[Reviu] Jurassic World: Film Rekayasa Genetika yang Biasa-Biasa Saja

Saya adalah satu dari sekian banyak orang yang punya ekspektasi membumbung terhadap film dinosaurus ini. Wajar rasanya berharap tinggi kepada film yang masih menjual nama Steven Spielberg, meski hanya sebagai produser eksekutif.

Untuk membuktikannya, saya memilih jadwal pertama Sabtu (13/6), sekitar 10.30 WIB. Pagi itu, auditorium 1 di Blitz Megaplex MOI tak terlalu ramai. Sepanjang baris B hanya ada saya dan April, sedangkan di baris A hanya ada seorang pria yang di tengah film seperti terlelap. Kepadatan baru terlihat mulai barisan C ke bawah.

Stigma yang mengatakan bahwa film ini tidak punya nama-nama tenar sebagai daya tarik tidak sepenuhnya benar. Selain Chris Pratt (Owen Grady) yang kebetulan baru saja mencuri perhatian lewat Guardian of The Galaxy-nya, ada nama Bryce Dallas Howard (Claire) yang sempat muncul di salah satu film Spiderman dan trilogi Twilight. Bagi Anda penggila serial Law and Order: Criminal Intent, nama Vincent D’Onofrio (Hoskins) tentu sangat familiar.

Usai Owen Grady, Chris Pratt segera menjadi Indiana Jones — Huffington Post

Sebermula tentang ambisi sekelompok cukong-cukong dengan kekayaan tak terbatas untuk membuat sebuah taman hiburan dengan segudang wahana canggih nan mutakhir berisi dinosaurus hasil rekayasa genetika. Ya, dinosaurus yang telah punah berabad-abad silam dilahirkan kembali berbekal fulus tak berbatas dan ilmu pengetahuan sekelompok ilmuwan pimpinan Dr. Henry Wu.

Simon Masrani adalah salah satu orang kaya yang dimunculkan di film tersebut. Diperankan oleh Irffan Khan, Masrani justru antitesis dari kebanyakan orang kaya di dunia nyata. Ia terlihat bodoh dan ceroboh, meski sesekali dia tampak begitu detail dalam mengambil keputusan, salah satunya adalah ketika ia meminta Claire memanggil Owen untuk melakukan pengecekan kandang Indominus Rex. Kejadian di mana segala mala berawal.

Indominus Rex adalah dinosaurus jenis baru yang direka ulang atas permintaan Masrani kepada Dr. Wu. Ia ingin Isla Nublar, nama tempat wahana tersebut berada, memiliki dinosaurus anyar untuk setiap jangka waktu tertentu. Tujuannya jelas memuaskan pengunjung wahana, dan mampu menarik pengunjung-pengunjung anyar.

Kemampuan berlebihan yang dimiliki oleh Indominus Rex, seperti berkamuflase di antara pepohonan dan luput dari sensor termal, membuat dinosaurus jadi-jadian itu seperti hantu. Melawan hantu, atau paling tidak yang seperti hantu, tentu membutuhkan pembasmi hantu–atau sejenisnya. Sayangnya, di film ini tidak ada hal-hal semacam itu. Hahaha ….

Indominus Rex yang keluar kandang akhirnya mulai mengacau seisi pulau Isla Nublar. Ia membunuh nyaris semua dinosaurus yang ia jumpai kecuali Velociraptor. Hal itu dikarenakan sebagian gen Indominus Rex yang berasal dari Raptor. Ketika Owen dan pasukan InGEN bermaksud membunuh Indominus, yang terjadi justru percakapan–dalam bahasa dinosaurus tentu saja–antara Indominus dan Raptor–yang kemudian balik menyerang Owen dan InGEN. Di film ini, Owen diceritakan sebagai mantan anggota angkatan laut (AL) yang direkrut oleh Masrani. Ia mampu mengatur Raptor untuk tunduk pada perintahnya.

Kekacauan mulai menemui titik nadir ketika Claire “meminta bantuan” Rex yang asli, Tyranosaurus Rex. Begitu kandang T-Rex dibuka, terjadilah pergulatan antara Indominus melawan T-Rex yang dibantu Raptor. Ya, raptor di sini seperti remaja yang sedang mengalami krisis identitas. Sempat terengah-engah, T-Rex akhirnya berhasil memojokkan Indominus ke dekat kolam. Dalam waktu sekejap, Mosasaurus yang diceritakan pada awal film sebagai dinosaurus yang mampu mencaplok apa saja langsung melahap Indominus seperti ketika memakan seekor hiu.

Mosasaurus yang mengakhiri hidup Indominus Rex — Superherohype

Entah kenapa saya merasa film ini terasa terlalu dipadatkan. Alur ceritanya tak bisa mengimbangi efek komputer yang luar biasa. Dan tentu saja beberapa lubang cerita yang menganga. Tidak dilanjutkannya cerita Dr. Wu setelah ia menyelamatkan beberapa sampel dinosaurus rekaannya ketika evakuasi mungkin akan menjadi awal cerita dari sekuel film ini.

Saran saya bagi Anda yang ingin menonton film ini hanya satu. Pilihlah waktu selain akhir pekan, karena lebih murah. Menonton film yang tak bagus-bagus amat sayang jika membayar mahal. Kecuali Anda seperti saya yang punya duit, tapi tak punya waktu, ya tak apalah menonton akhir pekan.

Rating 6/10


Originally published at domi.in on June 16, 2015.

Like what you read? Give dom a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.