SDM “nol”

Semalam, seorang pemilik pabrik yang sudah cukup berumur menelepon saya minta dicarikan staf baru.

“Lulusan apa miss?” Tanya saya. “Alaaahh… simpel aja laa, yang penting jujur, mau kerja keras.” Jawabnya.

Untuk sebuah posisi akunting yang notabenenya membutuhkan skill dan pendidikan cukup, ia hanya mengajukan syarat sesederhana itu.

Tapi ya terbukti, usahanya besar dan tetap bertahan dalam beberapa kali krisis.

Sering saya diminta untuk mencarikan karyawan dengan syarat “gampang” seperti itu, tapi susah dapetnya. 😁

Mungkin, kalau saja dalam pencarian itu dipercayakan oleh staf SDM nya atau perusahaan job seeker, si staf SDM itu akan membuat klasifikasi yang ini itu, lulusan ini itu, mampu ini itu, punya sertifikat ini itu. Mungkin lho, mungkin 😁

Saya jadi ingat dengan pak Gede Prama, pak Bob Sadino dan bu Susi Pudji, motivator dan pengusaha nyentrik itu juga punya pikiran sama dalam memandang SDM.

Bagi mereka, orang (SDM) dengan klasifikasi “nol” lebih baik dibanding orang yang udah punya “isi”.

Selama orang “nol” tadi tidak punya sifat malas, ia akan mudah dibentuk, ditraining sesuai kebutuhan kerja yang nyata.

Sering kan, kita lihat lowongan-lowongan kerja untuk posisi semacam MDP atau calon pemimpin di perusahaan-perusahaan besar, mensyaratkan lulusan fresh graduate. Salah satu tujuannya karena orang-orang tersebut masih “bersih” dan mudah dibentuk, gak ngelunjak. Sami’na wa ato’na 😊

Dan dari percakapan itu, saya sedikit ambil kesimpulan memang sepertinya orang pintar di negeri ini banyak, tapi kita kekurangan orang jujur dan pekerja keras.

*btw ada yang minat gak? ;)