Jam Tidurku Berubah
Sejak bulan puasa tiba jadwal tidurku bergeser, semalaman tidak tidur dan aku ganti setelah jam enam pagi, kadang - kadang bangun jam delapan, sering juga bangun jam sepuluh. Minggu pagi tadi aku bangun jam sembilan tapi sebelumnya pas jam delapan terbangun karena mimpi agak aneh.
Didalam rumah aku dengan ibu dan adikku, mereka berdua aku peluk erat. Hujan sangat lebat, guntur saling bersautan. Genteng rumah sampai runtuh, tapi kami bertiga tidak tertimpa sedikitpun. Ibu dan adik ketakutan, namun keduanya aku yakinkan bahwa tidak akan terjadi apa - apa.
Dalam mimpi itu aku mencoba mengendalikan hujan, memang pada kenyataanya aku punya mantra khusus untuk menyingkirkan hujan. Mantra itu mantra jawa. Aku terbangun kaget. Setelah yakin bangun dan tahu kalau tadi hanya mimpi, aku tidur lagi sampai jam sepuluh.
Didepan kamar masih sepi, hanya suara mesin molen dan tukang bangunan yang berisik dari pagi.
Biasa, seperti anak yang lain, benda pertama yang dicari saat bangun adalah handphone, mengecek ada tidak pesan atau panggilan masuk, serta mengecek notif dari media sosial. Pagi tadi banyak pemberitahuan, panggilan tak terjawab ada dua dari wali santri semua. Sedang notif dari media sosial ada banyak, biasanya memang kalau sudah nulis status dan nulis dikompasiana aku suka ngecek laku tidaknya tulisanku.
Di facebook atau dimedia yang lain misinya sama, yaitu belajar menulis. Tapi khusus di facebook aku merasa bahwa tugasku adalah menjadi penghibur, jadi jarang sekali aku membuat status yang serius. Toh kalau serius pasti diakhir kalimat aku selipkan kata yang mewajibkan pembaca untuk tertawa.
Di kompasiana beda lagi, disana aku lebih asik menulis fiksi. Sampai sekarang (26/6) sudah ada 40 tulisan yang aku posting, hanya beberapa yang tidakk fiksi. Itupun hal hal ringan.
Setelah beres membuka buka media sosial aku lanjutkan mandi pagi, sebenarnya ini mandi agak siang sih. Lha wong sudah jam sepuluh. Oh iya sebelum mandi aku cukur kumis terlebih dahulu, nampaknya sudah terlalu panjang kumis ini, rasanya geli geli gimana gitu. Pengennya sih punya kumis yang panjang dengan rambut acak - acakan khas penyair, tapi dengan wajah yang tidak begitu cerah, banyak teman yang protes, katanya tidak sedap untuk dipandang.
Seharian ini banyak tulisan yang aku baca, tulisan - tulisan headline di kompasiana tak terlewatkan pastinya. Aku selalu kagum dengan tulisan yang begitu renyah, apalagi penulisnya sudah berumur kepala lima, beliau - beliau masih semangat membagikan semangat dan ilmunya kepada orang lain. Salam takdzim dari si dul mbah, kulo bocahmu.
Tadi setelah waktu tarawih aku sempatkan memposting puisi ke kompasiana, judulnya : Oh wangimu taman kembang. Puisi itu sudah lama aku tulis di note tapi baru malam ini aku mempostingnya. Menceritakan dua orang yang dimabuk cinta, wanita sudah berstatus istri orang tapi diajak bercumbu dengan lelaki yang bukan suaminya.
Begitulah kegiatan kang kartono seharian ini. :p