Lelucon dalam ‘Bayangan’ Kita Terhadap Nasionalisme

image source: https://images.fineartamerica.com/images-medium-large-5/whos-the-fool-susanne-clark.jpg

Baru-baru ini saya menghadiri suatu acara promosi doktor seorang tokoh politik di Sulawesi Tengah. Tak perlulah saya jelaskan bagaimana latar belakang pertemuan kami, tetapi cukup diketahui bahwa pada pertemuan pertama kami, saya merasa dia orang yang baik, entah itu karena dia pada dasarnya memiliki sifat yang demikian atau dikarenakan tuntutan profesinya sebagai politisi. Menilai dari caranya menatap orang dan mengajak berbicara meskipun akhirnya tahu saya hanyalah seorang mahasiswa sarjana strata-1 yang tidak begitu penting, saya lebih prefer ke dugaan pertama, bahwa dia memang orang yang baik.

Bukan, kah, tidak adil jika selalu menilai pribadi seseorang hanya dari latar belakang pekerjaannya saja? Ada penegak hukum yang gampang disuap bukan berarti semua penegak hukum itu busuk. Pelacur juga demikian, adalah sungguh naif mengatakan bahwa semua pelacur –baik itu laki maupun perempuan menikmati sentuhan dan lendir orang lain di tubuhnya hanya demi CUAN. Apalagi politisi. Politisi, sebanyak apapun di antara mereka selalu bicara atas kepentingan yang bukan kepentingan rakyat, mereka adalah salah satu simbol dari manifestasi kualitas umat manusia sebagai makhluk yang tidak dapat lepas dari sifat oportunis.

Berkaitan dengan politisi, saya baru saja selesai membaca buku Ben Anderson: Imagined Community. Tentu buku ini tidak membahas politisi, melainkan berisi suatu penelusuran Ben terhadap akar-akar nasionalisme. Poin utamanya adalah bagiamana nasionalisme mengada secara historis, bagaimana nasionalisme dimaknai secara terus berubah-ubah oleh siapapun yang hidup ber-nation, dan atas pemaknaan itu, kenapa kita seringkali tergugah secara emosional jika berbicara soal nasionalisme.

Pada bagian awal, Ben menyebut beberapa nama yang cukup konsen dengan nasionalisme baik sebagai fenomena, konsep, maupun sebagai anomali dari marxisme. Rata-rata dari mereka yang namanya disebut Ben itu mengatakan dengan nada sinis dan pesimis bahwa nasionalisme tak lebih dari suatu kebohongan yang diciptakan manusia dan merupakan suatu penyakit dalam sejarah kemanusiaan, atau juga kegagalan dalam dialektika marxis yang universal.

Tesis yang ditawarkan oleh Ben adalah bahwa pemicu utama nasionalisme adalah kapitalisme cetak yang merombak budaya lama manusia soal identifikasi diri mereka sebagai suatu kesatuan. Aspek-aspek kebudayaan pra-modern yang dipengaruhi secara langsung oleh kapitalisme cetak, menurut Ben, ialah religiusitas, kepercayaan kosmologis terhadap daulat raja atas titah Tuhan, dan persepsi manusia tentang ‘waktu’.

Sebelum nasionalisme muncul, manusia percaya bahwa hanya agamanyalah yang paling benar dan untuk itu seluruh umat manusia akan berperang demi memasukkan ‘orang kafir’ ke dalam agama mereka. Pembayangan terhadap satu dunia di mana semua manusia memiliki satu keyakinan yang seragam soal konsepsi tuhan, surga, dan neraka adalah inti dari kebudayaan religi itu. Akhirnya, manusia pada masa itu seringkali mempersepsi bahwa di dunia ini tidak ada yang lain selain kaum atau kelompoknya sendiri. Setelahnya, agar keyakinan mereka itu dapat termanifestasi dalam dunia nyata, diangkatlah sultan, raja, atau pendeta dan ulama sebagai ‘yang berwenang’ bicara atas nama tuhan yang mereka yakini. Fenomena menjadikan menuhankan manusia dan memperbudak diri sendiri akan sangat terasa jika kita memikirkan fenomena ‘teriak-perang atas nama golongan’ yang ternyata sudah menjadi satu ciri dari sejarah kemanusiaan umat manusia.

