Makan Malam Gender
Kali ini aku dan si penyair terlibat diskusi di meja makan yang tak biasa. Aku berkesempatan ditraktir dia, setelah beberapa kali dia bermalam di tempatku. Ya meski hanya pecel ayam di sebrang jalan dengan spanduk legendaris yang selalu sama atau mirip di cabang pecel ayam manapun di Jawa.
“Bung duduk sini saja, ndak terlalu sempit”, pintaku padanya tak merengek.
“Ooh, aku ngerti maksudmu..hehe”, terkekeh dia
Posisi kami duduk ada di ujung meja luar, rada sedikit di posisi belakang. Dari sudut itu, kami bisa melihat jalanan dan beberapa penikmat jajanan itu. Lebih asyiknya lagi, ada beberapa pasang muda-mudi yang makan bersama.
“Benar ya, hukum positif-negatif itu”, selorohnya sambil melirik pasangan muda-mudi
“Maksudmu?”, tanyaku yang lupa kalau bertanya padanya akan menimbulkan kultum pada malam itu
“Bahwa yang satu positif dari penampilan, satunya negatif. Positif dan negatif saling tarik menarik”, singkat padat dan jelasnya
“Di belakang lelaki sukses, selalu ada perempuan hebat. Pepatah itu seringkali kita dengar. Tapi tak pernah ada yang bilang, dibalik perempuan sukses, ada pria yang bagaimana. Jangan-jangan kita pilih-pilih dengan pepatah itu.
Misalnya sukses, Bapak Obama, pasti selalu diikuti dengan berita Ibu Michelle. Bagaimana dia selalu ditonjolkan sebagai perempuan penting. Namun begitupun pada kasus-kasus sebaliknya, pada kisah lelaki yang tak sukses kalau dibilang pun sama begitu.
Ingatkah kasus Imam Samudera, bagaimana istrinya disebut-sebut sebagai “Istri Teroris Imam Samudera”. Ingat? Bagaimana coba rasanya jadi di pihak perempuan itu. Kemana-mana label itu terbawa. Sama seperti zaman PKI dulu, bibit bebet bobot turunan PKI pun terus menempel dari garis bapaknya. Bayangkan bagaimana sulitnya untuk ziarah ke makam ayah/suaminya. Agar menghindari cap dari masyarakat, bagaimana nasib perasaan anak-anaknya.
Lain lagi dengan perempuan, coba misal kesuksesan Sri Mulyani. Apakah pernah kita dengar sosok suaminya? Lalu Ratu Atut Chosiyah, sang Ratu Banten. Pernahkah kita dengar dengung suaminya? Kayaknya perempuan itu mampu mandiri sendiri, dan lelaki tidak. Ini bukan kesetaraan gender, tapi ini pilih kasih namanya.”, berapi-api jelasnya
“Wah, iya juga ya. Kalau begitu selain hukum positif-negatif. Juga berlaku teorimu itu. Tapi betul pilihanku, sementara ini tidak berpasangan. Karena belum tentu aku bisa menjaga martabat wanita. Semisal aku harus terlabeli itu katamu. Jangan sampai perempuan ikut terkena labelnya.”, pungkasku menutup diskusi karena lapar.
