Menikahimu — Kahitna

ada yang bilang tujuan akhir dari menjalin sebuah hubungan itu adalah menikah. biasanya jaman kuliah kata-kata manis dengan harapan yang dirancang sendiri dengan ekspektasi yang sangat tinggi tercipta karena diri sendiri gampang banget nih keluarnya. ya ngga salah juga, namanya juga gejolak kawula muda. semuanya harus sesuai, sesuai rencana, sesuai ekspektasi, dan sesuai dengan idealisnya masing-masing.
tenang aja, gue dulu juga gitu kok. banyak banget rencananya dan standartnya. malah saking tinggi banget standartnya malah jadi double standart hahaha… padahal ya, kenyataannya sekarang tuh jauh banget dari khayal-khayal jaman dulu.
ok, gini. namanya juga baru menemukan media baru untuk menulis lagi. pengen bagi pemikiran yang ngga bisa gue tuangin ketika siaran. jadi, alhamdulillah di usia 30 tahun gue menikah. yes, menikah dengan lancar tanpa adanya drama dari segi keluarga dan mantan kita masing-masing. tapi apakah setelah itu sesuai dengan rencana yang gue bangun ketika beranjak duduk di bangku kuliah? tentu tidak. kalau boleh cerita sedikit, rencana gue waktu itu adalah: gue menikah di usia 32 (alhamdulillah maju 2 tahun), mapan (standartnya ego pria), punya rumah yang walaupun masih dicicil, punya mobil, dan karir lagi seru-serunya. waktu itu gue sudah tau mau menentukan gue berkarir di bidang apa. berjalannya dengan waktu apakah semuanya sesuai dengan rencana?
realitanya: beberapa bulan sebelum menikah gue di-cut dari siaran (ya, punchline pertama), setelah menikah istri memutuskan pindah kerjaan karena dia merasa waktunya harus dibagi untuk rumah tangga (padahal gajinya bisa buat bulan madu ke Maldives dua bulan sekali), dan setahun setelah menikah gue resign dari perusahaan yang lama dan masuk sebagai part time ke perusahaan istri gue bekerja. punchlinenya? 2 bulan setelah gue bergabung, perusahaan lama gue merger dengan perusahaan yang sekarang. kuingin berkata kasar ya kak yang ada. well, selama akses ke bandung masih bisa ditempuh paling lama 3 jam ya gue bertahan. punchlinenya? malah jadi 4 jam. sigh.
ya gitu deh, gue ngga pernah bilang “naif” atau “halu” kepada orang-orang yang mau menikah dengan rencana yang sangat matang dan mantap. terus apakah menikah ini merupakan sebuah pencapaian dari sebuah hubungan? kalau versi gue, menikah adalah saatnya kita membangun semuanya dalam biduk rumah tangga yang dihuni oleh dua insan yang berbeda kelaminnya (gue ga bahas yang sejenis ya. please :D), berbeda sifatnya, dan berbeda pola pikir serta pola hidup. kalau semuanya sesuai dan sama namanya bukan menikah donk, kerja kelompok!
setelah oktober 2018 gue memasuki usia tahun ke-3 membangun rumah tangga yang belum ada apa-apanya dengan om tante yang sudah dua digit usia pernikahannya, gue merasakan bahwa menikah itu adalah saling memaafkan. sebenernya ya, kalau mau mengucapkan temen kita yang baru menikah, mungkin lebih bijak dengan tidak menggunakan kalimat “Selamat Menempuh Hidup Baru”, bisa menggunakan kalimat “Good Luck”
jadi, selamat menikmati “wahana” pernikahan untuk kamu yang akan segera melangsungkan pernikahan. sabar-sabar dan dihitung lagi aapa aja yang ga harus dikeluarin untuk pesta pernikahan. :))