Boikot Produk Israel.

Kita memboikot karena tidak sepakat Israel menyerang Palestina. Titik. Tidak perlu perjelasan yang mengaburkan.

Seorang teman membuat status di facebook tentang boikot produk israel. Ironis memang, facebook sendiri produk mereka. Berikut ini statusnya:

Tak melulu soal kualitas yang jadi pertimbangan, tapi juga harga. Hanya selisih Rp 100,- membuat kita lebih memilih membeli barang di tempat lain dibandingkan di toko yang dimiliki pribumi. Bahkan, lucunya, kita kerap kali bangga ketika berhasil membel sesuatu di pedagang kaki lima atau toko kelontong dengan harga yang murah, setelah melalu proses tawar menawar.
Ya, saat kita membeli rambutan di pinggir jalan, misalnya, kita akan menawar agar harga bisa turun setengahnya atau berkurang seribu-dua ribu. Jika berhasil, kita “umumkan” ke tetangga-tetangga bahwa harga yang kita dapatkan jauh lebih murah.
Ironisnya, di saat yang sama, kita tak pernah menawar saat berbelanja di hypermarket atau supermarket. Dengan santainya kita ambil setiap barang yang kita inginkan.
Berbeda dengan kisah seorang Yahudi yang sedang menunggu taksi di salah satu sudut kota Tokyo, Jepang. Ia hendak kembali ke hotel, tempatnya menginap. Baru beberapa menit ia menanti, sebuah taksi datang. Sesaat terjadi dialog antara Si Yahudi dan supir taksi, hingga akhirnya taksi tersebut bergerak menjauh.
Orang Yahudi itu kembali menunggu taksi berikutnya. Tak lama berselang sebuah taksi menghampirinya. Seperti yang pertama, taksi tersebut lantas pergi setelah terjadi percakapan singkat antara Si Yahudi dan supir taksi. Kejadian serupa terus berulang sampai sembilan kali. Baru pada taksi ke-10, adegan tersebut berakhir.
Apa yang terjadi? Ternyata ia hanya mau naik taksi yang dimiliki oleh sejawatnya: orang Yahudi. Sembilan taksi yang ia berhentikan tak mau dinaikinya karena bukan dipunyai oleh orang Yahudi. Ia rela menunggu cukup lama dan berkorban waktu cuma untuk mendapatkan taksi Yahudi. Sebuah ukhuwah yang luar biasa.
Apa yang dilakukan oleh orang Yahudi di atas merupakan salah satu rahasia dibalik suksesnya mereka menguasai dunia. Uang yang ia bayar saat naik taksi tak akan lari kemana-mana. Just for Yahudi! Bayangkan jika itu dilakukan oleh beberapa juta orang Yahudi di segala sektor bisnis. Yang akan terjadi adalah efek domino luar biasa.
Uang akan berputar-putar di antara mereka yang kemudian keuntungannya dikembangkan untuk memajukan perusahaan dan membuka bisnis baru. Terus begitu hngga akhirnya menggurita. Dan hasilnya seperti yang kita saksikan saat ini. Hampir tak ada perusahaan besar di dunia yang tidak dimiliki atau berafiliasi dengan kaum Yahudi.Dan akhirnya mereka menjadi Negara adidaya sejati. Tak takut meski harus menyerang Mavi Marmara di perairan internasional.
Tahukah Anda jika apa yang dilakukan oleh orang Yahudi itu juga dilakukan oleh Ustadz Ferry Nur, salah seorang relawan Freedom Flotilla. Sekitar Februari lalu saya bertemu dengannya dalam acara reuni pengurus LDK Nurul ‘Ilmi Universitas Nasional. Saat disodorkan Aqua, ia menolak dan lebih memilih air putih tak bermerk.
Jika hal semacam ini diikuti oleh ratusan juta umat Islam di Tanah Air, dapat dibayangkan dampak yang terjadi.
Saatnya kita melakukan hal-hal kecil dan sederhana: mencari produk yang bukan buatan Yahudi dan tidak egois—merrasa kelompoknya paling benar sendiri. Mulailah dari diri kita sendiri agar menjadi teladan bagi orang di sekitar kita.

Saya sepakat dengan boikot produk israel. Tapi dengan penjelasan seperti ini, sebagai muslim yang juga pedagang, logika saya terusik. Kritik saya adalah membeli dari hanya orang muslim, yang kedua dengan mengikuti cara orang Yahudi.

Hal pertama, apakah Nabi Muhammad berdagang dengan cara ini? Apakah beliau dalam berdagang hanya membeli suplai barang dari orang muslim? Kedua, apakah perlu sekali mencontoh cara berdagang dan membeli dari Yahudi? Bukankah Nabi Muhammad adalah sebaik-baiknya contoh? Apakah benar itu arti ukuwah yang luar biasa? Yup, saya mungkin tidak tau apakah nabi pernah menerapkan hal seperti ini. Tapi sejauh yang saya baca tentang cara Nabi berdagang, beliau tidak melakukan hal seperti ini.

Ketiga, saya khawatir pemahaman ini akan mengarah pada sesuatu yang tidak baik lain yaitu Nepotisme. Tentu bila dengan memahaminya dengan keliru. Seseorang membeli sesuatu karena kedekatan pada kaumnya. Hal ini akan menjadi tidak adil. Kerap saya mengetahui hal ini terutama dalam tender pemerintahan atau perusahaan. Meski produknya jelek, harganya mahal, dan vendor tidak bertanggungjawab, namun bisa menang karena faktor kedekatan, entah agama, partai, atau lainnya.

Niat saya hanya mengingatkan, semoga tidak terjadi kesalahpahaman.

Salam.

Email me when Danu Pujiachiri publishes or recommends stories