masuklah ia.

Mengapa saya bilang Tan sebetulnya tidak komunis-komunis amat, pada tahun 1921 Tan berkenalan dengan para pengurus Sarekat Islam (SI) dan kemudian menjadi pengajar untuk sekolah SI yang akan didirikan. Di manapun Tan berada ia tak pernah lupa membawa dan membagikan kepercayaannya soal Indonesia yang harus merdeka 100%, SI saat itu tertarik dengan pemikiran-pemikiran Tan, saya duga karena Tan tidak mentah-mentah membagikan ideologi komunisnya terhadap SI, tetapi ia memberikan konsepsi-konsepsi bagaimana harus bersikap jika negara ingin merdeka secara paripurna, jadi ia tak terfokus hanya kepada paham sehingga melupakan esensi dari perjuangan, ia berbeda dengan pemimpin hari-hari ini, ia tidak membabi buta membela paham dan pihak yang ada di belakangnya hingga lupa kepada tujuan awal perjuangannya.

Bagi saya, Tan adalah seorang komunis yang bisa berkompromi, tetapi tidak oportunis. Hal ini dibuktikan pada saat pemberontakan PKI tahun 1948, Tan adalah salah satu tokoh yang sangat menentang pemberontakan tersebut, menurutnya pemberontakan saat itu belum cukup kuat mendapat banyak dukungan dari rakyat secara luas. Benar saja prediksi Tan, pemberontakan berakhir dengan kegagalan.

Mundur ke waktu di mana perubahan situasi politik mempunyai dinamika yang sangat cepat, yakni detik-detik sebelum kemerdekaan. Saat itu karena kekalahan Jepang dengan pemboman kota Hirosima dan Nagasaki, terdapat dua kubu; angkatan muda yang menginginkan Indonesia memproklamirkannya sendiri dan angkatan tua yang berpendapat sebaiknya kemerdekaan diproklamirkan sebagai hasil pemberian Jepang. Singkatnya saat itu angkatan mudalah yang memenangkan perdebatan (walaupun dengan insiden penculikan). Lalu di mana Tan saat itu? Karena Tan adalah sosok yang sangat dicari Jepang, jepang menganggap Tan adalah anacaman serius, bagi Jepang dalam tujuannya menguasai indonesia, maka sebelum insiden Hirosima dan Nagasaki sampai saat kemerdekaan Tan masih bersembunyi dari Jepang.

Tan akhirnya bisa “keluar” kembali setelah dirasa situasi cukup aman, Ia saat itu langsung menuju Soekarno dan Hatta melalui Sayuti Melik. Saat bertemu Soekarno, gilanya si Tan, ia mendatangi Soekarno guna untuk menguji apakah Soekarno sependapat dengan pemikirannya atau tidak. Disinilah titik kebingungan saya dimulai, saat itu Tan merasa bahwa Soekarno,Hatta dan Sjahrir itu lembek. Hal itu bermula dari keinginan Tan agar Soekarno (walaupun Indonesia sudah merdeka) tetap harus membersihkan Administrasi dan militernya dari tangan Jepang, Karena Tan merasa saat itu genggaman administrasi dan militer masih ada di tangan Jepang. Tetapi Soekarno menolak. Intinya Tan mulai berseberangan pendapat dengan Soekarno, Hatta dan Sjahrir. Tan menganggap mereka bertiga terperangkap dalam jebakan permainan demokrasi borjuis-kapitalis karena membuka ruang diplomasi yang menurut Tan hanya membahayakan negara saat itu. Bingung kan dengan tulisan saya? SAMA! Saya kan sudah bilang saya jadi bingung, sebenarnya Soekarno tidak komunis nih? tapi bingung juga apakah betul yang diklaim Tan bahwa ketiganya oportunis? Ah, masa, sih?

Akhirnya, pihak asing tetap bisa mengacak-acak kita, kok, mereka berhasil dengan politik adu dombanya untuk kesekian kali. Tan dieksekusi karena melawan rezim berkuasa saat itu, dan sampai sekarang Tan Tan lainnya masih sering bermunculan. Sekian!

Tanggerang, 5 Agustus 2017

Heni Indriana

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.