Dossier #10: Hujan!
Hujan dan hidup belakangan.
Bandung mulai mendapat tamu semesterannya: hujan. Langit mulai semakin sering mengguyur Bandung, rutin setiap hari malah, menyerbakkan bumi dengan harum tanah basah. Momen-momen hujan membuatku berteduh membawaku berlamun akan persepsiku akan hujan di masa yang lalu.
Saat aku kecil, hujan adalah tempat bermain terbaik. Meski memoar tentang bermain hujan sudah mulai luput dari ingatan, aku masih ingat nikmatnya bermain bola sepak dengan kuyup. Lalu pulang ke rumah, mandi membilas, lalu boleh tertidur lelap.
Kala aku beranjak remaja, imaji kala hujan menjadikannya romantis. Sesederhana membayangkan saat sudah dewasa nanti, menikmati semangkok bakso bersama seorang terkasih di sisi. Tak berhenti di situ, di penghabisan masa SMA pun aku sangat menikmati hujan saat makan — baik kaki lima atau restoran kalau ada uang — atau ngopi. Khayalku, kala itu, nanti di Bandung momen-momen ini akan jauh lebih romantis, apalagi kalau ada yang menemani.
Pun bila menengok setahun terakhir, hujan adalah suatu latar tempat, waktu, sekaligus suasana. Hujan adalah tempat terbaik untuk merenung. Dari dalam mobil, kaca kamar, atau bahkan dari Lobby Amarta Grand Indonesia, hujan adalah tempat terbaik untuk membiarkan otak menelurkan sejuta tanya. Terdengar sangat indie dan cengeng, namun percaya saya, tidak segembel itu. Pun kala hujan adalah waktu terbaik untuk merasa sedih. Jarangnya kita merasa sedih, dan kultur kita yang kerap mengenyahkan rasa sedih, membuat sedih kehilangan makna positifnya. Demikianpun, hujan tetap mendapat privilege untuk menjadi kala terbaik menuntaskan rasa sedih. Istilah “hujan di luar, basah di pipi” — meski sampah sekali — sekali dua kali menjadi kenyataan. Maka apalah hujan itu kalau bukan suatu suasana yang dirindukan? Biarkan Album “Sendiri”-nya Chrisye, atau Klakustik-nya Kla Project mengalun, beradu dengan bising hujan yang menghantam bumi, sisalah badan yang tegang, maka kendurkan bahu yang terlewat tegap itu, dan izinkan mixed feelings, gembira karena hujan sekaligus sedih akan suasananya, merasuki tubuh.
Namun kini, hujan bukan tempat untuk bermain. Tiga sepatuku basah karena hujan yang berturut-turut membasahi Bandung bukan hanya membuatku kehabisan alas kaki, namun juga membuat para bakteri kecil hinggap di kakiku, menjadikannya rumah baru. Bergumul dengan kaki (dan sepatu) yang bau bukanlah hal yang mudah, sungguh.
Tak sesederhana itu. Kaki yang bau bukan modal yang baik untuk menggaet perempuan. Wajah yang sedikit di bawah standar dan otak yang tidak encer sudah menghambatku untuk bisa berkenalan dengan proper dengan perempuan, apalagi beban psikologis (dan beban fisik, tentunya) bertitel bau kaki. Jangankan untuk mewujudkan imaji, aku takut bau kaki ini menghambatku untuk bahkan bisa berkhayal menyantap semangkok bakso dengan dia yang dikasihi.
Maka, apa yang menyenangkan, satu tersisa dari hujan, adalah bagaimana aku tetap melihat hujan sebagai suatu suasana. Suasana untuk merenung, suasana untuk berefleksi.
Hari yang lalu, aku sedang duduk di salah satu sekretariat unit di Sunken Court ITB ketika hujan perlahan turun. Tanpa berpikir panjang, aku berlari kecil ke pintu rahasia di Sunken, memesan indomie kuah dengan telur setengah matang, meminta Bapak mengantarnya ke Sekretariat Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan. Tidak lama, Bapak penyelamat datang membawa semangkuk surga dalam rasa ayam bawang. Merepetisi bagaimana menikmati hujan saat masih di Jakarta, aku merasa tepat untuk sedikit merenung. Aku menatap dalam-dalam, nanar-nanar, mengikhlaskan kaki yang bau*, meresapi hati yang sendu, dan menyendu hujan yang bertalu, mendayu.
*Penulis sudah sembuh dari penyakit biadab ini.
Dossier adalah tulisan-tulisan acak tentang dunia dari paradigma saya, yang terus berevolusi menjadi semakin “ideal” secara subyektif.
