Cerita Soal Banda
Silakan tunjukkan lokasi Kepulauan Banda pada peta buta di bawah ini :

Ayo sekarang ngaku siapa yang berhasil menemukannya dengan benar? Gak papa kawan, saya pun tak menghetahui Kepulauan Banda pada peta Indonesia sebelum menonton film banda The Dark Forgotten Trail. Lewat film berdurasi 93 menit ini para penonton akan diajak berkelana mengarungi waktu untuk mengetahui dan mengenal Kepulauan Banda dengan lebih baik.

Secara garis besar film ini berkisah mengenai sejarah Banda dari waktu kewaktu, tak dibagi secara deskriptif namun kita dapat melihat film ini terbagi kedalam beberapa babak. Masa penjajahan, ketika tanaman pala adalah pusaka dan Banda adalah harta karun berharga; masa menuju kemerdekaan, ketika pala tak lagi dipuja dan Banda menjadi pulau tempat ‘pembuangan’; dan masa kini, ketika Banda mulai terlupa.
Setiap babak dalam film ini dikemukan dengan gaya dokumentari, melalui narasi dan penuturan dari para narasumber yang berkaitan dengan kisah yang diangkat. Ada sejarawan, pemilik kebun pala, tengkulak, buruh kebun, hingga para penduduk sekitar yang turut andil bercerita pada film ini. Cerita yang diangkat sangat menarik, linear terhadap waktu, film ini bertutur fakta yang terkubur dalam sejarah Banda. Namun sayang menurut saya, saking melimpahnya nya kisah tentang Banda, cerita pun seakan luber dan tak dalam mengupas secara dalam suatu topik utama.
Kalo soal sinematografi, semenjak menonton trailer nya saja, secara cepat kita akan menangkap aura artsy sekaligus dark. Shot cantik penuh misteri, permainan warna, pengambilan angle unik, dan editing ala distorsi, saya sudah berantisipasi untuk mendapatkan film nyeni yang cantik. Harapan saya terwujud, karena memang film ini dibuat dengan cantik. Namun jujur saya merasa film ini terlalu berusaha keras untuk menjadi cantik dan artsy. Begitu banyak footage cantik ditampilkan, namun terasa tak terikat. Footage ini terasa kurang mengambarkan dan membantu mendeskripsikan cerita pada setiap babak nya. Terdapat beberapa footage yang diulang, digunakan dibeberapa tempat bahkan lintas babak, seolah gambar ini ditampilkan semata untuk menjadi penghias layar bukan untuk membantu mencerna makna.
Buuttttttt, overall film ini cakep sekali. Gambar indah, sarat makna, berkonten pengetahuan, dan menghibur. Sangat disarankan untuk menonton film ini untuk memperkaya diri dengan cerita berbalut kearifan lokal. Semoga film ini tak segera hilang dari bioskop, dan semoga film Indonesia yang ‘baik’ dan ‘bagus’ ini dapat menjadi primadona di negaranya sendiri.
Bintang dari Tifa :

