Menganu Biru

Djonie
Djonie
Jul 30, 2017 · 3 min read

Akhir-akhir ini aku dan kawanku Si Penyair jadi lebih sering bertemu dan diskusi. Ini tidak lepas dari kemampuan kita untuk tahan tidak mengerjakan apa-apa selain berdiskusi. Dari membahas isu negara, hingga isu dalam celana. Kita bisa membahas apa saja. Bahkan kemarin kita sempat bahas hal-hal remeh temeh, film porno.

“Kamu pernah nonton film porno?”, pertanyaan polos tiba-tiba ditanyakannya padaku

“Hmm, pernah lah. Lelaki mana sih yang tak pernah menonton?”, jawabku sedikit pede

“Baguslah, berarti kamu normal. Kukira karena kau tak punya pacar, aku sedikit ragu kejantananmu”, si Penyair memaksa aku melepaskan hewan dari dalam mulutku

Dia lalu tanpa aba-aba meracaukan isi kepalanya dari dalam kamarku dengan posisi kami sedang tiduran. Tidak perlu kau bayangkan kami sedang apa sambil tiduran itu. Tentunya tak ada apa-apa, aku normal.

“Film porno itu salah satu tonggak peradaban manusia. Bukan dalam bentuk filmnya, tapi esensi kegiatan esek-eseknya. Darinya peradaban manusia juga menjadi maju. Dahulu di Jepang, hiburan yang legal dan menjamur adalah “teman wanita (lady companion)”, hingga sekarang negara itu dikenal sebagai produsen film porno yang hebat. Aku masih menyimpan kecurigaan pada zaman neandarthal bersaudara juga sudah timbul budaya esek-esek seperti itu. Ya paling dekat lihat saja karya-karya patung di Italia atau ingat-ingat zaman Gunung Vesuvius yang mahsyur itu. Tidak hanya itu, film porno juga mengikuti revolusi peradaban atau teknologi. Bahkan menjadi pelopor teknologi.

Dahulu bentuk film porno itu dibikin sedemikian rupa artistik karena media saat itu hanya dari gedung bioskop. Lalu mendekati tahun 1990-an media CD mulai dikenal. Hasilnya? Penetrasi film porno meningkat dan kuantitasnya pun membludak. Sebuah film porno tidak memerlukan waktu produksi yang lama, dan bisa dilihat dimana-mana, tidak lagi di teater bioskop. Hingga saat ini konten bisa dinikmati dari genggaman tangan. Tentunya film porno mengikuti dan memanfaatkan kemajuan teknologi”, jelasnya lugas dan seperti hapal diluar kepala.

“Ooh iya itu betul, bahkan teknologi internet yang kita nikmati sekarang. Sedikit banyak berkembang karena kebutuhan video porno. Dahulu internet dimulai dari riset militer ARPA di Amerika. Namun teknologi pelengkapnya di medio 2000-an setelah era WWW itu karena pornografi, sebut saja CDN. Lalu sekarang kita akan menginjak generasi VR, dan pornografi sudah selangkah di depan untuk implementasinya.

Sebuah situs porno, mungkin teknologinya jauh melebihi situs pemerintah kita. Atau ya setidaknya selevel lah dengan raksasa teknologi di Amerika. Bayangkan, mereka menyimpan berapa terabytes video, lalu dapat ditonton oleh jutaan manusia per hari, lalu berapa ribu kunjungan per menit. Lalu ditambah video itu bisa diputar maju dan mundur. Itu saja sudah kompleks kalau dipikirkan dengan skala dunia. Teknologinya tidak sederhana, pasti didukung dengan engineering yang handal.”, kali ini aku bisa mengimbangi pengetahuan dia Si Penyair terkait bahasan ini.

“Hoo begitu ya? Pornografi itu memang naluri dasar manusia, naluri makhluk hidup berkembang biak. Tapi naluri mulia itu jadi hina dina, karena penyaluran dan ketidakmampuan manusia menghadapi realita. Menurutku film porno itu muncul untuk memenuhi kebutuhan manusia dan pelarian manusia dari keinginan-keinginan atau imajinasinya yang tak terpenuhi. Apalagi kau sebut itu teknologi VR, teknologi yang seperti manusia bisa merasakan pengalaman dunia superfisial dari kacamata kan? Itu kan suatu bentuk eskapisme manusia dari realita, sehingga mereka menciptakan dunia-dunia mereka sendiri yang bisa diatur”, tambahnya cukup lengkap. Meski aku sedikit tak mengerti diksi yang ia gunakan.

“Ini baru kita diskusi film porno, padahal pada segmen esek-esek ini masih banyak cabangnya lagi. Semua itu kembali menjadi integrasi bisnis esek-esek yang sungguh besar dan menggurita. Sebut saja industri “daging 2 ons” dari pinggir jalan hingga hotel mewah. Dari bertahan hidup hingga menikmati hidup. Ini masalah yang kita coba pinggirkan, kita hanya menjaga jarak dari masalah ini. Agar kita tidak terkena dan terbawa. Tapi kita biarkan saja. Kita hanya bisa bilang itu “penyakit masyarakat”. Tapi kita mungkin belum pernah pada posisi itu. Posisi dimana mereka sangat butuh finansial, tapi tak memiliki tawaran apa-apa selain dirinya. Jalan yang mudah dengan usia muda.

Mereka itu bisa siapa saja, mereka tak memilih menjadi seperti itu kan? Bahkan seorang pelacur pun tak ingin anaknya menjadi sepertinya kan? Ada kesalahan sosial dan ekonomi sistemik disini, yang membuat mereka tidak bisa lepas dari hal itu. Satu sisi, kekuatan ekonomi kita belum bisa merata atau menguatkan kekurangan mereka. Sisi lain, sosial kita mungkin menganggap mafhum hal-hal itu sehingga dibiarkan saja. Lain lagi dari sisi personal, mungkin ada yang sudah menikmati pekerjaannya seperti itu, tapi tak sedikit pula yang bergulat dengan batinnya dari kerjanya itu. Lalu kita bisa apa?”, kali ini air mukanya kembali gusar. Si Penyair memang tampak serius dengan masalah itu. Tapi apa daya, kita belum bisa apa-apa. Kita masih asyik tiduran di kamar yang nyaman.

Aku pun hanya bisa diam, tak mampu menanggapi serangan kata-kata dan pikirannya.

Djonie

Written by

Djonie

Aku tak ingin lupa berkata-kata

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade