Penyair Masa Depan
Kamar ini menjadi berbeda bila malam hari, semisal dia kawanku si Penyair ikut menghabiskan rokoknya di sini. Ia menghidupi sepertiga malam dengan diskusi dan kepulan asapnya. Seperti malam ini, dia datang kembali. Bahagianya dia datang sekaligus bersama martabak kacang. Kali ini dia lebih sumringah.
“Hey, ini ada sedikit martabak untuk kita”, dia mempersilakan bungkusan di tangan kanannya.
“Wah, pas sekali ini. Mau kopi?”, jawabku.
“Haha, pakai basa basi. Kopi hitam, satu!”, sahutnya
“Ada rezeki apa, kamu bawa martabak?”, telisikku. Aku sambil menyalakan dispenser dan membuka kopi instan, yang lebih mirip jagung dibanding kopi, idola masyarakat Indonesia.
“Aku habis kena musibah”, jawabnya singkat.
“Hah, lalu kena musibah kok malah tampak sumringah?”, aku makin heran, sambil menunggu air panas.
“Apa salahnya bahagia? Musibah bisa mengajarkan banyak hal. Jarang-jarang, kecuali kau sering. Mungkin itu nasib malang. Manusia perlu belajar banyak dimensi dan hal. Musibah itu melatih dimensi lain hidupmu”, jawab dia sedikit cuek tapi serius.
“Heuheu, terserah deh. Terimakasih. Coba kalau semua orang sepertimu, RSJ bisa sepi, karena tak ada depresi. Atau malah penuh, karena ngawur”, dia sedikit mirip Siti Jenar kalau kuingat-ingat lagi jawabnya itu.
“Hehe, tak akan mungkin hal itu terjadi. Tidak di masa depan”, jawabnya penuh tanya
“Maksudnya?”, oke aku membuat kesalahan dengan mengeluarkan kata itu. Pasti ini akan menghabiskan satu batang rokok mendengarkan dia menjawab kalimat singkat itu.
“Hmm, sebentar. Aku minta rokok dulu. Assalammualaikum!”, sambil dia mengambil rokokku. Kupersilakan dengan diamku.
“Di masa depan, tak akan ada RSJ. Di masa depan tak akan ada ketakutan. Bukankah begitu yang kita manusia bayangkan? Masa depan yang damai dan sejahtera. Bukan. Pandangan kita terhadap masa depan tidak seoptimis itu. Tapi benar, tak akan ada ketakutan di masa depan.
Buku-buku laris yang dijual di toko buku itu, bercerita tentang masa depan yang membosankan. Aku bingung kenapa laku, apa memang sesuai dengan naluri manusia atau karena tidak percaya dengan isinya makanya dibaca.
Orwell, Huxley, Murakami, penulis-penulis itu menceritakan masa depan yang sama. Distopia-distopia yang mengisi kepala kita. Tapi aku sedikit setuju. Manusia memang menginginkan keteraturan, kepastian dan kebahagiaan. Cara satu-satunya adalah mengusahakan hal itu, merekayasa hal itu. Sudah sering kita lihat kan, manusia bisa merekayasa bangunan, alam, bahkan makhluk hidup. Bukan tidak mungkin, masyarakat dan manusia, bahkan kemasyarakatan. Hewan dan tumbuhan, kita rekayasa sedemikian rupa sehingga kebutuhan kita tercukupi. Bahan makanan yang cepat terproduksi dan banyak.
Distopia mereka menggambarkan kondisi dunia yang teratur dan terkontrol. Emosi manusia ditekan dan manusia direkayasa sedemikian rupa sehingga, sama dan sesuai fungsinya. Ada yang menjadi pemikir kelas dunia, ada yang menjadi biasa. Tidak ada keluarga, yang ada hanya fungsi manusia. Manusia diproduksi, dicetak agar sesuai kebutuhan. Kita mengontrol diri kita dengan banal. Kita terlalu banyak merekayasa.”
“Woow, itu terlalu jauh. Tentu kita sudah mati bukan.”, ku mencoba menahan imajinya.
“Aku tak tahu kapan, bisa jadi lebih cepat.”, singkat
“Lalu kita, manusia harus bagaimana?”, aku benar-benar bertanya
“Kita? Aku pun belum tentu bisa menjawab untuk diriku sendiri. Sejarah belum ditulis. Sejarah akan ditulis sejarawan, tapi kebenaran dan masa depan ditulis oleh sastrawan. Caraku sendiri adalah menjaga mana hal yang benar. Manusia selalu ingin tahu masa depan, makanya kita selalu membayangkan. Sastrawan hanya menuliskan bayangan itu dalam huruf-huruf yang bisa dibaca imajinasi. Aku hanya memastikan, hal-hal yang ditulis itu akan jadi kebenaran.
Manusia sudah terbayang ingin merekayasa dirinya dengan penuh. Kupikir, manusia harus menyadari kemanusiaannya. Bahwa terlalu banyak dimensi yang harus dikejar untuk mengontrol segalanya. Kenapa tidak sedikit meluangkan ruang pasrah.”, jawabnya tidak singkat
“Pasrah?”, aku makin bertanya
“Iya, pasrah. Berserah diri pada alam dan kekuatannya. Bagi yang beragama, tentu percaya ada kehendak lain kan? Aku rasa, manusia terlalu ingin mengontrol segala hal. Banal”, lugas.
Kali ini air mukanya sedikit serius. Nampaknya memang dia sangat gusar dengan pertanyaanku tentang masa depan. Masa depan manusia selalu digambarkan kekacauan. Apa memang manusia menginginkannya? Atau manusia sangat ketakutan dengan kapabilitas dirinya sendiri?
Aku sebenarnya masih penasaran dengan pikirannya. Tapi kualihkan dahulu bahasannya dengan berita bola dan humor di linimasa media sosial. Tapi aku masih penasaran bagaimana dia bisa berpikir seperti itu. Mungkin nanti lagi.