Kemudian persepsi tentang waktu pasca kapitalisme cetak juga berubah. Jika sebelumnya, melalui keyakinan-keyakinan religiusnya manusia meyakini bahwa dunia sebentar lagi kiamat dan orang-orang mesti segera memeluk agama mereka agar selamat di akhirat kelak, maka pasca kapitalisme cetak, munculnya koran dan berubahnya alur dalam sastra-sastra pada masa itu mengubah cara berpikir umat manusia. kita mulai memikirkan bahwa dunia belum akan berakhir, masih ada harapan untuk terus bertahan dan melanjutkan kehidupan spesies ini. Lalu bagaimana kapitalisme cetak mempengaruhi persepsi tentang waktu? Yaitu dengan penggunaan tanggal dan bulan di setiap terbitannya –khususnya koran.

Akan tetapi, komponen paling penting yang terkandung sebagai kesaktian kapitalisme cetak adalah ‘bahasa’ yang berwujud dalam sebentuk simbol atau ‘ideogram’. Sejak lahirnya kapitalisme cetak, penggunaan Bahasa Latin, Arab, Tionghoa, sebagai bahasa ‘tuhan’ mulai tergeser dengan digunakannya bahasa ibu setiap bangsa. Itulah titik awal dekonstruksi keyakinan lama, ketika bibel diterjemahkan dan tidak lagi menggunakan bahasa latin, ketika para filsuf dan sastrawan mulai menulis dengan bahasa ibu mereka. Akibatnya, orang-orang mulai memikirkan bahwa sesungguhnya begitu banyak jenis kebudayaan yang dimiliki manusia.

Pada permulaan abad ke 20, Indonesia pun mengalami gejala yang sama, ketika dulu mayoritas kesultanan menggunakan aksara jawi yang sangat arab perlahan digantikan dengan huruf roma dan bahasa pergaulan, sastra, bahkan dalam urusan pemerintahan adalah Bahasa Melayu, perlahan-lahan kita mulai mampu membayangkan suatu identitas kebangsaan yang hidup dengan berbagai kemajemukan di dalamnya. Kemajemukan yang bukan saja bicara soal betapa romantisnya ‘bhineka’, tetapi kemajemukan dengan persoalan sosial yang jauh lebih kompleks daripada soal surga dan neraka dalam kitab yang dulu kita anggap suci.

Nasionalisme atau yang kata Ben merupakan perasaan kesetiakawanan itu kemudian lahir dari interaksi faktor-faktor penting yang telah disebutkan di atas, lalu secara metodologi perasaan atau pembayangan kita terhadap suatu komunitas yang kini kita sebut ‘Indonesia’ ini dipertegas melalui kebijakan-kebijakan seperti cacah jiwa, pembuatan peta, dan sifat-sifat politis yang dimiliki oleh permuseuman.

Ben menjelaskan bagaimana cacah jiwa, yang meskipun lahir dari rahim rasisme, menciptakan identifikasi nyata tentang siapa yang berada dalam wilayah siapa sehingga mesti tunduk pada siapa. Lalu penggunaan peta untuk tujuan geopolitik dicontohkan melalui bagaimana Indonesia memasukkan Irian Barat ke wilayahnya sembari memutus hubungannya secara langsung dengan bagian timur Pulau Guinea melalui piranti berupa garis khayal di Meridian 141 derajat. Dengan nyinyir, Ben menuliskan bahwa Sukarno, setelah empat puluh tahun berpidato dengan isi tuntutan-tuntutan agar ‘Irian Barat dikembalikan’, baru menginjakkan kaki di sana pada usianya yang ke-62, dan pasti tidak begitu kenal dengan kebudayaan suku Dani, Asmat, dan Badui, tetapi bicara jauh soal ke-Indonesia-an yang tak dapat dipungkiri –hingga hari ini mengenal Irian Barat sebagai negroid, koteka, dan simbol-simbol yang juga melalui lembaga negara Indonesia kita katakan sebagai lambang keterbelakangan. Kasus Timor-timor juga disinggung, bahwa ketidakhadiran mereka dalam peta kolonial Belanda adalah sebab Indonesia mampu dengan mudah melepaskan mereka dari pangkuan Republik dengan bengisnya pembantaian dan ‘meludahi’ mereka dengan bilang bahwa secara ekonomi Timor-Timor tidak mampu memberi maslahat. Betul-betul santun negara ini!

