I Could Have WATCHED All Night
Bicara soal film klasik musikal, pasti film ini tak boleh terlewatkan, My Fair Lady! ABSOLUTELY MY FAVOURITE CLASSIC/MUSICAL MOVIE EVER. Banyak hal yang membuat saya klepek-klepek dengan film keluaran 1964 ini, ceritanya, artnya, pemainnya, lagunya, semua-muanya deh. Mari kita bahas satu persatu.

My Fair Lady dibuka dengan kehadiran kerumunan orang bebaju indah ningrat di sebuah gedung di kota London. Tak berselang lama, secara kontras muncul dalam guyuran hujan seorang wanita penjual bunga dengan pakaian seadanya, berbahasa cablak dan tampak tak terpelajar, dialah Eliza Doolittle (Audrey Hepburn) sang tokoh utama. Cerita kemudian bergulir ketika ia bertemu dengan seorang professor phoenetic yang super snob, Professor Henry Higgins (Rex Harrison), disinilah drama dimulai, bagaimana sang professor melatih Eliza dari seorang yg serampangan menjadi seorang lady-like dalam jangka waktu tertentu.
Film yang diangkat dari teater ini, memiliki cerita yang unik, kocak, dan fresh! Berdurasi hampir 3 jam, saya tetap menikmati film satu ini. Pengembangan karakter para tokoh menjadi kunci utama kesukseskan, para pemain memerankan tokohnya dengan sangat baik. Rex Harrison own the movie, kita sebagai penonton pun bisa ikut gereget melihat kelakuan professor heartless satu ini, Oscar jelas pantas ia dapatkan untuk peran ini. Audrey Hepburn? Ah jangan ditanya deh, shock adalah kata yang tepat untuk melihat sosok Audrey Hepburn difilm ini, seorang diva, our lovely Holly Golightly, tiba-tiba diubah menjadi sosok serampangan tak berkelas seperti Eliza. Babak demi babak kita akan melihat perubahan watak Eliza yan digambarkan dengan baik oleh Audrey. Saya pribadi suka banget sih dengan acting Audrey di film ini, sayangnya bahkan ia tak masuk nominasi Oscar. ( NB : Baca soal kontroversi tak masuknya Audrey pada nominasi Oscar disini)

Unsur musical berupa lagu-lagu ear-cathy dan koreografi teatrikal jelas menjadi salah satu poin pendukung yang mendongkrak keindahan film ini, unsur ini turut membantu penonton untuk memahami perasaan sang karakter dengan lebih dalam. Kita tau betapa kezal nya Eliza pada Professor Higgins melalui ‘Just You Wait’, atau betapa senangnya ia ketika berhasil berbahasa dengan baik dan benar melalui lagu ‘I Could Have Danced All Night’.

Satu lagi yang paling saya suka dari film ini, tak lain dan tak bukan art yang digunakan sepanjang film. Masih dengan ciri film tahun60-an, film ini juga diwarnai dengan warna-warna neon ceria yang memang secara personal saya suka. Kostum dan make up, ah ini yang paling juara, kostum-pesta indah bertaburan diberbagai scene. Kostum Audrey ketika menonton pacuan kuda di Ascon jelas salah satu tampilan yang tak akan mudah dilupakan banyak orang, tampil dengan gaun putih aksen hitam dan topi besar berbulu, Audrey tampak menawan. Untuk membuatnya tetap menjadi pusat dari cerita, sang penata gaya memberikan hiasan bunga merah manis di sisi topi, cantik sekali ❤

Secara pribadi film ini tak punya cacat sama sekali. Sangat indah, menghibur dan cerdas bercerita. Recommended? Pastinya. Tapi perlu diingat ini film keluaran 1964, untuk Anda yang alergi film-film lama yang miskin efek dan CGI, jelas film ini tak akan mampu merebut hati Anda.
Rating dari Tifa :

