Only in my Imagination

ilustrasi : NET (*)

Imajinasiku melayang ketika melihat bulan dan bintang berdampingan, diiringi oleh awan-awan yang nakal sambil menutupi sebagian terang sinar bulan. Bintang pun tersenyum di kala kedipnya menyapa imajinasiku.
Ku pandang lagi semesta alam yang hanya diterangi cayaha redup yang hampir tak tampak lagi oleh gumpalan awan nakal.

Bintang berbisik sambil berkedip kepada bulan lalu bertanya “mana sahabatmu?”, Bulan termenung mendengar tanya si Bintang.

“Temanku?” kata bulan sambil menundukkan kepala. “Ya! Temanmu mana?” kata Bintang.

Bulan mulai kesal dengan pertanyaan yang diajukan Bintang yang kemudian disusul oleh tanya bintang-bintang lain.

Sampai keesokan harinya. Datanglah teman si Bulan. Kebetulan saat itu ada satu Bintang yang posisinya dekat dengan si Bulan, lalu si Bintang bertanya dengan pertanyaan yang sama dengan saat malam “mana temanmu yang kamu janjikan itu Bulan?” Bulan pun tersenyum ketika mendengar pertanyaan itu datang lagi.

Bulan menjawab “sebentar lagi dia datang!”, jawaban itu membuat Bintang jadi tak sabaran ingin melihat teman Bulan. Perlahan-lahan teman si Bulang datang menghampiri dan “berapa lama kamu menungguku sobat? apakah kamu lelah menungguku? apakah kamu kesepian? apakah kamu takut sendirian?” tanyanya kepada Bulan.

Sambil tersenyum malu-malu berkatalah Bulan “aku merindukan pelukanmu teman, peluk aku dan jadikan pertemuan kita ini suatu bukti persahabatan kita.”
Tiba-tiba Bintang bertanya “siapa ini Bulan?”. Bulan pun menjawab “ini adalah sahabat sejatiku mari kenalkan namaya Matahari!” jawabnya dengan senyum yang begitu anggun. “Walaupun kami sering tak berjumpa, kami selalu berjanji pada waktu yang telah dijanjikan, kami selalu menepati janji ketika waktunya tiba, tak peduli dalam waktu yang panjang atau singkat, kami akan selalu jumpa. Hey, Bintang, lihat sebentar lagi kami akan menggemparkan isi semesta dengan pertemuan kami.” imbuhnya lagi.

Tiba-tiba, Bintang termenung dan bertanya penasaran “apa hal yang kalian ciptakan?” sedikit meremehkan. “Kami akan menciptakan satu gerhana sebagai bukti untuk memperlihatkan keindahan persahabatan kami dan jika saat itu datang, kami akan berpelukan dan saling melengkapi di antara cincin yang kami ciptakan, kemudian di saat yang bersamaan kami akan menepati janji lagi bahwa hari esok akan datang dan datang, datang lagi.” balas Bulan sambil mengerling kepada Matahari.

Begitulah cerita Bulan dan Bintang. Walaupun jarak yang sangat jauh tetapi dengan kesabaran dan rasa cinta-kasihlah yang akan mengantarkan mereka kepada kebahagiaan yang tak ternilai. Walau hanya akan dipertemukan sebentar saja, tetapi yang sebentar itu akan melekat di kepala-kepala bagi yang melihat dan mempercayai keberadaan mereka.


Padang, 16 Februari 2017 Dini Hari, untuk sahabat-sahabatku yang dirundung kesepian, kerinduan yang teramat dalam

“no love without freedom, no freedom without love” kata penyair
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.