Sholat Ied Dan Adiku Yang Sakit

Sampai menjelang sholat I’d aku masih bingung menentukan agenda nanti selepas sholat langsung pulang kerumah lalu sungkem dengan orang tua atau nanti sore saja. Kejadian dua bulan yang lalu masih menyisakan kekecewaan dihatiku.

Waktu itu aku berpesan kepada orang tua dan kakak - kakakku bahwa penyakit adek itu jangan dibawa ke rumah sakit jiwa atau jangan di kasih obat penenang sebab adek bukan gila. Dia hanya tertekan, alam bawah sadarnya kacau. Oleh sebab itulah dia kalau bicara tidak ada rasa malu, meski yang dibicarakan perihal rahasia pribadi.
Tapi karena keluarga tidak sabar, tanpa sepengetahuanku adiku benar dibawa ke polijiwa, aku marah mendengarnya.

Sebagai perempuan, adek orangnya sangat tertutup, tidak mungkin dalam keadaan sadar mau dengan jelas menceritakan tentang asmaranya.

Waktu itu hari selasa pagi satu bulan sebelum dibawa ke polijiwa, adek mengacak acak lemari kakak iparku, mencari pakaian untuk dipakai, katanya. Emak khawatir akan terjadi hal yang tidak diinginkan, meminta keponakan menelponku, menyuruh agar aku pulang saja menemani adek. Dari ketiga kakaknya aku yang paling dekat dengan adek.

Sesampai dirumah aku langsung membujuknya agar tenang. Aku ajak dia ke kamar, saling cerita biar kekacauan difikirannya tertata lagi.

"Kak jangan pergi lho" pintanya setelah kami berada dikamar

"Iya nduk, kakak temani kamu sampai kau benar - benar sembuh" jawabku sambil mengelus elus kepalanya, aku yakin kasih sayang keluarganya akan mempercepat kesembuhan adek.

Tiga hari sebelum kesadarannya terganggu dia terkena tipus, sempat dirawat dipuskesmas selama dua hari. Aku berfikir bahwa kesadarannya terganggu akibat panas tubuh yang tinggi. Namun keluarga dan saudaraku tidak begitu percaya dengan omonganku.

"Adikmu ini sepertinya terkena ganguan jin le, lihat dia bicara seperti tidak dirinya" kata siswo saudara sepupuku saat melihat adiku terus - terusan ngromyang.

"Tapi.."

Belum selesai aku menyangga, siswo memberikan saran agar adiku diobati dukun kepercayaanya.

"Sudah nanti biar mas ahmad yang mengobatinya, dia jago dalam hal gaib"

Mas ahmad ini dukunnya siswo yang kerap dimintai bantuan perihal metafisik, satu tahun lebih muda dariku.

Tidak lama setelah ditelpon siswo, mas ahmad datang dengan temannya. Ia mengajak bicara adikku sebentar. Lalu meminta aku dan siswo menemani mas ahmad mediasi dikamar sebelah yang sudah disiapkan.

Matanya berubah merah, tingkahnya seperti orang tua. Oh ini yang disebut mediasi dengan jin.

"Ooo den baguss, adikmu iki kena guna - guna teman kampusnya"

Meskipun seperti menyakinkan, dalam hati kecilku masih belum percaya kalau yang bicara didalam diri mas ahmad itu jin yang mengganggu adiku. Entah lah aku juga sudah lama bergelut dengan dunia mistik, toh belum sekalipun punya pengalaman bertatatp muka langsung dengan makhluk gaib.

Jin yang ada didalam tubuh mas ahmad menyarankan aku untuk membuang entong pisang yang sudah ditirakati ke sungai, serta mewiridkan beberapa asma' 900 kali Katanya hanya aku yang sanggup melakukan.

Ritual itu hanya aku lakukan sekali, sisanya aku memilih caraku sendiri yaitu dengan sering - sering mengajakknya bicara sambil mengalirkan energi kasih sayang. Benar saja, tujuh hari aku merawatnya dikamar pada hari ke delapan adiku pulih.

**

Aku masih duduk dikamar pondok menanti siang sambil menikmati sepi dan kopi, teman - temanku semuanya sudah mudik, barangkali mereka sekarang sedang menyantap opor, foto - foto bersama keluarga dan pastinya mereka bahagia.

Kudus, 6 Juli 2016

Selamat Lebaran 😉