LANTAI KERJA SEBAGAI ANTI RAYAP

Dalam sebuah komen seorang rekan muda bertanya bagaimana sebenarnya masalah lantai kerja (rabat beton camp. 1:3:5) , apakah harus dibuat? Kalau iya, apakah harus pakai besi tulangan, diameter berapa 6 mm atau 8 mm? Sebab ybs sering menemui model lantai kerja (flooring) yg berbeda-beda, bahkan ada yg tidak pakai tulangan. 
Saya pernah memosting beberapa tahun lalutentang flooring ini, dimana fungsinya paling tidak ada 4:
1. Meratakan landasan saat memasang perancah utk mengecor plat lantai 2.
2. Menahan kembang susut tanah merah saat berganti musim panas ke hujan, hingga memastikan pasangan keramik tidak terangkat (meleduk).
3. Membantu kekakuan struktur (kolom).
4. Menahan agar rayap dari tanah tidak bisa nembus lantai.

Kenapa metoda kerjanya bermacam-macam? Tentu ini tergantung dari maksud/ fungsi flooring itu sendiri, apakah akan difungsikan sbg lantai kerja saja, atau sekalian utk membantu kekakuan struktur (kolom), atau sekaligus juga difungsikan utk menahan agar rayap tidak naik ke lantai.
Gbr 1 ::
Pasangan bata sudah naik, flooring baru dikerjakan dan menyisakan space sktr 20 cm karena memang tidak ada perancah dipasang di situ, dan tidak memakai tulangan. Flooring semacam ini hanya difungsikan sbg perata landasan utk memasang perancah bambu. Karena tidak memakai tulangan, tidak akan membantu kekakuan struktur. Karena tidak dikerjakan menutup seluruh permukaan tanah, bagian ini nantinya akan meninggalkan sedikit celah … cukup untuk rayap naik.
Gbr 2 ::
Lantai yg tidak dirabat beton, harus dipasang balok kayu utk meratakan beban. Selain pemborosan kayu, tingkat kerataannya tidak sebaik rabat beton.
Gbr 3 ::
Ini contoh perabatan yg benar, rabat beton menutup/ menumpang pasangan bata.
Gbr 4 ::
Setelah bata ditutup/ ditumpang rabat beton, di atasnya dilanjutkan pasangan bata. Setelah diplester aci, maka seluruh permukaan tanah tertutup beton dan atau plesteran, tidak menyisakan celah bagi rayap utk naik.
Gbr 5 ::
Skema potongan rabat beton terhadap dinding dan kolom. Terlihat pasangan bata tersekat oleh rabat beton, dan kolom ditembus oleh rabat beton (bertulang) tsb hingga lebih kaku strukturnya. 
Gbr 6 ::
Contoh hasil penggarapan lantai rabat beton yg tidak baik. Walau terlihat rapat, nyatanya rayap masih bisa naik. Saya kira (99%) penggarapannya spt gambar 1, tidak seperti gambar 5. Akibatnya, celah sedikit saja rayap beramai-ramai naik.

Kemudian pertanyaannya, apakah tidak manjur memakai jasa pest control?
Menurut saya, jasa pest control hanya akan terpaksa dipakai jika keadaan rumah lama sudah terkena rayap. Terhadap rumah baru, pest control hanya menambah anggaran saja sebab, garansi hanya berlaku 3 tahun. Setelahnya harus diulang anti rayap secara berkala. Bahkan, sangat mungkin keadaan rayap setelah 3 tahun telah menjadi resisten sehingga obat yg biasa tidak akan mempan membunuh rayap.
Ada beberapa contoh proyek yg saya kerjakan tidak memakai jasa pest control, hingga saat ini aman tidak terkena serangan rayap, dan hanya mengandalkan rabat beton bertulang saja (lain waktu akan sy tampilkan foto2 kusen setelah 10 th dihuni, tanpa memakai pest control).

Berapa tebal rabat yg ideal dan berapa diameter tulangannya?
Umumnya, rabat beton camp. 1:3:5 dikerjakan setebal 7 cm. Tulangan yg dipakai disesuaikan dg beban. Jika lantainya keramik, tulangan diameter 6 mm jarak 25–30 cm cukup, jika lantainya marmer pakai diameter 8 mm jarak 20–25 cm aman, dengan catatan tanah urugan harus dipadatkan terlebih dahulu.

Dalam dokumen apa gambar rabat beton (flooring) spt ini harus dituangkan?
Dalam gambar pra desain dan atau DED, gambar potongan, item ini harus terlihat dg ditambah keterangan rabat beton bertulang. Sehingga calon pemborong langsung “ngeh” dan perhatian terhadap item ini, dan memasukkan/ menyertakan dalam estimasinya. Akan lebih kuat lagi jika ditulis juga dlm BQ, shg calon pemborong tidak “berkutik” dan harus mengerjakan rabat beton bertulang (jika di gambar tidak terlihat dan di BQ tidak disebut, maka pemborong tidak wajib mengerjakannya).

Semoga rekan muda yg bertanya cukup jelas dg membaca ini.

Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1162075933842449&set=a.155998747783511.48655.100001201618116&type=3&theater

Like what you read? Give Dwi Heriyanto a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.