Selebgram Tak Sepenuhnya Bersalah atas Tren Pernikahan Mewah

Ada hal lebih besar yang bisa disalahkan oleh para muda-mudi bergaji pas-pasan.

Pembicaraan di media sosial selalu didominasi oleh tren. Siapapun yang sudah terlanjur hanyut di dalam kuat arusnya, pilihannya hanya dua; berusaha untuk tetap dianggap relevan atau kehilangan relevansinya sama sekali.

Usaha untuk menggapai pilihan yang pertama pun tak selalu berjalan elok. Pergantian tren yang cenderung tak bisa dikontrol tak jarang — disadari atau tidak — memaksa seseorang untuk terus mengubah dirinya agar bisa ‘diterima’ dan tetap menjadi bagian dari konteks sosial yang sedang dihadapinya, meski mungkin sebenarnya tidak perlu.

Belum lama ini Mojok.co menerbitkan tulisan yang bagi saya pribadi cukup menggelitik, judulnya ‘Terima Kasih Selebgram, Telah Menaikkan Standar Pesta Pernikahan Kami’.

Melihat dari judulnya saja, siapapun mungkin sudah bisa menebak apa yang menjadi poin inti dari tulisan tersebut. Dengan gaya penuturan yang ngehe, si penulis dengan santai membahas bagaimana Instagram telah menjadi acuan baru bagi standar gaya pernikahan di masa sekarang.

Salah satu poin dalam tulisan ini secara cukup keras menyindir selentingan populer di masyarakat tentang kerelaan seseorang untuk berhutang demi menciptakan pesta pernikahan bergaya extravagant.

Apa tujuannya? Pada umumnya ada dua hal, selain agar tidak menjadi pembicaraan para tetangga serta saudara yang julid, hal ini juga perlu dilakukan untuk bisa memiliki hajatan yang terlihat semirip mungkin dengan dengan pesta sang panutan, The Selebgrams.

Bukan sepenuhnya salah selebgram

Meski tidak dibahas lebih jauh, penulis berhasil menyebutkan satu kata kunci yang kemudian bisa digunakan sebagai pembuka diskursus atas asal muasal lahirnya fenomena tersebut, yakni ‘konsumsi’.

Yup, kata tersebut yang kemudian mendorong saya untuk melihat hal ini dari perspektif yang lebih luas. Selebgram tentu tidak lahir dengan sendirinya, begitupun dengan Instagram itu sendiri. Kedua hal ini adalah segilintir produk yang lahir dari kebutuhan masyarakat akan hal fesyen yang terus berubah dan/atau bertambah dengan adanya pengaruh dari keadaan sosial.

Meminjam logika Venkatasamy (2015) dalam tulisannya yang berjudul ‘Fashion Trends and Its Impact on Society’, menjadi tak begitu mengherankan apabila ada seseorang yang rela melebihi batas kemampuan dirinya dalam membuat pengeluaran keuangan. Sebab, fesyen dalam artian yang lebih luas tak hanya memegang peranan penting dalam pemenuhan sisi estetika saja, namun juga sebagai medium penegasan keadaan sosial dari seorang individu.

“In the society, the individual’s appearance is the ticket to transmit non verbal communication signals such as possible cues about his/her social stature, values and lifestyle,” tulis Venkatasamy.

Hal itulah yang kemudian secara umum diasumsikan sebagai salah satu penyebab lahirnya budaya konsumerisme di masyarakat. Gelontoran barang atau jasa yang tersedia di pasar tidak lagi dikejar sekadar untuk memenuhi kebutuhan dasar saja, namun sudah mengalami pergeseran fungsi menjadi sarana untuk memaksimalkan hasrat konsumsi sembari berupaya meningkatkan status sosial.

Sialnya, kita tak lagi tinggal di era feodal atau pra-kapitalis di mana tren yang berlaku ditentukan hanya oleh kalangan masyarakat ekonomi menengah ke atas saja. Menurut Venkatasamy, kehadiran teknologi informasi saat ini telah berhasil menghapuskan batasan tersebut. Setiap orang cenderung memiliki kesempatan yang sama untuk ‘bersaing’ menentukan tren tanpa harus menjadi kaya secara ekonomi terlebih dahulu.

“Today’s world is driven by knowledge and experience providing chance for every individual to experience and appreciates a moment which is no way decided by their monetary status…And knowledge being a common platform where rich and economically vulnerable alike compete on equal terms,” jelasnya.

Sementara itu, tidak ada yang berubah dengan prinsip dasar dari jual beli maupun konsumsi yang sama-sama membutuhkan materi dalam rangka pemenuhannya.

Inilah yang kemudian menjadi salah satu poin pesimistis dari adanya budaya konsumerisme modern. Saat sebuah tren baru diciptakan, masyarakat menengah ke atas cenderung tak akan mengalami kendala dengan urusan pemenuhannya. Sedangkan bagi mereka yang secara ekonomi termasuk ke dalam kelas menengah ke bawah seperti saya, kalau enggak cukup dengan tepok jidat, ya dengan berat hati mesti berhutang.

Sisi toxic lain dari konsumerisme

Narasi pesimistis lain dari budaya konsumerisme tentu tidak berakhir di sana. Bahkan dengan kondisi masyarakat seperti sekarang, hal ini dirasa semakin sukses melahirkan regenerasi shopaholics baru dari waktu ke waktu, dengan adanya dukungan dari teknik pemasaran dan iklan yang dapat memengaruhi psikologis masyarakat secara langsung (Stearns dalam Perera & Gunawardana, 2014).

Selain itu, silsilah konsumerisme yang mengakar dari revolusi industri ini pun cenderung membuat orang berlomba-lomba untuk bisa menjadi bagian dari masyarakat urban, menghilangkan asal-usul dirinya yang tertinggal di desa, bahkan hingga fondasi spiritualnya.

Secara bersamaan, hal ini juga mendorong masyarakat untuk tak lagi peduli akan dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan (Perera & Gunawardana, 2014), atas aktivitas konsumsi yang dilakukan. Sebab, gagasan tentang menciptakan kestabilan lingkungan sudah tak lagi menjadi sesuatu yang relevan, kalah saing dengan urusan beli kemeja polos Zara yang harganya tak kurang dari setengah juta.

Maka tidak heran jika belakangan terdapat pemberitaan tentang seseorang yang rela berhutang ratusan juta demi tampilan feed instagram yang estetis, maupun hamparan sampah yang ditinggalkan oknum pecinta kopi dan senja setelah berfoto gagah di atas sekian ribu mdpl.

Pada akhirnya, menjadi bagian dari budaya konsumerisme mungkin sesuatu yang sulit untuk dihindarkan. Sebelum nalar yang berbunyi “hidup gue terserah gue” atau “belom pernah nyaipin pernikahan, sih” digunakan untuk membela diri, mungkin cukup menarik jika akal sehat kita bisa dilatih lebih lama lagi sebelum akhirnya mantap untuk membuat keputusan.


Referensi

Perera H.S.C. & Gunawardana T.S.I.,W. (2014), Modern Consumerist Culture, Its Drawbacks and Benefits, https://goo.gl/1bfbW1

Stearns dalam Perera & Gunawardana (2014), Modern Consumerist Culture, Its Drawbacks and Benefits, https://goo.gl/1bfbW1

Venkatasamy, Nithyaprakash (2015), Fashion trends and their impact on the society, https://goo.gl/mKoThC