Menyikapi kebijakan jam kerja

Sebelum memutuskan untuk full time membuat dan mengurus startup, saya bekerja di perushaan startup dan multinasional terlebih dulu. Merasakan flexible time, office hours dan remote working atau biasa disebut work from home. Di awal tahun 2015, saya sempat bekerja di 3 perusahaan yang berbeda. satu perusahaan berada di Eropa, satu perusahaan berada di Amerika dan satu perusahaan berada di Indonesia. Pada tahun 2015 saya merasakan bagaimana workflow sebuah rule kerja Remote Working, Office Hours dan flexible time ketika saya awal karir sebagai pekerja profesional. Dari 3 jenis jam kerja yang pernah saya rasakan, memiliki kelebihan dan kekurangan dalam effort mengerjakan sebuah pekerjaan.

Beruntung saya berada di Gen Milenial yang memiliki pergaulan dan mindset bekerja seperti Gen-X. Pengalaman kurang dari 2 tahun sebagai profesional kerja dirasa kurang cukup jika melihat pengelaman. Akan tetapi, sebuah pengalaman yang panjang akan kalah dengan seseorang yang memiliki pengetahun dan pergaulan yang baik. Saya tidak meng klaim kalau saya memiliki pengetahuan dan pergaulan yang baik, tapi saya mencoba untuk mengambil pelajaran dari pergaulan yang saya miliki menjadi pengetahuan yang bisa saya implementasikan di kemudian hari.

Tulisan ini bukan merupakan sebuah curhatan, tapi pelajaran bagi siapa saja yang memiliki keinginan membuat sebuah perusahaan sendiri di masa muda.

Pada dasarnya saya tidak memiliki kemampuan leadership yang baik, tapi setidaknya saya memiliki pengetahuan dasar bagai sebuah kata “Leadership” itu bekerja.

Saya ingin semua tim memiliki pandangan yang sama tentang visi dan misi yang berada dalam sebuah perusahaan, agar semua meiliki tujuan, pemikiran dan hati dalam satu wadah. Di startup yang sedang kembangkan, saya tidak menerapkan sebuah kebijakan cuti, libur, absensi bahkan jam kerja. Sakit kepala dikit aja bisa ijin gak masuk, diare dikit aja bisa ijin gak masuk, bahkan ada yang mendahulukan kepentingan diri sendiri ketimbang urusan perusahaan di saat weekday dan pada akhirnya urusan perusahaan terlantar. Kebijakan seperti pembatasan cuti, ijin sakit yang spele dan absensi tidak saya terapkan dalam perusahaan. Karena rata-rata yang bekerja adalah Generasi Milenial yang sangat riskan untuk memberontak karena kebijakan dan cenderung akan menjadi kutu loncat untuk mendapatkan benefit dari perusahaan yang lain. Salah satu imbalan terbaik yang saat ini perusahaan berikan kepada tim adalah “Kebebasan waktu untuk bekerja”.

Di awal cerita, saya mebahas beberapa jenis jam kerja, saya akan coba jelaskan sedikit bagaimana seharusnya mengartikan sebuah kebijakan jam kerja.

  1. Office Hours merupakan sebuah kebijakan jam kerja di banyak perusahaan. Perusahaan menerapkan kebijakan 8 jam kerja dengan menentukan jam masuk dan jam pulang. Keterlambatan terkadang menjadi sebuah sangsi dan bisa menjadi acaman SP, karena bisa dikatan seorang karyawan tidak bisa mematuhi perturan dan tidak dapat bekerja dengan baik.
  2. Remote Working / Work From Home merupakan sebuah kebijakan jam kerja yang biasa diterapkan oleh perusahaan luar negeri. Ini juga memiliki kebijakan 8 jam kerja, tapi kedaan bekerja di rumah atau di tempat yang biasa di gunakan untuk bekerja seperti cafe, co-working space dan lainnya. Terkadang Remote Working juga di terapakan jam mulai dan jam selesai seperti Office Hour. Tapi kenayamanan tempat bekerja menjadi pilihan masing-masing karyawan. Bagi perusahaan yang tidak menerapkan jam mulai dan jam masuk, karyawan biasanya menentukan sendiri jam kerja nya sesuai dengan keleluasaan yang di miliki dengan catatan setiap hari ada progress yang di capai.
  3. Flexible Time merupakan sebuah kebijakan yang cukup menguntungkan bagi karyawan. Mereka diberika keleluasaan untuk menentukan jam masuk ke kantor, dengan catatan 8 jam kerja.

Jika sebuah kebijakan jam kerja yang bisa memberikan kebebasan kepada setiap karyawan yang diberikan oleh perusahaan, maka jangan disalah artikan. Manfaatkan sebaik mungkin.

Kebijakan jam kerja seperti apa yang akan kita tentukan, tergantung bagaimana kita menentukan ketegasannya.

Semoga menjadi catatan positif untuk siapa saja yang diberikan dan menentukan sebuah kebijakan jam kerja. Semoga bermanfaat.

Cheers,

Indra