Kerja Seorang Penyair

Sudah tiga hari setelah si Penyair berkunjung ke kamarku. Dia tidak pernah muncul kembali. Aku tidak pernah menanyakan asal usulnya darimana, dimana kampung halamannya. Dia memang ku kenal tidak sengaja, sewaktu dulu masih mahasiswa. Kita pernah kos bersama, maksudnya satu kosan bersama bukan satu kamar bersama. Namun, jalan cerita berbeda, aku lulus kuliah, dia entah peduli lulus atau tidak. Lalu pada hari ini, lagi-lagi dia datang tak diundang. Kali ini dia datang dengan tampang tak membawa beban pikiran.

“Hey, bagaimana, sudah bisa menulis?”, tanyaku cepat-cepat sebelum dia dulu bertanya.

“Menulis itu mudah. Membuat tulisan itu sulit, aku belum bisa menulis kembali”, jawabnya

“Lalu, kau berhenti menulis tentang penjambret atau kekasih? Kegiatanmu apa sekarang-sekarang ini?” Dia memang tak kulihat berkehidupan layaknya manusia biasa. Dahulu pun saat kuliah, dia seakan tidak terlalu peduli terhadap nilai.

“Aku bekerja”, singkat

“Hah, kau bekerja dimana? Jadi kau sudah lulus?”, aku jadi ingin banyak bertanya

“Pertanyaanmu salah”, singkat kembali

“Lalu?”, balasku lebih singkat

“Tak peduli bekerja dimana, tak peduli lulus tidak. Pertanyaanmu sudah salah. Kenapa manusia selalu salah bertanya”, jawabnya sedikit panjang

“Baiklah, seharusnya apa?”, kutahu ini akan memaksa dia memberi kuliah yang panjang. Tapi tak apa, aku sudah salah bertanya hingga harus siap dengan konsekuensi jawabannya

“Mengapa manusia sangat tertarik dengan kalimat ‘bekerja dimana?’ Seorang calon mertua pasti akan menanyakan, sudah bekerja dimana pada pemuda yang menemui anak gadisnya. Seorang kawan lama, akan menanyakan bekerja dimana di tiap acara reuni, yang mungkin selalu ditanya seperti lupa. Setelah itu baru ditanya, ‘kerja apa?’

Sudah jelas, kerja manusia itu beribadah kata Tuhan. Seharusnya itu bukan dipertanyakan lagi. Justru manusia yang bertanya pada dirinya, ‘Tuhan, benarkah sudah kerjaku?’. Tapi tidak, aku tak akan menjawab seperti itu. Bukan bagianku itu. Perkerjaan terpenting manusia, yang menandai dirinya adalah manusia, yaitu berpikir. Maka itu yang kulakukan, berpikir”

“Jadi kamu kerja dengan berpikir?”, kuberanikan bertanya kembali

“Ya, aku ingin berpikir apa yang kira-kira manusia lain tak pikirkan. Penyair adalah insinyur kebudayaan yang berdiri di pinggir zaman. Bahkan kerja sendiri adalah puisi yang berkeliaran baginya. Melihat kerja berbagai manusia, menawarkan jenis-jenis puisi lain.

Pernahkah terpikir kenapa agamamu mengajarkan sedekah? Pernahkah kau berpikir, segala hal di hidupmu itu adalah kerjasama dari berbagai kerja yang ada. Engkau tak mendapatkan segala hal, karena atas kerjamu sendiri. Kau makan nasi, nasi dari padi, padi dari pak tani, pak tani tanam padi lalu menjualnya, lalu diantarkan, lalu dimasak, lalu disajikan. Begitu panjang perjalanan nasi yang masuk ke perutmu. Maka sedekah itu adalah bagian kerja ibadahmu pula. Karena dengan itu, kita tahu ada banyak andil saham manusia di hidup kita.

Setiap manusia memiliki porsi kerjanya masing-masing. Kalau bekerja, sekedar bekerja, kera juga bekerja, kata Buya Hamka. Bekerja itu banyak dimensinya, tergantung kau bertanya di posisi apa. Tapi aku setuju dengan agamamu, bekerja itu untuk ibadah. Karena, aku akan kehilangan pijakan bila akalku yang harus memikirkan ‘kerja’ itu apa. Wadah peradaban yang dilandaskan norma dan budaya terlalu cair, dia selalu berubah tiap zaman. Rok pendek pada norma masa lalu adalah tabu, lalu kini dianggap biasa saja. Maka agamamu adalah wadah yang kuat. Maka bagiku, berpikir dan bermanfaat bagi manusia itu bentuk kerja dan ibadah untukku”

“Jadi kau bekerja, karena itu ibadah bagimu?”, tanyaku meyakinkan

“Ya”, jawabnya

“… lalu”, belum ku selesai bicara dia sudah melanjutkan

“Kalau kau hanya bekerja untuk perutmu, kau tak akan pernah puas. Kalau kau hanya bekerja untuk kepalamu, kau tak akan pernah tenang. Kalau kau hanya bekerja untuk manusia, kau tak akan pernah bahagia. Kau harus menemukan bentuk ibadah dalam pekerjaanmu. Jangan kau anggap ini fatwa, ini hasil pikirku. Terserah katamu, tapi bagiku pertanyaan manusia tentang kerja itu terlalu profan.”

“Baiklah, pusing aku mendengarnya. Lalu bila bertemu calon mertua, kau akan jawab apa? Hehe”, telisikku

“Haha, aku akan lebih baik memilih untuk tidak menjawab.”, tutupnya

Like what you read? Give Djonie a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.