Waktu berlalu begitu cepat, seakan kita berdua berkejaran menuju tanpa batas. Tak sengaja di sela waktu itu aku bertemu dengan seorang yang berlari, namun ini bukan pemandangan yang biasa. Ia tidak berlari berkejaran bersama waktu namun ia dalam satu irama, ia berlari dalam sebuah keharmonisan yang padu. Aku melihat sikapnya yang tenang. Sikap yang tak biasa di era serba cepat ini. Sampai suatu ketika aku melihat jejaknya yang begitu terstruktur dan terukur perlahan namun pasti seolah dia sudah tahu kemana dia akan menuju. Langkah kaki yang meyakinkan itu membuat dirinya seolah yakin akan apa yang ia tuju. Nuraniku bergumam,pikiranku membeku dan kakiku terpasung oleh fenomena ini. Sejenak aku mengosongkan pemikiranku dan mencoba mengikuti apa yang ia lakukan. Aku tidak mengikuti jejaknya namun kuikuti bagaimana cara ia menjejakan kaki. Jejak kaki yang sangat padu yang mempunyai pola kesederhanaan akan hubungan manusia dan waktu.
Perlahan aku mencoba mengikuti langkah demi langkah, hingga hari demi hari. Sesaat aku menyadari sesaat bahwa hal ini ternyata penuh kesederhaanaan.Ia memang terlihat perlahan namun pasti. Ia memang terlihat lamban tapi semakin jauh. Rasanya menjengkelkan, namun tak apalah proses ini perlahan aku nikmati. Sampai ketika aku bisa merasakan manfaat dari langkah yang terstruktur ini. Walaupun belum benar yang penting aku tetap mencoba. Tertanam dalam diriku hal-hal yang tak pernah kuduga dari saat mencoba mengikuti cara melangkahnya. Konsistensi dan kesabaran menjadi hal yang erat yang berjalan bersama ku. Cara-cara itu mulai menjiwai setiap perpindahanku dari satu tempat ke tempat yang lain. Dan aku sadar aku di ajari hal yang tak ia ajari. Aku memahami hal yang ia tak pahamkan.
Oh ternyata ini, ing ngarsa sung tuladha.
Like what you read? Give Dwangga Rizky a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.