Sementara museum, saya tidak bisa menuliskan lebih panjang di sini sebab penjelasan Ben pada bagian museum perlu didiskusikan lebih jauh. Saya pribadi sangat menyukai bagian ini, bagaimana artefak-artefak arkeologis digunakan untuk membentuk lagi satu identitas kebangsaan (atau mungkin perlu jika menyebutkan kenegaraan) yang sesungguhnya pada masa jaya artefak itu tidak dikenal. Akan tetapi, saya merasa Ben, secara eksplisit bicara tentang bagaimana negara menggunakan simbol-simbol dari masa silam untuk membentuk dirinya sekarang.

Keterkatian antara cacah jiwa, peta, dan museum dalam membentuk identitas negara dituliskan seperti ini,

“saling berkait, maka cacah jiwa, peta, dan museum menerangi gaya pikir negara kolonial, di masa senjanya, tentang wilayah kekuasaanya. ‘Jarum tenun’ gaya pikir ini adalah keseluruhan wakyak menggolong-golongkan tanpa pandang bulu, bisa diterapkan dengan keluwesan tiada tara terhadap segala hal di bawah kendali negara, baik yang nyata maupun yang hanya diimpikan saja: orang-orang, kawasan-kawasan, agama-agama, bahasa-bahasa, produk-produk, monumen-monumen, dan seterusnya (hlm. 281–282).”

Pada akhirnya, saya merasa kajian yang dilakukan Ben ini sangat bermanfaat bagi siapa saja yang berminat pada studi pascakolonial. Hal ini disebabkan juga karena salah satu pendekatan Ben dalam memahami lahirnya nasionalisme lewat ‘pembayangan’ adalah kritik sastra. Kentara sekali bahwa Ben tidak hanya membaca sesuatu yang sesuai bidang ilmunya saja. Sindiran-sindirannya pecek dan lugas, hingga caranya menggunakan catatan kaki membuat catatan kaki sungguh terasa manfaatnya dan sayang untuk dilewatkan.


Lalu apa hubungannya dengan promosi doktor yang saya ceritakan di awal tulisan ini? tentu saja nyaris tidak ada.

Satu kesimpulan paling hakiki yang saya dapatkan setelah membaca karya Ben Anderson ini adalah bahwa nasionalisme adalah hasil dari pembayangan kita terhadap sesuatu. Kita mengasumsikan bahwa di bumi Indonesia ini hidup orang-orang yang sama dengan kita, yang membayangkan hal-hal sama dengan kita tetapi secara kocak dan acak, tidak pernah kita temui. Siapa mereka? bagaimana mereka hidup? Semelarat apa mereka? siapa peduli, yang penting mereka itu bagian dari Ibu Pertiwi, negara kaya dan makmur ini.

Barangkali tak ada yang lebih baik dari kalimat Ben Anderson dalam mewakili tesis dalam karyanya ini selain dari kalimat berikut (yang juga dikutip Daniel Dhakidae pada bagian pengantar),

“Akhirnya bangsa dibayangkan sebagai komunitas, sebab, tak peduli akan ketidakadilan yang ada dan penhisapan yang mungkin tak terhapuskan dalam setiap bangsa, bangsa itu sendiri selalu dipahami sebagai kesetiakawanan yang masuk mendalam dan melebar-mendatar. Pada akhirnya, selama dua abad terakhir, rasa persaudaraan inilah yang memungkinkan begitu banyak orang, jutaan jumlahnya, bersedia, jangankan melenyapkan nyawa orang lain merenggut nyawa sendiripun rela demi pembayangan yang terbatas itu (hlm. 6–7).”

Membaca kalimat Ben ini, saya jadi menimbang-nimbang apa yang dimaksudkan Nairn bahwa nasionalisme itu patologi dalam sejarah, atau juga yang Dee Lestari katakan melalui salah satu tokohnya pada serial novel Supernova kalau Nasionalisme itu goblok.

Apa di? Kalau memang nasionalisme itu merupakan rasa setiakawan yang terbentuk dari abstraksi kita terhadap segala macam piranti yang ditawarkan kita melalui kekuatan kapitalisme cetak dan (kini) teknologi informasi, lalu kemudian rela mengorbankan segalanya demi semua yang kita ‘bayangkan’ itu, bukankah itu kedengarannya konyol? Maksud saya, kita yang konyol.

Mengapa saya katakan kita konyol, sebab ‘pembayangan’ yang kita lakukan itu terkadang buta akan realitas. Mesin-mesin negara (meminjam istilah Ben) belakangan ini bekerja lucu sekali. Paling heboh adalah gelagat DPR-RI yang secara kekanak-kanakkan dan entah mendapat motivasi darimana membentuk Pansus Hak Angket untuk KPK, panjang lebar kalau masalah ini dijelaskan, lagipula saya juga tidak begitu mengerti tentang sistematikanya, mending kalau mau tahu silahkan baca tulisan-tulisan Teddy Gusnaidi di Twitter. Tetapi, melihat dari perdebatan Tsamara Amany dengan Fahri Hamzah, jelas sekali bahwa angket ini hanyalah akal-akalan DPR-RI untuk melindungi anggota-anggotanya yang terlibat dalam kasus-kasus korupsi raksasa, apalagi pada momen yang nyaris bersamaan KPK telah menyebut beberapa nama yang diduga terlibat skandal korupsi akbar e-KTP, yang belakangan nama Setya Novanto, ketua dari lembaga yang mewakili suara rakyat itu akhirnya ditetapkan sebagai tersangka, belum lagi tak beberapa lama sesudahnya Novel Baswedan –penyidik senior KPK yang menangani kasus ini disiram air keras pada bagian matanya.

Konyolnya di mana? Konyolnya, ya, di situ! DPR-RI itu adalah lembaga yang mewakili suara kita, dan secara tidak langsung, menggunakan logika ‘pembayangan’ yang mirip dengan Ben, kita membayangkan bahwa DPR-RI adalah pengikat ‘kesetiakawanan’ dan komunalitas ber-Indonesia. Dan ketika mereka sibuk membela diri dengan main-mainkan hukum tata negara dan sebagainya lewat seorang profesor hukum, orang-orang dengan pikiran besok mo makan apa kek kita ini tiada hentinya membayangkan DPR-RI sebagai ‘wakil’ dari suara kita. Seolah-seolah semua orang di negara ini memang sepakat bahwa KPK mesti ‘dilawan’ dengan hak angket agar hukum berjalan sebagaimana mestinya. Ngek!

Para politisi, tidak bisa terlalu kita harapkan memiliki idealisme dan memperjuangkan apa yang betul-betul menjadi kebutuhan kita. Uang negara bagi mereka banyak, dan terdapat jutaan kemungkinan dan cara baik halal maupun tidak untuk dikelola. Ada karir politik, keluarga yang mesti diberi makan, dan keberlangsungan hidup yang mesti dipertahankan. Ketika kita ‘membayangkan’ bahwa mereka akan bicara dan menyusun anggaran untuk digunakan pada sesuatu yang berfaedah bagi rakyat Indonesia, semua yang terlibat dalam korupsi di lembaga apapun, khususnya DPR-RI sesungguhnya sedang mengencingi kepala warga negara atas ‘pembayangan-pembayangan’ nasionalitas itu! lelucon-lelucon konyol, memang.

Makassar, 5 Agustus 2017

Erik

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.