91 Menit Dialog dalam Lagu

Jadi senin kemarin (17 July 2017), saya iseng main ke IFI untuk datang pemutaran regular nya Layar Kita, sebuah komunitas film di Bandung yang sudah wara wiri sejak jaman saya kuliah. Menyambut ulang tahun Perancis di tanggal 14 Juli, bulan ini mereka full menanyangkan film Perancis. Pengetahuan film Perancis saya bisa dibilang masih cetek banget, berkisar hanya Amelie, Mood Indigo, dan Audrey Tautou, tapi dari semua itu saya tak pernah kecewa dengan film Perancis, jadi saya paksa datang sendirian naik gojek untuk menonton sebuah film Perancis berjudul Les Parapluies de Cherbourgh (The Umbrellas of Cherbourg).

Dibagi kedalam 3 babak, The Departure, The Absence, The Return, film ini berfokus pada kisah cinta seorang gadis muda Geneviere Emery yang membantu ibunya berjualan payung di Cherbourgh (kota di Perencis) dengan seorang pria tampan bernama Guy Foucher. Cinta mereka yang berapi-api seketika sekejap muram semenjak Guy dipanggil Negara nya untuk maju ke medan perang selama 2 tahun. 91 menit kita akan diceritakan bagaimana pasang surut kisah mereka berdua.

Ada banyak hal menarik dari film ini. Pertama, ini pengalaman pertama saya menonton film opera-ish, semua dialog nya dinyanyikan alias sing-through, mungkin yang nyerempet sing-through itu Les Miserables, tapi kayanya masih ada beberapa dialog nya yang dilafalkan normal. Kedua, film ini jelas membawa aura 60-an yang nyata, warna-warni neon-pastel-mencolok nyaris disepanjang film, ini mungkin factor yang paling saya suka, jelas sang art director bekerja keras untuk memikirkan semua setting nya, warna baju pemain disamakan dengan wallpaper ruangan, warna mencolok untuk tokoh utama dan warna kalem untuk tokoh pendamping, indah deh. Ketiga, ternyata usut punya usut film tahun 1964 ini merupakan film yang menginpirasi Damien Chazelle dalam membuat La La Land, dan ya, ada banyak unsur yang disadur Damien untuk menghidupkan film sensasional di tahun 2016 itu. Dua-duanya merupakan film musical, berfokus pada kisah cinta sejoli manusia, warna-warni neon, dan akhir kisah yang bitter, realistis dan tak dramatis sadis ala Romeo & Juliet.

Hal yang paling berbeda antara The Umbrellas of Cherbourgh yang adalah film Eropa dan La La land yang film Hollywood adalah : Pace dan Drama. Bukan rahasia umum lagi film-film Eropa memang terkenal dengan pace nya yang lambat dan rasa nya yang hambar. Tak terkecuai dengan The Umbrellas of Cherbourgh, pace nya lambat sekali dan karena dibawakan dengan cara sing-through, di beberapa titik saya sempat bosan juga, yang unik walaupun sebenarnya kisah cinta dalam film ini bitter sekali, namun tetap dibawakan dengan datar dan tanpa emosi berlebih. Tak ada raungan, banjir air mata, ataupun adegan histeris, semuanya normal dan manusiawi. Lucu sih menambah pengalamanan baru dalam menikmati film. But, honeslty saya kayanya lebih suka yang ada micinnya sedikit deh :)

Recommended? Untuk kamu yang pernah nonton film Eropa dan tahan dengan pace lambatnya, film ini totally worth it karena kamu bakal dibawa ke-era Perancis 60-an yang romantis dan jelas menambah referensi film kamu. Sedangkan untuk kamu yang gak tertarik untuk mendengarkan orang berdialog sambil bernyanyi selama 90 menit full, lebih baik menonton La La Land yang jauh lebih nge-pop.

Rating dari Tifa :

3.5/5
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.