Lalu-lintas dalam kepala

dwi uli
dwi uli
Nov 4 · 5 min read

27 Club. Selamat datang usia 27 tahun. Tidak ada yang khusus dalam usia kali ini, selain fakta bahwa banyak orang terkenal bunuh diri di usia 27 tahun. Oh tentunya saya tidak ingin membahas itu malam ini. Tulisan ini adalah sebuah bentuk meditasi bagi saya, sebuah cara bagi saya menuturkan hal-hal yang memenuhi ruang kepala saya. Ada berbagai hal yang berlarian kesana kemari dengan liar dalam kepala saya, sebuah pemikiran tentang Passion, tentang memilih jalur karir, tentang menulis dan tentang perubahan kehidupan. Entah bagaimana saya bisa memulainya dan menulisnya, semoga kamu pembaca, bisa menarik simpulan yang baik dari tulisan yang carut-marut ini. Selamat Membaca!

Passion tanpa aksi dan perseverance hanyalah omong kosong. Untuk saya sendiri, saya sudah tidak percaya lagi dengan passion. Bahkan dari sejak saya resign untuk pertama kalinya, saya resign bukan karena passion dengan kopi -walaupun semua orang berasumsi demikian, hal yang wajar, karena semua orang suka cerita yang heroik atau ironis. Banyak hal yang mendasari keputusan saya saat itu, tetapi jika ditanya, hal apa yang paling mempengaruhi: Waktu pulang dan pergi ke kantor. Lucu? Saya menghabiskan 5 jam setiap harinya untuk pulang dan pergi ke kantor di dalam bis patas. Harus bangun jam 5 pagi setiap pagi dan tiba di rumah pukul jam 9 malam. Gaji saya saat itu cukup untuk menyewa kos dekat kantor, tetapi muncul pertanyaan, kerja untuk hidup atau hidup untuk kerja? Karena saya merasa lingkungan sekitar kantor saya sangat tidak nyaman untuk ditinggali, dihimpit gedung-gedung pencakar langit, kamar kecil sederhana yang di bandroll 2,3jt rupiah. Tidak, Terimakasih.

Sekarang ini, ada begitu banyak buku menumpuk di kamar saya, online course yang belum saya ikuti, dan saya mulai mempelajari behavioral marketing, business strategy, menulis, mental health, data science.

Saya tiba pada suatu titik kesadaran bahwa, tidak bisa lagi saya mempelajari hal yang saya senangi saja, dunia berubah dan begitu pula dengan kebutuhannya, saya perlu menjadi seorang polymath, dan oleh karena itu, satu-satunya jalan adalah belajar. Membaca lebih banyak buku, bertanya dengan lebih banyak orang, menulis dan mencatat. Mungkin benar, belajar itu bukan hingga tamat sekolah, segala materi akan menjadi obsolet, belajar hingga liang lahat.

Saya bertahan pada pekerjaan saya, pada usaha saya, karena selalu ada hal baru yang saya bisa pelajari, saya coba, dan bisa saya bagikan pada orang lain.

Tidak semua hal hitam dan putih. Saya mungkin orang yang melihat segalanya hampir hitam dan putih. Kalau tidak A ya pasti B. Namun demikian, semakin saya berpikir, semakin saya sadar bahwa dunia lebih sering terbaur dalam arena abu-abu. Sebagai contoh, dalam hal karir, tidak semua orang harus memilih antara menjadi pengusaha atau pegawai kantoran. Setelah lima tahun memperhatikan teman-teman saya sendiri, (Call me Judgmental! yes, sorry, but I am), ada kesulitan yang sama yang dihadapi kedua tipe karir itu. Untuk golongan pengusaha, menahan ego dan berhenti sejenak agar bisa mengambil keputusan yang lebih rasional adalah hal yang sangat sulit. Hampir semua teman saya yang pengusaha adalah laki-laki dengan mimpi besar, dan tantangan paling besar mereka: ego. Melatih ego untuk menerima kesalahan dan kegagalan, melatih ego untuk mau meminta bantuan, melatih ego untuk menahan diri agar tidak dimakan ketamakan. Untuk golongan pekerja, kebanyakan masalah yang dihadapi adalah : vegetative state, dimana sudah tidak tau ingin kemana lagi, bosan, tidak dihargai, tidak memiliki power, tidak berkembang, lingkungan kerja yang buruk, permasalahan utama: insecurity. Ketakutan berlebih akan hal di masa depan, ketakutan akan kehilangan kekuasaan dan pekerjaan, ingin keluar dari lingkungan toxic tetapi takut akan menghadapi hal yang sama di tempat lainnya. Namun pada intinya, ketakutan bahwa kita tidak menjalani hidup dan talenta kita dengan maksimal biasanya menjadi keluhan utama para teman saya dalam golongan pekerja. Namun, ada banyak jalan, dimana kita bisa melakukan keduanya. Ada banyak jalan untuk menjadi putih, kemudian abu-abu, lalu akhirnya menjadi hitam, atau sebaliknya. Sebagai orang yang berada pada ranah abu-abu sekarang, hidup ini rasanya seperti dipecah-pecah, ada juga tekanan dari orang-orang bahwa saya tidak bisa mengambil keputusan. Namun demikian, it’s not up to them to judge my life, I have my own race. Pada intinya, semua punya kesulitannya masing-masing, setiap kali saya ingin berhenti dan mengulang sesuatu, saya merapal mantra ini:

“This is the Dip. Don’t let an institution limit what you can do, do not think out of the box, but think like there is no box at all. Be valuable, keep learning, no matter what, the world need more polymath. Keep swimming, keep swimming.”

Sisi hidup yang lain, yang kadang tertinggal dan hilang, lalu kemudian kita tidak pernah bisa mendapatkannya kembali. Dalam beberapa minggu terakhir ini, ada rasa keinginan yang begitu besar untuk menekan tombol reset dalam kehidupan saya. Ada beberapa hal yang rasanya ingin saya lakukan tanpa diganggu pekerjaan, atau bahkan harus memikirkan pekerjaan. Liburan, belakangan ini, tidak lagi menjadi solusi, karena saya terus menerus memikirkan pekerjaan saya sepanjang saya liburan walaupun tidak ada seorang pun yang meminta saya demikian. Mungkin saya harus kembali belajar tentang de-attahcment.

Keluarga adalah salah satu hal yang semakin sering saya pikirkan, mungkin akhirnya memang ada masanya kita ingin lebih dekat kembali setelah merantau sekian lama. Begitu juga sahabat dekat dan bahkan rumah makan favorit. Merantau, mungkin omongan orang tentang “merantau agar punya alasan untuk pulang” itu benar adanya. Perubahan yang terjadi dari hari-hari kita pergi dan perasaan asing ketika pulang karena begitu banyak hal sudah berubah terkadang membuat saya berpikir “Wah sudah ketinggalan banyak hal nih.”. Undangan pernikahan yang tidak bisa di hadiri, ulang tahun orang tua, makan malam keluarga dan sebagainya. Hal-hal yang pada waktunya nanti tidak akan bisa di ulang, karena pada waktunya nanti, orang-orang akan pergi untuk selamanya. Pemikiran ini datang dan pergi, kadangkala di malam hari saat saya sudah sangat ingin tertidur. Rasa takut kehilangan banyak hal karena hidup jauh dari ‘rumah’.

Menulis. Ada juga keinginan saya untuk terus menulis. Ini adalah tulisan pertama saya setelah sekian lama. Ada tujuh buah draft yang tidak bisa saya selesaikan. Untuk alasan tertentu, saya berhenti menulis beberapa bulan ini. Mungkin penyakit perfeksionisme saya kembali akut. Takut salah, takut tidak dibaca, takut ini dan itu. Lalu kemudian saya membaca tetapi tidak menulis, karena merasa apa yang saya baca tidak cukup untuk membuat tulisan ini menjadi bermanfaat. Saya menyadari satu hal: Attachment saya pada pekerjaan saya begitu tinggi. Ingin menyelesaikan pekerjaan saya dengan sempurna baru kemudian saya menulis. Hingga akhirnya, saya tidak pernah lagi menulis apapun. Seseorang mengingatkan kembali mimpi saya untuk menulis novel, perlahan, saya mulai melakukan riset minggu ini dan membayangkan ceritanya dalam kepala saya. Mungkin, pada waktunya, menulis malah akan menjadi bagian utama dalam hidup saya, mengingat begitu banyak penulis dan jurnalis yang saya kagumi saat saya datang ke UWRF 19.

Menulis pada malam hari ini adalah meditasi bagi saya. Begitu banyak yang ingin saya lakukan dan begitu sedikit yang benar-benar bisa saya lakukan. Saya mungkin orang yang beruntung, karena saya masih mencintai pekerjaan dan usaha saya, hanya saja, tidak ada yang lebih melelahkan dari pikiran dan tubuh yang terbagi. Sebuah artikel, cukup berhasil menenangkan jiwa ini beberapa hari yang lalu. Mungkin ini sudah waktunya untuk sedikit berhenti, menarik napas, dan perlahan-lahan melonggarkan genggaman pada keterikatan. Mengingatkan kembali diri sendiri bahwa sesungguhnya tidak ada yang pernah benar-benar menjadi milik kita sendiri, bahkan tubuh kita sekalipun.

“Attachment is the root of suffering.” — Buddha

Dear human, you are not alone. Here are the stories you missed.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade