Pagi dan Kenangan (Silam) di Ruang Kelas Sekolah Rujukan

Kelas kecil bersuasana hening, hanya terdengar bising bunyi suara pena di atas kertas yang membentang di bawah tangan-tangan yang bersemangat.

Aktivitas ini dilakukan seiring seragam putih abu-abu mereka terlihat terang; terkena pancaran sinar mentari pagi.

Saya berada di salah satu SMA Negeri yang menjadi salah satu sekolah rujukan.


Kata orang, SMA Rujukan merupakan SMA yang Bunga Mawarnya berwangi Bidadari.

Tapi kata saya, “SMA Rujukan adalah dimana sikap dan tingkah laku Bunga Mawarnya sangat disiplin, serta haruslah mencerminkan ‘soft skills’ yang begitu terang dan baik hingga laik untuk dicontoh. Kedalaman pemikiran siswa-siswanya juga suatu hal yang selalu dipertanyakan hingga menjadi tuntutan”.


Pagi ini saya mengajar di lokal XI IA 2.

Sejatinya, menurut jadwal yang telah ditentukan, hari ini tugas saya hanya sebagai guru piket. Namun, karena guru yang mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia yang bersangkutan berhalangan hadir, saya mendapatkan tugas tambahan untuk menggantikan beliau.

Dari kejauhan sebelum memasuki kelas ini, saya melihat mereka ada yang bersenda gurau, ada yang diam membaca buku, dan ada pula diantara mereka yang membunuh kebosanan dengan memainkan ponsel pintar.

Dengan perasaan bangga dan penuh percaya diri saya memasuki kelas dan mengucapkan salam dengan suara lantang.

Melihat saya memasuki kelas mereka kembali duduk di bangku masing-masing, saya memberikan mereka sebuah tugas yang diamanatkan oleh guru pengampu mata pelajaran.

Ketika tugas telah saya berikan, suasana menjadi hening mereka khusyuk mengerjakan tugas itu. Di luar terdengar bunyi kicau Burung yang seakan menyemangati mereka untuk mengerjakan tugas.

Sayup-sayup terdengar pula suara bising di lokal yang berada di sebelah lokalku saat ini, lokal mereka sedang belajar Bahasa Inggris, saya kenal betul mereka sedang belajar ‘Speaking’.


Saya tersenyum manis melihat mereka yang terus semangat menyelesaikan tugas. Pena-pena mereka tiada henti bergerak meluncur menuliskan untaian retorika hasil pikiran di atas kertas putih.


Pikiran saya melayang, membawa kembali ke masa sekolah dulu. Saya tertegun bertanya “mengapa dulu saya kurang bersungguh-sungguh dalam belajar?” saya melihat ke sudut ruangan, saya kembali membayangkan bagaimana saya dulu “menggerak-gerakan kursi ke depan dan ke belakang karena resah menunggu akhir pelajaran”

Tiba-tiba saya dibangunkan oleh suara bising mereka yang telah selesai mengerjakan tugas hendak mengumpulkannya, saya tersadar kembali, dengan riang mereka memberikan tugas, lalu kembali ke kursi menunggu guru selanjutnya masuk kelas.


Saya meninggalkan kelas dan kembali duduk di ruang piket, kenangan dan siswa membuat saya ingat kembali masa-masa SMA saya, saya buka sebuah catatan harian, pada lembaran ketiganya saya menemukan sajak yang sengaja saya tulis untuk membunuh kebosanan di saat jam pelajaran sekolah kala itu.

Bait-bait tertanggal 17 Mei 2011.

Bunyinya begini:

Apakah kita akan selalu membiarkan Ilmu hanya untuk datang lalu pergi meninggalkan kita, sementara saja?
Kapan ini berlalu, kapan ini terhening, kapan ini berhenti, kapan ini akan menginspirasi, dan kapan akan terjadinya tabrakan ilmu yang sangat hangat?
Saya terdiam!
Kepada siapa akan saya lontarkan apa yang ada di dalam pikiran?
“Pikirkan apa yang di katakan, dan jangan katakan apa yang dipikirkan”.
Dengan keganasan tatapan mata, aku mulai sadar akan banyaknya ilmu yang tersimpan pada sebuah kapal.
Kapal yang seakan tak ada hentinya meluncur bagaikan badai.
Begitu ilmu yang kami rasakan.

— Dodi Abdullah, 14 September 2016

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.