Negara dan yang Ena-Ena

Djamak
Djamak
Aug 27, 2017 · 5 min read
image source: https://www.google.co.id/search?rlz=1C1GGRV_enID756ID756&biw=1024&bih=445&tbm=isch&sa=1&q=politics+art&oq=politics+art&gs_l=psy-ab.3..0i67k1l3j0.1135.3820.0.4091.12.3.0.0.0.0.1328.2118.6-1j1.2.0....0...1.1.64.psy-ab..10.2.2092.cRfz_DO_Iq8#imgrc=GiVJ26jMBTz_DM:

“Tolong dong, jangan kaitkan lobang memek sama moralitas. Berlaku juga buat pria! Cewek, kok, cuma dilihat dari lobang memek!”

Demikian kata seorang saudara perempuan saya yang paling kece ketika sedang mendiskusikan kisah cintanya yang rumit tapi tidak merana. Rasa-rasanya mau sebut nama, tapi saya pikir saudara saya itu bakal kurang setuju kalau-kalau bahan pembicaraan yang semestinya hanya diketahui tiga orang di dunia ini sampai bocor ke publik dan namanya sampai disebut-sebut. Jadi, ya, sudah, clue ini seharusnya sudah cukup.

Kalimat di atas sesungguhnya cukup provokatif, saya sampai dibuat berpikir panjang soal persoalan-persoalan yang terkandung dalam kalimat tersebut. lobang memeklah, perempuanlah, laki-lakilah, moralitaslah. Semua kata-kata itu, kok, secara misterius mengingatkan saya pada persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa ini. maklum, saya memang senasionalis itu.

Jika dalam filsafat mereka, Hegel dan Marx, mengatakan bahwa sejarah dunia itu digerakkan oleh kekuatan dialektik yang berporos pada kekuatan ‘ide’ dan pertentangan kelas berdasarkan kepentingan-kepentingan ekonomi, jika Agustinus mengatakan bahwa sejarah dunia akan berakhir dengan terciptanya Kerajaan Tuhan, maka jagat netizen Indonesia menyatakan bahwa seluruh persoalan-persoalan pelik di negara ini dikarenakan kurangnya kontrol diri para pemimpin terhadap lobang memek.

Sidang pembaca pasti tidak asing lagi dengan seorang pimpinan preman yang menyatakan dirinya sebagai imam besar, tak perlu sebut nama, nanti Djamak kena kasus ujaran kebencian. Nah, sang imam besar itu, menurut sebagian orang memang memiliki mulut yang lebih tidak bisa dikendalikan daripada lawan-yang-coba-ia-jatuhkan-dan-berhasil-kalah-karena-dituduh-menistakan-agama. Tercatat beberapa kasus ujaran kebencian, pada Sukarno, pada adat orang Sunda, pada Gusdur, bahkan pada Pancasila. Tapi ternyata semua kasus itu masih berani ia hadapi hingga kemudian terpelatuk oleh kasus lobang memek: chat sex dengan sohibnya istri. Tiba-tiba langsung otw luar negeri, masuk DPO Polri, katanya umroh, tapi kalau memang umroh kenapa bisa sampai berbulan-bulan, ya? Entah.

Nah, dari langkah strategisnya untuk umroh pada waktu yang tepat itu saya menduga sang imam memang merasakan bahwa pukulan dari skandal chat sex dengan sohibnya istri itu benar-benar mampu menjatuhkan pamornya. Tapi ia tidak salah, segera ke luar negeri memang pilihan yang tepat, sebab bagi sebagian besar warga negara ini (termasuk lembaga-lembaga negaranya) pelecehan terhadap Pancasila itu tidak mempunyai kadar viral yang lebih unch-unch untuk menjatuhkan seorang figur sebagaimana kasus lobang memek. Saya bukan simpatisan kelompok imam besar, saya juga tidak setuju dengan cara-cara mereka, tetapi menjatuhkan sang pemimpin dengan modal kasus lobang memek adalah salah satu tanda bahwa negara ini lebih memusingkan persoalan selengkangan dua insan yang sedang memasuki puber kedua daripada persoalan-persoalan negara yang langsung menyangkut negara itu sendiri, seperti misalnya ketika sang imam bicara soal Pancasila dan salah satu mantan presiden Republik ini.

Beberapa persoalan lain yang agaknya mirip dengan kasus sang imam besar sebagian orang berotak kecil di atas. Mantan ketua KPK, Antasari Azhar dan Abraham Samad, yang kerennya minta ampun sewaktu menjabat ujung-ujungnya keok juga ketika diterpa kasus serupa. Pamor mereka jatuh. Hanya Ariel Noah yang sepertinya tidak mampu ditaklukkan oleh kasus selangkangan. Padahal kalau hendak dibandingkan, dalam kasus Ariel Noah itu ada bukti video esek-esek yang sempat populer sekali di kalangan teman-teman SMA dulu, sementara Antasari, Samad, maupun sang Imam Besar itu hanya sekadar foto-foto yang sifatnya tidak bisa dikatakan konkret untuk membuktikan hal-hal ena yang para ‘terduga’ itu kerjakan (setidaknya itu menurut saya yang sering nonton bokep tapi bukan anak hukum).

Entah, tapi saya curiga ada dua kemungkinan: pertama bahwa masyarakat kita memang selalu penasaran dengan selengkangan Ariel dan lawan mainnya sehingga ketika rasa penasaran mereka terpenuhi, masyarakat kita sebenarnya bersyukur dan diam-diam menikmatinya, atau kedua, mungkin juga karena Ariel Noah bukan pimpinan satu organisasi yang berurusan dengan tikus di Senayan sana. Boleh saja dulu kelompok imam besar jadi yang paling vokal dalam pengawalan kasus Ariel Noah sampai tuntas, tapi, toh, sebagian besar warga negara (khususnya para siswa SMA yang baru masuk kategori dewasa –ditandai dengan keikutsertaan mereka dalam pemilu) merayakan kasus dalam video ena tersebut dengan menontonnya beramai-ramai. Tidak percaya? Sila, tanya pada mahasiswa angkatan 2010-an ke atas, siapa, sih, yang tidak pernah nonton bokep itu? kalau ada, ya, berarti dia mungkin kampungan atau benar-benar suci dan matanya akan terlindung dari siksa neraka. Aameen.


Pernah suatu hari di awal tahun 2015 seorang keluarga menasihati saya untuk selalu memisahkan penilaian terhadap persoalan pribadi dengan persoalan publik. Ini juga ceritanya panjang, tapi pada intinya, bagi saya persoalan selangkangan adalah persoalan pribadi seseorang yang tidak pantas untuk dicampuri orang lain. Mau seorang lelaki rajin onani kek, mau seorang perempuan belum nikah tidak perawan kek, itu bukan urusan anda. Selama bukan kontol anda yang dipake buat onani atau vagina anda yang diambil keperawanannya.

Begitu sulit bagi warga negara ini melihat secara riil betapa besar pencapaian seseorang dalam memerangi kejahatan tingkat tinggi yang mengancam keselamatan dan keberlangsungan hidup bernegara, atau betapa kurangajarnya mereka yang menghina-hina negara melalui pelecehan terhadap simbol-simbol sakral yang melukai perasaan para nasionalis seperti anda-anda itu. Semua hal-hal yang bisa dibicarakan secara rasional dihalangi kabut fantasi bernama selangkangan. Itu sudah cukup untuk menjawab, apa sebenarnya yang menjadi prioritas oleh mayoritas penduduk di negeri ini: Selangkangan.

Melihat persoalan ini, saya jadi teringat tulisan Ode dua minggu lalu tentang bagaimana posisi perempuan dalam kebudayaan sebagai bahasa dalam kebudayaan patriarkal seperti yang dijabarkan dalam struktrualisme Levi-Strauss, perihal yang membuat perempuan cenderung terdekonstruksi sebagai manusia oleh sebab nilai-nilai yang ditanamkan masyarakat dalam tubuh mereka. Ode mengatakan bahwa sebagai bahasa, perempuan mesti dibentuk agar ‘cukup sopan ketika dituturkan’ dengan tujuan satu komunitas mampu diterima dengan baik di komunitas lain, untuk alasan inilah tubuh perempuan menjadi sakral sebab dipenuhi nilai-nilai dan harapan-harapan dalam komunitasnya.

Salah satu syarat utama menjadi ‘bahasa’ yang baik sebagai perempuan, adalah dengan menjaga keperawanan. Menjaga lobang memek supaya tidak ditembus oleh orang yang tidak dikehendaki menerima ‘bahasa’ komunitas kita, bahkan jika perempuan itu terlibat kisah cinta dengan orang asing yang tak dikehendaki itu. Bahkan jika perempuan itu belajar dan mengerti tentang kebebasan yang dijanjikan eksistensialismenya Sartre atau Simone de Beauvoir, saya masih kurang yakin kalau mereka berani menelantarkan begitu saja seluruh nilai yang ditanamkan adat dalam tubuh mereka.

Kekuatan konvensi sosial, seperti apapun tidak kita sukai sesungguhnya memiliki peran yang lebih nyata daripada jika secara naif kita anggap sebagai mitos belaka. Dan selangkangan adalah salah satu persoalan paling krusial di masyarakat kita. Oleh sebab itulah, masyarakat akan menilai segala perbuatan anggotanya bukan dengan standar apa kontribusinya terhadap negara, seberapa bersih dia mengurusi uang negara, seberapa busuk dia menyikut lawan-lawan politiknya hanya demi kekuasaan dan uang, tetapi dari bagaimana seorang itu memperlakukan atau mengendalikan selengkangannya.

Terdengar kekanak-kanakkan memang, tetapi kenyataan bahwa memisahkan moral dengan lobang memek adalah satu hal yang sangat sulit dilakukan dalam masyarakat yang masih menganggap urusan selengkangan seseorang adalah urusan yang mempengaruhi kesejahteraan orang banyak. Padahal, jika seseorang hendak profesional dalam bekerja, bukankah persoalan pribadi mesti dipisahkan dari persoalan publik? Negara kita tidak kunjung dewasa, barangkali salah satu sebabnya adalah ketidakmampuan mengurai mana persoalan pribadi dan mana persoalan negara.

Makassar, 26 Agustus 2017

Erik

)
Djamak

Written by

Djamak

long live life

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade