Rasa Baru Film Perang

Latifa Dwiyanti
Jul 25, 2017 · 2 min read

Digarap oleh salah satu sutradara jenius abad ini, Christoper Nolan, film Dunkirk (2017) jelas menjadi incaran banyak orang. Baru sehari-dua hari hinggap di bioskop, wan-kawan sudah mulai update status menonton film ini. Tak ketinggalan saya pun dengan sigap segera reservasi waktu untuk menonton film satu ini.

Poster film Dunkirk (source from here)

Hasilnya? Ya gimana lagi, emang Nolan kayanya otaknya super sih, film ini jelas keluar dari zona aman sebuah film perang namun tetap menghasilkan wow moment setelah menontonnya. Less drama, super dikit dialog, unlinier plot, no love story, di film ini Nolan memperlihatkan dia punya banyak cara untuk membuat sebuah film menjadi istimewa tanpa menggunakan formula-formula biasa.

Berbeda dengan film-film sebelumnya, Dunkirk tidak dibangun berdasarkan cerita dan plot super jenius seperti Interstellar, Memento, The Prestige ataupun Inception. Dunkirk dibangun berdasarkan plot sederhana yang dikemas secara istimewa. Tak mau main aman, ia menghadirkan film sejarah, sebuah kisah perang dengan cara yang jarang dilakukan sebuah film perang. Minim baku hantam, bahkan tak ada setetes darahpun yang diperlihatkan (ada deng luka di pelipis George). Sebagai seorang penulis naskah, dalam film ini Nolan tak berfokus pada narasi ataupun dialog, ia bermain dalam pengaturan plot. Ia mahir memotong adegan-adegan menjadi potongan puzzle yang disulam sedikit demi sedikit untuk menjadi sebuah cerita utuh yang mengalir disetiap menitnya. Tak ada pengenalan tokoh (hayo siapa coba nama tokoh utamanya?!!?), tak ada narasi, penonton dibiarkan mandiri mengerti alur cerita, seolah mengajarkan kalimat sakti yang sering digunakan para sutradara film, SHOW DON’T TELL.

Namun untuk saya pribadi, hal yang paling kuat dalam film ini terletak pada scoringnya. Praktis 1 jam 46 menit penonton akan merasakan ketegangan maksimal yang sangat intense berkat scoring jenius Hans Zimmer and the geng. Hanya ada 3 titik ketika music berhenti, ketika Gibson tenggelam (dengan efek ‘blup’, ‘blup’ air), adegan kereta api Harry Style (yang ternyata ganteng juga ya) dengan sang tokoh utama, dan ketika akhir film.

Bisa dibilang acting para pemain juga tidak berperan banyak, muka Tom Hardy bahkan hanya muncul sekilas di akhir cerita. Hanya acting Kenneth Branagh sebagai Commander Bolton yang cukup menonjol. Bagaimana lewat mimik mukanya kita bisa membayangkan either kesusahan atau pertolongan yang akan datang kemudian. Adegan ketika ia tersenyum tipis sambil menggunakan teropong dan bergumam ‘Home’ cukup mengena diotak saya.

Recommended? Jelas laaah, film ini sukses memberi warna berbeda untuk film-film perang pada umumnya, dan sekali lagi menunjukkan kualitas Nolan sebagai sutradara jempolan.

Rating dari Tifa :

4/5

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade