Melepas Bra Tidak Menjadikanmu Seorang Feminis

sumber gambar: pinterest

Beberapa waktu lalu, saya menjadi saksi bisu dalam perbincangan hangat dua mahasiswi semester akhir. Mereka membahas tentang kerisihan terhadap seorang temannya yang dikenal karena kemalasannya menggunakan bra. Kedua-duanya berasumsi bahwa itu merupakan unsur kesengajaan untuk menarik perhatian lawan jenis. Namun yang membuat saya tertegun cukup lama, ketika salah seorang dari mereka menganggap itu sebuah tindakan yang wajar. “…toh sekarang juga lagi nge-trend ide-ide feminis” Katanya.

Pernyataan itu membuat saya berasumsi bahwa masih banyak yang mengidentikkan feminisme dengan perempuan yang menolak menggunakan bra atau bahkan lebih banal lagi feminisme dianggap hanyalah trend semata. Jika benar semua orang berpikir demikian, maka mereka telah berada di jalan yang sesat.

Permasalahan menggunakan bra bukanlah sebuah tindakan diskriminatif tapi malah membantu kaum perempuan untuk melindungi dirinya sendiri, misalnya dari udara dingin atau panas atau bahkan dari nafsu-nafsu setan. Jadi sudah jelas menggunakan bra atau tidak, bukan merupakan agenda feminisme. Toh apa juga yang krusial dari menggunakan bra?

Dari permasalahan di atas dapat disimpulkan bahwa kesalahpahamannya terletak pada ide feminisme yang hanya berkutat pada permasalahan individu dan hak atas tubuh, seperti antara nyaman atau tidak nyaman, dan suka atau tidak suka. Sehingga solusi yang diberikan adalah pilihan individu terhadap tubuhnya. Lalu, apa yang salah dengan pilihan individu?

Pertama, pilihan individu yang terletak atas kehendak tubuh memang dibutuhkan karena permasalahan tubuh cukup krusial. Tubuh perempuan dianggap sebagai properti bagi laki-laki, objek kekerasan dan alat pemuas. Anggapan-anggapan tersebut membuat tubuh perempuan menjadi sasaran empuk pelaku pemerkosa dan kekerasan fisik lainnya. Sehingga persoalan tubuh memang perlu diperhitungkan. Tapi jika berbicara tentang jargon Body Autonomy atau “tubuhku adalah tubuhku” dan hak melakukan segalanya termasuk mempublikasikan bentuk tubuh seenak perutnya adalah sebuah solusi yang lahir tanpa melihat sebab musabab pemerkosaan terjadi atau tentang kaitannya dengan relasi kekuasaan atau hubungannya dengan patriarki.

Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah apakah itu menghentikan kasus pemerkosaan? dan apakah persoalan kebebasan untuk tubuhnya memang merupakan pilihan yang ia buat sendiri atau pengaruh dari objek diluar tubuhnya? Contohnya berjalan dikerumunan tanpa menggunakan bra memang adalah pilihan dan hak atas tubuhnya, namun jangan sampai benar gossip dua mahasiswi di atas bahwa itu hanya modus untuk menarik perhatian lawan jenis. Hal tersebut tidak lain dan tidak bukan, telah mengamini phallusentris bahwa penis diagungkan sebagai pusat seksualitas. Pilihan individu juga dapat dipengaruhi oleh selera pasar yang menyesatkan kaum perempuan. Misalnya tentang citra perempuan yang dikonstruksi oleh pengiklanan produk-produk kecantikan atau acara fenomenal seperti pemilihan putri Indonesia. Jadi dari persoalan diatas, hak tubuh bukanlah solusi.

Kedua, Permasalahan yang berkutat dalam ranah pilihan individu sudah melenceng dari konteks historis feminisme yang menentang nilai-nilai yang diskriminatif. Faktanya, feminisme lahir dari jeritan beribu-ribu perempuan yang memperjuangkan hak suara, hak asuh dan hak cuti, yang jelas-jelas bukan permasalahan individu tapi permasalahan tatanan sistem dan struktur sosial. Mereka menuduh sistem patriaki yang mengakar dan membuahkan penindasan bagi kaum perempuan. Setuju dengan tuduhan itu, Sylvia Walby mendefiniskan patriarki sebagai sistem dimana laki-laki mendominasi dan menindas perempuan. Sistem ini tidak serta merta hadir dan kemudian mengakar. Ada proses dialektis yang membuatnya menjadi raksasa. Engels dalam The Origin of The Family, Private Property and The State, menyimpulkan tentang keberadaan patriarki yang lahir sejak berlakunya hak milik pribadi, dimana masyarakat komune primitive telah berakhir. Berlakunya hak milik yang diserahkan secara sah kepada sang ayah akhirnya didukung oleh tradisi, adat, dan sastra yang akhirnya mampu mengakar hingga membuahkan diskriminasi terhadap perempuan.

Nah, yang menjadi pertanyaannya lagi adalah apakah dengan menitikberatkan terhadap pilihan individu akan menghapus sistem ini? Tentu tidak. Patriarki yang terbentuk secara sistematis telah demikian mengakar. Hingga solusi terhadap hak atas tubuh atau pilihan individu lainnya tidak akan mencukupi. Malah pilihan tersebut hanya menjadi titik temu antara kapitalisme dan patriarki yang semakin membuatnya sulit untuk diberantas. Maka, menghancurkan patriarki tidak semudah melepas bra saja, tapi perlu kita adakan analisis mendalam terhadap struktur-struktur sosial, ekonomi dan politik yang kemudian menjadi basis dalam menentukan solusinya.

Jika pilihan individu masih menjadi pembahasan utama dalam isu feminisme, maka sekali lagi mahasiswi-mahasiswi itu benar bahwa feminisme hanyalah sebuah trend semata yang sewaktu-waktu larut dalam hegemoni kapitalisme dan tunduk kepada nilai patriarki.

Makassar, 9 September 2017

Uul