Banyak sekali yang mau gue lakukan.
Gue mau jadi putri, hidup di kastil, dan dijemput pangeran berkuda putih untuk akhirnya menikah pakai gaun lucu dengan kepala dihiasi mahkota bunga-bunga.
Gue mau belajar tari balet, tapi nggak bisa karena dulu terhambat biaya. Akhirnya cuma bisa ikut tari tradisional di taman kanak-kanak, itu pun nggak pernah dilanjutkan karena nyokap gue bilang menari itu capek. Sekarang gue sudah lupa caranya menari. Badan gue sudah kaku dan nggak bisa sinkronisasi anggota tubuh secepat dulu lagi.
Gue mau les Bahasa Inggris. Jujur, ini parah banget inginnya. Berkali-kali gagal karena terhambat biaya dan dalih kesukaan nyokap gue, “kakak kan, sudah bisa Bahasa Inggris.”
Gue mau jadi penyanyi. Karena gue berpikir, jadi putri nggak mungkin. Belajar balet sudah coret banget karena terlalu tua dan les Bahasa Inggris juga sepertinya nggak akan pernah terjadi. Gue sempat nyaris daftar kompetisi menyanyi, tapi nyokap gue bilang suara gue masih standar. Nggak unik. Butuh dua-tiga bulan ikut les vokal baru bisa punya ciri khas yang akan meloloskan gue di sebuah audisi kontes menyanyi. Oke, coret.
Gue juga ingin punya band. Main teater musikal. Nyokap gue bilang teater itu capek. Gue nggak punya cukup teman untuk membentuk sebuah band. Coret, coret.
Gue mau ke luar negeri. Sekali, dua kali, tiga kali. Seluruhnya ditolak. Bayar sendiri, dibayar penuh oleh penyelenggara, tetap ditolak. Alasannya cemas, takut gue kenapa-napa. Coret lagi.
Gue mau bisa melakukan ini dan itu. Mau punya cukup waktu untuk ini dan itu. Tetapi makin hari yang gue dapatkan cuma diri gue yang nampaknya nggak bisa mengikut trek hidup. Berantakan, kocar-kacir, kesana dan kemari. Hidup gue sekarang.
Gue berkali-kali berusaha tetap ada di trek yang sama. Mencatat kegiatan gue yang sudah dilakukan, yang akan dilakukan, rencana gue ke depan, dan banyak hal lainnya agar gue bisa tetap ingat dan tetap terorganisir.
Tidak berhasil.
Gue berubah setiap hari. Sedetik punya aspirasi jadi novelis, malamnya ingin jadi podcaster, sore dua hari ke depan gue ingin berkelana mengelilingi dunia, lima detik kemudian gue mau mengunjungi seluruh museum seni untuk jadi pengamat dan perasa segala emosi yang bisa gue serap dari sana, lalu ketiduran. Mimpi dikejar-kejar orang, terbangun dalam kenyataan kalau gue tidak punya penghasilan, perempuan dua puluh tahun yang tidak tahu hidupnya mau dibawa kemana serta akan jadi seperti apa.
Oke, gue tau semua orang pun merasakan yang sama. Kepala dua adalah masa-masa di mana seluruh beban nampaknya ditimpakan pada kedua bahu lo dan dunia yang terus berharap kalau lo bisa melakukan lebih dan lebih lagi.
Mungkin gue memang bisa melakukan lebih. Mungkin gue memang bisa jadi pebalet, penyanyi, punya band, bahkan jadi putri yang pakai gaun warna merah muda salem.
Tapi mungkin gue memang payah. Mungkin ada jalan lain yang sudah diukirkan khusus untuk gue. Mungkin gue memang sudah takdirnya terkungkung dalam rok span dan blus, di dalam sebuah kubikel kecil di lantai delapan sebuah gedung perkantoran.
Bisa jadi mimpi gue hangus untuk satu dan lain alasan. Bisa jadi semuanya mampu dijadikan pelajaran.
Tapi sumpah, gue sedang tidak minat.
