Menderas kenanganmu

Jalanan ramai 
Masjid mushola serta selok selok 
Semua menderas 
Juga benda mati dipaksa paksa menderas ayatMu

"Kau sudah berapa lembar"

Ini sudah puasa kedua

Semangatmu masih hijau atau sudah kuning daun layu

Namun tidak padaku
Selalu hadir tanya; kau menderas kitab suci 
Atau menulis puisi hari ini
Dan keduanya kabur 
Seperti angan mendapatkanmu 
Luruh seluruh penuh

ini bulan lipatan 
Rekaat, shodaqoh dan segala macam yang nampak ibadah menjadi berkali kali

Dan menderas kenangan dalam kepalaku aku anggap dosa 
Larangan yang tidak perlu dilakukan

Tololnya 
Aku selalu membiarkanmu hadir 
Merusak sel sel otak rapi 
Lalu aku pun lemah 
Serupa badan yang puasa; tidak saur ataupun berbuka

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.