Islamkah saya?

Saya terlahir Islam. Ketika paru-paru saya baru terisi udara dunia, saya mendengar adzan berkumandang di telinga saya, dari seorang laki-laki yang sangat menyayangi saya.

Saya pun tumbuh menjadi seorang anak kecil yang suka bertanya. Dan seorang perempuan yang sangat menyayangi saya menjawab dengan kalimat berisi kata “Allah”. Allah mencipta saya, orang tua saya, dan dunia. Dan saya pun berproses menjadi seorang Muslim.

Di usia sekolah dasar, saya mengikuti Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA), sebuah tempat dimana saya mengenal Nabi Muhammad dan 24 Nabi lainnya. Sebuah tempat dimana saya diajarkan bahwa Islam adalah agama yang paling lurus dan yang paling diridhoi Allah. Islam juga adalah rahmat bagi semesta alam.

Memasuki usia sekolah menengah, saya rajin membaca terjemah Al Qur’an. Dan saya mendapati banyak keajaiban. Al Qur’an memiliki banyak hal yang bercerita tentang alam. Membuat saya berpikir bahwa hidup ini memang mempunyai makna. Selain itu, membaca terjemah AlQur’an terasa seperti berdialog dengan Allah karena apa yang saya baca adalah firmanNya. Saat saya sedih, secara “tidak sengaja” saya membaca AlQur’an yang berkata “Laa tahzan,” ketika saya depresi saya membaca ayat “wahai jiwa yang tenang..masuklah ke dalam surgaKu,”, dan ketika saya kesusahan, saya membaca “sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan,”

Allah dan Al Qur’an sangat berperan besar dalam dinamika kejiwaan diri saya. Berkat perasaan “kedekatan’ dengan Allah, saya bisa melalui masa-masa kelam dalam hidup saya. Berkat Al Qur’an, saya mendapatkan kembali semangat hidup saya. Berkat Al Qur’an saya memahami bahwa semua manusia itu sama, tidak ada yang berbeda. Berkat Al Qur’an juga, saya jatuh cinta pada ilmu alam, karena disitu saya menemukan Allah, melalui ciptaanNya yang luar biasa indah.

Jika saya merefleksikan riwayat saya ini, saya merasa saya ini Islam. Ya, saya adalah seorang Muslim. Kenyataannya, saya bangga untuk berhijab, apalagi jika di luar negeri. Saya juga bangga untuk mengenalkan Islam pada kolega-kolega yang bertanya, apalagi tentang sains di dalam Islam.

Namun akhir-akhir ini saya bertanya, Islamkah saya? Karena baru-baru ini ada pejabat yang bilang bahwa umat Islam dibohongi oleh Al Qur’an untuk tidak memilih pemimpin non Muslim. Kata sebagian teman (katanya dari Buya Hamka), orang Muslim yang tidak tersinggung berarti keIslamannya dipertanyakan. Saya jadi bingung, karena saya tidak tersinggung. Katanya juga, kalau seorang Muslim mendukung pejabat ini, maka dia Muslim cicak. Saya tidak membaca apa maksudnya Muslim cicak. Namun yang jelas, saya koq tidak marah ya. Biasa aja gitu. Islamkah saya?

Justru saya lebih tersinggung ketika saya membaca postingan tentang Paus, pemimpin umat Katolik, yang aktif mengkampanyekan aksi mitigasi perubahan iklim. Dimana ya pemimpin umat Muslim? Saya jadi malu dan gregetan sendiri. Di saat umat beragama lain “heboh” untuk berbuat hal baik bagi keselamatan bumi, umat Islam Indonesia masih ribut soal “sentilan” yang berwujud ucapan. Apakah mereka tidak mau melakukan sebuah tindakan? Padahal sudah jelas, dalam AlQur’an, bahwa Allah memerintahkan manusia untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Namun saya belum pernah menemukan, gerakan umat Islam, untuk penyelamatan lingkungan. Mohon beritahu saya jika ada. Semoga saya salah informasi.