Mitos Kerja Keras

Djohan Rady
Jul 24, 2017 · 7 min read
Carl Menger

Salah satu olok-olok yang kerap dilontarkan para Marxis terhadap kapitalisme adalah mengenai mitos tentang kerja keras. Mereka mengatakan bahwa anjuran kerja keras agar hidup makmur di dalam kapitalisme adalah omong kosong. Bagi para Marxis, struktur masyarakat kapitalisme sangat tidak adil, sehingga sekeras apapun anda bekerja, anda tidak akan pernah sekaya para pemilik modal yang mendapatkan profit hanya dengan ongkang-ongkang kaki. Salah satu bentuk olok-olok tersebut misalnya terdapat pada meme berikut:

Olok-olok tersebut ada benarnya. Sekeras apapun anda bekerja sebagai pegawai rendahan di suatu perusahaan, tidak akan pernah dalam seratus tahun anda dapat menjadi sekaya atasan anda. Dan atasan anda tidak akan pernah menjadi sekaya para direktur dan pemilik perusahaan. Secara terbalik, bisa kita katakan bahwa orang-orang super kaya di dalam masyarakat kapitalisme (ambil contoh ekstrem Bill Gates dan Mark Zuckerberg) dapat menjadi super kaya tanpa harus pernah bekerja sekeras para penambang batu di kawah Gunung Ijen.

Namun sayangnya olok-olok tersebut salah kaprah. Prinsip-prinsip dasar kapitalisme tidak pernah secara implisit ataupun eksplisit menyatakan bahwa setiap upaya kerja keras akan menerima imbalan yang setimpal. Sugesti semacam ini hanya ada di film-film Hollywood dan di janji-janji manis para motivator pengembangan diri. Persepsi kapitalisme tentang kerja hanyalah berdasar pada superioritas etis: bahwa bekerja itu jauh lebih terhormat daripada berpangku tangan menunggu subsidi dari pemerintah atau individu lain. Kapitalisme, setidaknya dalam teori, tidak pernah menjanjikan bahwa kerja keras anda suatu saat akan berbuah sukses.

Kesalahkaprahan ini saya duga muncul akibat kesalahan fatal Marxisme dalam melihat persoalan mengenai nilai komoditas (theory of value). Sebagaimana kita tahu, Karl Marx memandang bahwa setiap komoditas hasil produksi memiliki nilai intrinsik yang salah satunya muncul dari kerja atau upaya yang dikeluarkan seseorang untuk menghasilkan produk tersebut. Jadi, jika ada seorang pekerja membuat sepasang sepatu, maka nilai atau harga sepatu itu (salah satunya) ditentukan oleh seberapa besar upaya yang dikeluarkan si pekerja untuk membuat sepatu tersebut. Teori nilai semacam ini disebut sebagai teori nilai kerja (labor theory of value)

Konsep nilai lebih dan “penghisapan” di dalam analisa Marx mengenai struktur masyarakat kapitalisme bermula dari teori nilai kerja ini. Berdasarkan teori nilai kerja, Marx berasumsi bahwa semua komoditas memiliki nilai intrinsik yang disumbang oleh tenaga dan waktu para pekerja. Kelas borjuis (para pemodal dan pemilik perusahaan) kemudian mengapropriasi nilai lebih dalam bentuk profit dengan cara membayar upah pekerja di bawah nilai kerja yang dikeluarkan oleh para pekerja.

Oleh sebab itu, di dalam Marxisme, profit akan selalu dilihat sebagai sebuah kejahatan kemanusiaan. Bagi para Marxis, profit tidak lain adalah hasil dari perampokan dan perbudakan yang terstruktur secara sosial.

Inilah asal-usul mengapa para proponen Marxisme mencibir konsep kerja keras. Bagi mereka, saat ini kita hidup di dalam sebuah struktur sosial yang membuat segala bentuk kerja keras individu menjadi sia-sia. Kerja keras di dalam masyarakat kapitalisme tidak ada artinya, kata mereka, karena hasil kerja keras tersebut tidak pernah utuh diterima dan dinikmati oleh si pekerja keras.

Kita bisa melihat bahwa logika Marxisme soal kerja ini benar adanya, hanya jika teori nilai kerja bernilai benar. Sayangnya, teori nilai kerja adalah sebuah teori nilai yang tidak masuk akal dan absurd. Teori ini sudah ditinggalkan oleh banyak ekonom dan filsuf sosial sejak paruh akhir Abad ke-19, khususnya ketika Carl Menger mulai mempopulerkan Revolusi Marjinal di lingkungan akademik melalui penerbitan buku Principle of Economics pada tahun 1871.

Mengapa teori nilai kerja tidak masuk akal? Karena memang nilai suatu komoditas tidak bisa ditentukan berdasarkan seberapa besar upaya yang kita keluarkan untuk memproduksi komoditas tersebut. Bayangkan situasi berikut: terdapat dua orang pembuat kue, sebut saja A dan B. A dan B sama-sama membuat kue dengan teknik dan proses kerja yang sama. Oleh sebab itu, upaya yang dikeluarkan keduanya juga sama besar. Keduanya juga sama-sama menghabiskan waktu tiga jam untuk membuat kuenya masing-masing. Bedanya, pembuat kue A menggunakan bahan dasar tepung terigu, sedangkan pembuat kue B menggunakan semen.

Ketika dijual di pasar, kue mana kira-kira yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi? Tentu saja kue buatan A, karena kue buatan A dibuat menggunakan bahan dasar tepung yang bisa dimakan sehingga memiliki nilai utilitas lebih tinggi. Contoh sederhana ini menunjukkan betapa nilai suatu komoditas sama sekali tidak ditentukan oleh kerja (A dan B mengeluarkan upaya yang sama besar) ataupun harga bahan baku (harga semen lebih mahal daripada tepung terigu). Tidak seperti asumsi Marx, nilai komoditas justru ditentukan oleh nilai guna (utilitas) yang dirasakan oleh konsumen komoditas tersebut.

Even Doraemon gets it

Namun teori nilai guna ini masih harus menjawab paradoks permata dan air dari Adam Smith: jika nilai komoditas ditentukan oleh nilai guna, mengapa batu permata lebih berharga daripada air? Jawabannya, karena nilai komoditas tidak sekedar ditentukan oleh nilai utilitas absolut, tetapi oleh nilai utilitas marginal dari komoditas tersebut.

Nilai utilitas marjinal adalah nilai guna yang bersifat relatif terhadap nilai guna yang muncul pada aktivitas konsumsi berikutnya. Nilai guna seteguk air hanya bisa kita ketahui jika kita bandingkan dengan tegukan kedua, ketiga, kesepuluh, kelimapuluh, keseratus, dan seterusnya.

Inilah alasan mengapa batu permata bisa lebih mahal daripada air. Ini karena nilai utilitas marjinal batu permata jauh lebih tinggi daripada air. Setiap penambahan jumlah konsumsi terhadap air akan secara signifikan menurunkan nilai guna yang dirasakan seseorang terhadap air, karena jumlah suplai air bisa dibilang berlimpah. Sedangkan setiap penambahan jumlah kepemilikan batu permata oleh seseorang secara signifikan akan meningkatkan nilai gunanya, karena jumlah suplai batu permata relatif langka.

Teori nilai utilitas marjinal inilah yang menjadi basis teoritis bagi kapitalisme dalam memandang persoalan tentang nilai. Oleh sebab itu, sungguh tidak masuk akal bagi kapitalisme untuk menganjurkan sekedar kerja keras untuk dapat menjadi kaya raya. Di dalam kapitalisme, adalah suatu kewajaran apabila kerja keras anda tidak dibayar dengan setimpal, karena yang terpenting bukan seberapa keras anda bekerja, tetapi seberapa tinggi masyarakat menilai kegunaan dari apa yang anda lakukan. Di dalam kapitalisme, untuk menjadi kaya raya anda harus menghasilkan sesuatu yang berguna bagi orang lain.

Itulah alasannya mengapa saya pikir olok-olok para Marxis terhadap konsep kerja keras di dalam kapitalisme salah kaprah: kapitalisme memang hanya menghargai nilai guna marjinal, bukan kerja keras.

