Psikoanalisis dan Betapa Kanaknya Masyarakat Kita

Image Source: https://news.fordham.edu/wp-content/uploads/2015/09/Slider_homepage.jpg

Belum lama ini sosial media hingga berita di televisi nasional dihebohkan oleh pernikahan viral pasangan beda usia Selamat Riyadi (16 tahun) dan Ibu Rohayati (71 tahun), pasangan ini menikah siri pada tanggal 2 Juli 2017 lalu, mereka berasal dari Kecamatan Lengkiti, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan.

Menurut Undang-Undang Perkawinan 1974 mensyaratkan perempuan harus berusia 16 tahun dan laki-laki 19 tahun untuk bisa menikah. Oleh karena itu kepala desa tidak berani mengeluarkan registrasi untuk KUA karena menyalahi administrasi.

Menurut kepala dusun, 5 bulan sebelum mereka memutuskan untuk menikah Selamat jatuh sakit, dan sering berada di rumah Ibu Rohaya karena dirawat oleh beliau dari sanalah bermula kedekatan mereka.

Saya mengingat perkataan salah satu pemerhati pernikahan anak dari Woman Crisis Center, Yenni Izzi, yang mengatakan bahwa kasus pernikahan ini agaknya berbeda karena Selamat memilih menikah bukan karena faktor ekonomi maupun fisik. Selamat merasakan kenyamanan dan kebahagiaan, merasa dikasihi, diperhatikan sehingga kondisi tersebut membuat dia jatuh hati kepada Ibu Rohaya.

Dari kajian psikologi, Selamat yang usianya masih tergolong kanak memutuskan untuk menikah agar ia bisa terus mendapat perhatian dari Ibu Rohaya. Hal ini lalu mengingatkan saya tentang Oidipus Complex salah satu fase yang diperkenalkan Freud. Oidipus Complex terjadi pada seseorang saat berusia antara 1–5 tahun dalam perkembangan psikologinya. Nama ini diambil dari tokoh mitologi Yunani yang membunuh ayahnya dan kemudian menikahi ibunya. Sigmund Freud adalah penemu psikoanalisis, dia menamainya sendiri pada tahun 1896. Psikonalisis adalah suatu pandangan baru tentang manusia, di mana ketidaksadaran memainkan peranan penting. Freud percaya jika yang dialami dalam tokoh mitologi yunani tersebut sama dengan yang dialami seseorang dalam perkembangan psikologinya.

Oidipus Complex adalah salah satu gejala yang terjadi pada proses perkembangan seksualitas anak sehingga mempengaruhi pembentukan kepribadian seseorang nantinya. Gejala ini terjadi pada fase phallic, fase ini merupakan fase di mana anak-anak mulai menemukan kesenangan dengan alamat kelamin mereka. Sebagai contoh kita pasti sering melihat seorang anak kecil yang selalu memainkan alat kelaminnya, atau bahkan memamerkannya kesana kemari. Fase ini juga diikuti oleh fase oral dan anal dimana mereka menemukan kesenangan dengan mulut (oral) juga disaluran pembuangan (anal). Jika fase oral dan anal hanya tertuju pada kesenangan dirinya sendiri atau Freud menyebutnya Otoerotisme, pada fase phallic anak mulai mengarahkan kecenderungan seksualnya kepada objek yang berada diluar dirinya yakni orangtuanya.

Jika kita memperhatikan, awalnya ketertarikan ini terjadi tidak hanya pada laki-laki tetapi juga perempuan. Waktu kecil kita menginginkan ibu kita karena kita menganggap ibu dapat memberikan kenyamanan dan dapat memuaskan kebutuhan kita. Dan tanpa sadar kita atau anak kecil mengembangkan rasa permusuhan dan persaingan terhadap ayah kita karena memiliki hubungan cinta dengan ibu.

Tanpa dipungkiri, seiring perkembangannya anak laki-laki melihat bahwa anak perempuan tidak memiliki penis seperti dirinya. Begitupun sebaliknya, sehingga anak laki-laki mengalami castration anxiety (kecemasan akan dikebiri) dan anak perempuan mengalami penis envy (kecemburuan akan penis). Ketakutan anak laki-laki itu karena dia menyangka anak perempuan telah dikebiri karena rasa sukanya pada ibunya dan dia juga takut akan dikebiri sehingga menekan rasa suka terhadap ibunya dan perasaan permusuhan terhadap ayahnya.

Rasa cinta tersebut kemudian dialihkan kepada teman-teman perempuannya. Menurut Freud pada tahap ini laki-laki tidak lagi mencintai ibunya dan secara sadar mulai mengalihkan objek cintanya pada teman-temannya. Lalu mereka mulai mengidentifikasi diri pada sosok yang ia takuti yaitu ayahnya sehingga menimbulkan identifikasi gender. Larangan itu untuk membentuk superego anak. Kehidupan seksual anak-anak mengalami perkembangan yang berbelit-belit itu dalam lima tahun pertama. Lalu menyusul apa yang disebut masa latensi. Pada masa ini, seksualitas biasanya tidak berkembang lagi, dorongan seksual yang pernah begitu kuat kemudian layu hingga terbentuklah sikap-sikap Ego seperti rasa malu, jijik, dan moralitas.

Sayangnya seringkali orang tua tidak memahami perilaku anak ketika melakukan tahap perkembangan psikoseksual tersebut dan menganggapnya sebagai sesuatu hal yang terkesan belum waktunya untuk diberikan penjelasan mengenai seksualitas sehingga melewatkan pendidikan seks untuk diajarkan sejak dini kepada anak.

Pada usia 5–7 tahun rasa ingin tahu anak tentang aspek seksual biasanya meningkat. Anak akan menanyakan kenapa temannya memiliki organ-organ yang berbeda dengan dirinya sendiri. Rasa ingin tahu itu merupakan hal yang wajar. Karena itu, orang tua diharapkan bersikap sabar dan komunikatif, menjelaskan hal-hal yang ingin diketahui anak. Pasti pernah terjadi ketika anak laki-laki mengintip teman perempuannya yang sedang buang air, hal tersebut terjadi karena ingin tahu mereka. Orang tua diharapkan dapat menjelaskan perbedaan anak laki-laki dan perempuan, bukan hanya ditegur tanpa penjelasan.

Mari kita kembali melihat pernikahan viral Selamat dan Ibu Rohaya. Masyarakat kita cenderung melebih-lebihkan sesuatu terutama soal pernikahan. Ini bukan kali pertama pernikahan beda usia terjadi di Indonesia. Sebelumnya ada pasangan dari Sulawesi Utara, Martha Potu (82 tahun) dan Sofyan Loho Dandel (28 tahun) yang menikah pada pertengahan Februari 2017. Lalu ada Sulaeman Daeng Ngampa (62 tahun) dengan seorang gadis bernama Diana Daeng Ngani (18 tahun) di Moncongloe, Gowa, Sulawesi Selatan.

Saya hanya tidak mengerti dengan pola pikir masyarakat kita saat ini, apakah pernikahan hanya soal seks semata? Atau jangan-jangan pernikahan hanya soal gengsi?. Lucunya saya sering mendapati orang-orang yang berkomentar tentang pernikahan beda usia tadi dengan frasa “Duh, bagaimana kira-kira malam pertamanya?” “kira-kira ‘tahan’ berapa ronde?” “ah pasti menikahnya hanya demi uang”. Agaknya seluruh kebudayaan kita dibangun dengan mengorbankan seksualitas.

Sungguh kita hidup dalam masyarakat yang menyedihkan, di mana urusan ranjangpun tak lepas dari perbincangan saat reuni, arisan, kumpul keluarga, bahkan saat proses memetik sayuran. Barangkali ini adalah efek nyata jika lebih sering menonton serial India dibanding membaca buku.

Masyarakat kita cenderung menentang mengetahui kebenaran tentang diri sendiri, dan tanpa sadar pikirannya dijajah oleh ketakutan akan pikiran orang lain terhadap kita. Masyarakat yang dibentuk oleh manusia, sampai batas-batas yang jauh mencerminkan irasionalitas manusia. Sehingga, setiap generasi yang baru menjadi lebih buruk karena lahir dalam masyarakat yang irasional. Meminjam perkataan Freud bahwa dengan menggunakan psikonalisis dalam membesarkan dan mendidik anak-anak akan sangat berpengaruh terhadap lingkaran yang tak berujung antara manusia dan masyarakat serta pengaruh masyarakat terhadap manusia. Oleh karena itu orang tua, guru, maupun ulama harus dididik kembali mempelajari ilmu jiwa sebelum mereka dapat menjadi ‘alat-alat’ yang tepat bagi akal sehat dan kebenaran.

Makassar, 5 Agustus 2017

Ode Fadillah

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Djamak’s story.