PENGANTAR ILMU TOLERANSI

Dalam dunia yang digital ini, terdapat sebuah kehidupan yang sedikit tidak nyata. Sebagai manusia, kita tidak tinggal dibumi sendirian, ada beberapa makhluk hidup lainnya yang tinggal juga dibumi ini. Maka dari itu kita bersosialisasi dan berhubungan banyak dengan makhluk lainnya. Namun bumi sebagai media awal dalam proses pembentukan peradaban dan pembelajaran telah bercabang hingga terciptanya dunia digital. Di dalam dunia digital ini ada beberapa media sosial seperti facebook, twitter, instagram, pornhub, dll. Sebelum dunia digital terbentuk, manusia telah menciptakan apa yang disebut dengan hukum. Mari kita selidiki apa yang dimaksud dengan hukum? apakah itu hanya sebuah kumpulan peraturan yang mesti dilanggar? atau kumpulan peraturan yang membuat manusia hidup jadi tidak bebas?

Hukum tercipta berawal dari kebiasaan atau adat yang ditujukan untuk kepentingan para kelompok manusia dalam mencapai suatu tujuan yaitu keteraturan atau sistem dalam mencapai tujuan tersebut. Lalu berkembang hingga titik dimana manusia membutuhkan suatu aturan agar aktivitas yang dilakukan manusia berjalan secara teratur dan harmonis. Peran hukum adalah sebagai social order, karena itu dalam dinamisnya roda perputaran dunia, hukum harus selalu berada di depan, di samping, di belakang, bahkan juga harus mengelilingi masyarakat setempat. Pada saat ini, hukum telah kelabakan dalam mengimplementasikan fungsi dan perannya pada dunia digital. Mengapa bisa begitu? mungkin dikarenakan oleh faktor subjek dan objek hukum tersebut yang sedikit agak fana. Apa maksud dari pernyataan itu?

Coba kita mulai dengan fungsi dan peran suatu hukum dalam dua individu. Seorang A sedang mengendarai motor dengan sangat kencang dan berisik knalpotnya, lalu motor tersebut melewati seorang B yang sedang menyebrang. Dan tiba-tiba motor A telah menabrak B sehingga motor tersebut jatuh lalu A dan B menderita luka-luka. Ok, sampai disini apa fungsi dan peran hukum tersebut? Demi mencegah kecelakaan di atas, fungsi dan peran hukum tersebut adalah membuat suatu peraturan bahwa dalam mengendarai motor harus berhati-hati dan ada batas kecepatan yang tidak boleh kencang-kencang, begitu juga dengan orang yang sedang menyebrang tidak boleh menyebrang sembarangan.

Apakah suatu hukum itu timbul apabila sudah terjadi kecelakaan atau sebelum kecelakaan hukum sudah harus ada? lalu apabila hukum muncul sebelum kecelakaan, bagaimana cara menciptakannya? karena sulit bagi hukum untuk memprediksi suatu kejadian dalam bermasyarakat. Tapi itu bukanlah suatu yang tidak mungkin, karena ada satu dasar dari suatu hukum, dan apakah itu? Toleransi lah jawabannya. Apa maksud dari toleransi tersebut? Lalu apa hubungan toleransi dengan masalah hukum dalam dunia digital? Sebelum kita lanjut, mari kita break sejenak menghela nafas, atau bisa sambil membikin kopi ke dapur, atau bisa dengan ngerokok dulu, atau bisa juga dengan foto dulu dan upload di sosmed kalian~


Toleransi muncul dari dalam inner self kita, dan apa yang dimaksud inner self tersebut? inner self tersebut adalah semacam sesuatu keabsurd-an atau hal yang abstrak nan kompleks yang ada di dalam diri kita. Dalam kitab ajaran agama telah dijelaskan mengenai yang disebut dengan ruh, jiwa, atau soul di dalam diri kita. Dan mungkin terlepas dari sisi spiritual dan duniawi itu adalah sesuatu yang tidak jauh beda dengan apa yang disebut dengan inner self. Secara insting, apabila perut kita merasa lapar maka kita akan makan, atau apabila kita merasa horny maka kita akan mencari pasangan dalam melepaskan hasrat birahi. Itu semua adalah sisi kebinatangan di dalam diri kita. Terlepas dari itu, kita juga membutuhkan suatu asupan untuk inner self kita, contohnya yaitu apabila kita merasa putus asa, depresi, gelisah atau cemas maka kita membutuhkan suatu asupan untuk inner self dengan cara berdoa, meditasi, kontemplasi, atau introspeksi.

Lalu apabila kita ingin menciptakan toleransi yang berasal dari dalam inner self kita, maka kita harus mempercayai bahwa inner self itu ada dan menciptakan suatu keadaan yang dinamakan dengan inner peace atau kedamaian di dalam inner self kita. Menyadari bahwa dunia ini adalah suatu tempat yang memiliki ruang dan waktu, dan ruang dan waktu itu adalah suatu yang relatif, bagaikan suatu gelombang naik turun yang sama halnya dengan dinamisnya sejarah kehidupan peradaban dunia ini. Kita hidup dalam berbagai macam latar belakang kebudayaan dan kebiasaan, apabila kita sudah menyadari bahwa kita adalah sebuah entitas dari dunia yang sangat luas ini. Semua tindakan yang kita lakukan adalah sebagai manifestasi terhadap alam semesta di dalam diri kita. Bila dihubungkan dengan contoh kasus diatas, apabila A sudah mengenal toleransi maka dia akan mengemudi secara hati-hati dan mengerti bahwa dia tidak sendirian, sedangkan B mengerti karena di jalan suatu saat akan ada kendaraan yang melaju maka dia akan menyebrang di jembatan penyebrangan. Begitu juga di dunia digital mengerti akan kita terkoneksi dan terhubung dengan bermacam-macam individu yang berbeda, berhati-hati dalam menyebarkan informasi, dan juga berhati-hati dalam menangkap informasi, dll.

Apabila kita sudah menyadari akan hal itu semua, maka otomatis toleransi akan tercipta dengan sendirinya. Lalu hukum lah yang akan mensempurnakannya. Itu lah mengapa dalam ajaran islam, Nabi Muhammad SAW, berawal dari individu dan berakhir menjadi sebuah negara, yaitu karena kesempurnaan di dalam diri beliau, menyadari bahwa dirinya adalah seorang entitas dalam alam semesta ini. Begitu juga dengan dunia digital ini, hukum yang baik akan tercipta dengan sendirinya apabila kita sudah menyadari akan toleransi yang berasal dari inner self kita. Bagaikan sebuah binatang buas yang dijinakkan, apabila kita bertemu dengan binatang buas di hutan, apakah kita akan melawan juga dengan cara buas? sama sekali tidak, kita akan menjinakkan binatang buas tersebut dengan cara yang lembut dan tidak dengan cara yang kasar.

Tulisan ini bukanlah suatu teori yang bisa diperdebatkan melainkan sebuah tulisan yang harus kalian resapi sebagai suatu social order yang harus kalian aplikasikan kedalam kehidupan kalian. Dalam kehidupan ini, dimana kemiskinan tidak bisa dihilangkan, kejahatan tidak bisa dilawan, melainkan keseimbangan dan keharmonisan lah yang akan selalu kita junjung. Peace.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Dwiki Hardika’s story.