Jika kita kemudian menerima tesis bahwa nilai komoditas suatu barang ditentukan oleh nilai guna marjinal dan bukan oleh nilai kerja, maka kita bisa melihat bahwa seluruh bangunan filsafat Marxisme salah besar. Di dalam teori nilai guna marjinal, nilai suatu komoditas ditentukan oleh perspektif subjektif para konsumen terhadap nilai guna komoditas tersebut. Berdasarkan subjektivisme nilai inilah kemudian diasumsikan bahwa tidak ada nilai intrinsik-objektif tertentu pada suatu barang. Kerja keras para pekerja tidak menyumbangkan suatu apapun terhadap nilai suatu barang (kecuali dalam bentuk ongkos produksi).

Oleh sebab itu, tidak ada suatu apapun di dalam nilai suatu barang yang bisa kita sebut sebagai “nilai lebih”. Dengan kata lain: tidak ada suatu apapun dari nilai suatu barang yang bisa dirampok oleh para kapitalis dari para pekerja. Narasi penghisapan dan eksploitasi pekerja di dalam teori Marxisme adalah fiksi belaka.

Meski tidak pernah berterus terang, Karl Marx sendiri tampaknya menyadari hal ini. Sebagaimana sudah saya sebut sebelumnya, teori nilai utilitas marjinal mulai dipopulerkan Carl Menger pada tahun 1871. Di tahun tersebut, Karl Marx sedang mengerjakan volume kedua dari Das Kapital, namun kemudian secara tiba-tiba menghentikan proses pengerjaannya karena alasan kesehatan.

Banyak pihak (termasuk Friedrich Hayek dan Joachim Reig) berspekulasi bahwa Karl Marx tidak menyelesaikan Das Kapital Volume II dan III bukan karena sakit, melainkan karena pada tahun tersebut ia berhadapan dengan paradigma baru mengenai teori nilai utilitas marjinal yang meruntuhkan seluruh bangunan teori yang sudah ia bangun dengan susah-payah di Volume I. Ini spekulasi yang masuk akal, karena toh meski mengaku sakit, sejak tahun 1871 hingga wafatnya di tahun 1883 Karl Marx masih terus menulis dan banyak membuat esai mengenai berbagai macam topik di luar Kapital, seperti agama dan etnologi.

Sayangnya, tidak seperti Karl Marx, para pengikut Marxisme sendiri tidak pernah meninggalkan teori nilai kerja. Saya sering bertemu dengan anak-anak muda pengagum Marx yang seperti hidup di alam pikiran sebelum Abad ke-19, di mana teori nilai kerja dianggap sebagai penjelasan paling masuk akal untuk menjelaskan nilai suatu komoditas.

Ketertinggalan alam pikiran mereka ini kemudian tercermin pada retorika-retorika yang mereka bangun. Mereka, misalnya, masih percaya bahwa kemakmuran ekonomi yang kita nikmati saat ini merupakan hasil penumpukan penderitaan kelas pekerja yang kerja kerasnya dihisap oleh kelas borjuasi sepanjang sejarah peradaban umat manusia. Mereka juga percaya bahwa asal-usul kemakmuran tersebut bisa ditelusuri secara tuntas kepada “peristiwa eksploitasi pertama-tama”, layaknya seorang auditor finansial yang mampu menelusuri asal-muasal kasus penggelapan dana di perusahaan.

Tetapi salah kaprah paling fatal adalah kepercayaan mereka bahwa hidup ini bekerja berdasarkan logika zero-sum game. Mereka percaya bahwa sumber-sumber kemakmuran di dunia ini bersifat konstan, dan satu-satunya cara untuk mendapatkan kemakmuran adalah dengan cara merampasnya dari orang lain. Jika seseorang mendapatkan untung, maka ada orang lain di suatu tempat yang sedang dirugikan.

Kepercayaan para Marxis pada teori nilai kerja membuat pikiran mereka tertutup pada kemungkinan bahwa hidup ini bisa kita jalani dengan mengikuti prinsip positive-sum game, yakni situasi di mana jika kita mendapatkan untung maka orang lain di sekitar kita juga bisa mendapatkan untung. Inilah logika ekonomi pasar bebas, yakni logika yang mendorong kerja sama antar umat manusia melalui aktivitas pertukaran dan perdagangan bebas.

Catatan: tulisan ini pertama kali terbit pada situs www.suarakebebasan.org. Link: https://suarakebebasan.org/id/opini/item/783-mitos-tentang-kerja-keras

Djohan Rady

Written by

I have a Master's degree in Philosophy. So, yeah, mostly I don't know what I'm talking about.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade