Pilihan dalam Bergerak

Bergerak itu baiknya dari satu titik ke titik lain yang lebih baik. Entah tertarik dengan titik yang baru atau muak dengan titik yang lama. Atau pengaruh luar yang memaksa bergerak. Entah kemana.

Seorang kawan kuliah berasal dari suatu desa di Jawa Tengah. Orang tuanya bertani kentang dan hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari. Anaknya bisa kuliah di UI mungkin hanya mimpi bagi mereka. Hingga suatu ketika kesempatan itu hadir. Mereka mengupayakan segalanya untuk kawanku itu. Bahkan, adiknya sendiri ikut bekerja mencari uang agar sang kakak bisa berangkat.

Saya sudah kuliah lebih dulu dibanding dia. Senior yang menyambut kawan baru melalui acara penerimaan. Acara penerimaan mahasiswa baru (maba) yang biasanya agak berlebihan.

Saat itu saya terlambat ikut acaranya. Ketika sampai, ada seorang maba sedang ditenangkan di ruang sebelah. Saya menuju sana. Ia sedang menangis meraung-raung. Terlalu meraung hingga kami mengira ia kesurupan. Tidak bisa dihentikan.

Usut punya usut, ternyata ia menangis karena bukunya disobek senior. Buku tugas yang harus diisi sebanyak mungkin tanda tangan senior. Alat untuk menjadi alasan maba berkenalan. Perihal bukunya disobek sebenarnya sederhana. Bukunya terlalu sedikit memuat tanda tangan, tanda ia enggan berkenalan.

Perihal ia menangis lain cerita, dan tentu tidak sederhana. Ia merasa hatinya terluka karena buku tersebut ia beli dengan uang dari adiknya. Ia tidak terima perjuangan adiknya di sia-siakan orang lain. Ia memang orang miskin dan tidak siap dihina seperti itu. Emosinya meledak dalam luapan tangisan. Saat bukunya disobek, yang terbayang adalah wajah adiknya melepas ia berangkat ke Jakarta.

Menjelang sore, tangisnya mereda. Ia diminta bertemu dengan dosen pendamping kemahasiswaan. Di ruangan sang dosen, ia ditenangkan dan diminta pulang. Besoknya ia diminta kembali ke ruangan dosen tersebut.

Esoknya, sang dosen mengajukan pertanyaan pembuka, “Ngapain kamu ke sini?”. Saya diminta ke sini kemarin pak, jawabnya. Dosen itu mengulang pertanyaan dengan nada meninggi. Ia menjawab lain lagi. Hingga pertanyaan ulang ke lima saat ia menjawab, “Saya mau kuliah”, baru sang dosen menghentikan pertanyaan.

Pertanyaan yang ke dua. “Kamu miskin ya?”. Ia menunduk dan mulai bercerita latar belakang keluarganya. Ia bercerita bagaimana ia menumpang tinggal dengan kosan maba lain. Juga banyak bantuan ia terima dari kawan barunya. Ia merasa beruntung.

“Terus kenapa kalau miskin?”, sang dosen menghentikan ceritanya. “Kamu mau menjual kemiskinan mu? Kamu mau kuliah atau mengemis?”

Ia tersentak. Ia tidak siap dengan pertanyaan itu.

“Jangan pernah menerima sesuatu tanpa usaha. Bilang sama teman mu, aku ga bisa ikut patungan kos sekarang. Hitung semua hutang lalu ganti nanti saat kamu bisa. Lakukan yang kamu bisa supaya kamu dapat uang. Kamu lelaki kan? Kamu sehat kan? Memangnya kawan kamu itu dapet uang dari mana? Orang tuanya kok. Memangnya uang sendiri?”, sang dosen terus menyerocos dengan terkadang anggukan sebagai jawaban. Petuahnya berlanjut hingga pertanyaan terakhir, “Kamu mampu?”

Kawanku mengangguk. Tidak lagi menangis. Dalam hatinya bertekad untuk berdaya. Ia berjanji memulainya saat itu juga.

Kawan saya tersebut sekarang sudah lulus dan bekerja. Terakhir dapat kabar ia berkerja di Kalimantan. Sudah ga polos lagi, dan kadang agak nakal. Haha..

Kisah ini sering terlintas dalam kenangan saya. Terutama bila ingin membantu orang atau suatu komunitas. Mau berperan sebagai apa saya? Menjadi kawannya yang membantu cuma-cuma meski uangnya juga dari orang tua, menjadi dosennya yang mendorong untuk mandiri, atau menjadi orang yang akhirnya memberi pekerjaan di sela ia kuliah.

Semua pilihan baik, dan semua pilihan benar. Cuma sudut pandangnya saja yang berbeda.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.