Online Shopping Sebagai Penyumbang Sampah Plastik

C&G Earth
C&G Earth
Nov 7 · 4 min read

Saya pribadi bukan penggemar belanja online karena hampir semua kebutuhan yang saya perlukan sudah ada kota saya. Namun kemarin, saya mencoba mengikuti promo online shopping di salah satu platform e-commerce di Indonesia untuk membeli barang yang lumayan langka dan saya menemukan harganya yang jauh lebih murah di luar kota. Akhirnya saya memesan di 2 toko menggunakan 2 jasa ekspedisi yang berbeda dan 3 hari setelahnya menerima kedua paket yang saya pesan, paket tersebut sama-sama datang di hari minggu, padahal biasanya pada hari libur, jasa ekspedisi tidak berjalan. Saya akhirnya iseng bertanya kepada bapak kurir, “Tumben pak hari minggu mengantar?” Sang bapak menjawab “Iya mbak, disuruh lembur karena barang yang mau diantar menumpuk”. Dari jawaban ini saya yakin kedepannya, akan makin banyak warga yang memilih belanja via e-commerce dari pada belanja di toko fisik.

Saat menerima kedua paket ini, saya langsung membuka segel dan segala macamnya, kedua paket dilapisi kantong plastik, bubble wrap dan karton, dan disegel dengan lapisan isolasi. Meski barang yang saya beli tidak sampai 1 kilo, bungkus-bungkus plastik, isolasi, bubble wrap dan karton ini penuh mengisi tempat sampah saya.

Bahan-bahan seperti ini membutuhkan waktu lebih dari 100 tahun untuk larut jika terkubur tanpa perawatan dan dapat menghasilkan dioksin berbahaya jika dibakar sebagai sampah biasa.

image by michael jin on unsplash

Lalu, bagaimana saya dan para online shoppers lainnya harus menangani tumpukan sampah pengemasan yang tumbuh secepat ini? Bagaimana cara kita mendaur ulang sampah-sampah seperti ini?

  1. KURANGI PACKING BERLEBIHAN

Minta pada penjual untuk menggunakan wadah yang sesuai besar, berat dan jenis barang yang dibeli. Jika barang tersebut bukan barang fragile yang mudah pecah, gunakan koran bekas dan kardus saja, tidak perlu menggunakan bubble wrap.

2. BELI DARI VENDOR/TOKO YANG SAMA

Biasakan mencari 1 toko yang menyediakan semua kebutuhan yang ingin kamu beli. Selain mempermudah pemetaan barang yang dipesan, kita juga mengurangi jumlah sampah packing.

3. GUNAKAN MATERIAL DAUR ULANG

Jika memungkinkan, cari toko yang menggunakan material-material bekas untuk packing atau menggunakan material eco-friendly yang dapat didaur ulang.

4. HINDARI LONG DISTANCE SHOPPING

Usahakan membeli barang dari toko yang ada di dekatmu, hal ini mempengaruhi jumlah label dan plastik yang digunakan jika berpindah ekspedisi, contohnya ekspedisi dari luar negri. Selain itu barang yang kita beli juga lebih cepat sampai dan meminimalisir kerusakan akibat benturan dan lain-lain.

5. BELI BARANG SECOND

Sangat banyak barang branded yang masih layak pakai bisa kita temukan.

photo from the parkcatalog

Total transaksi belanja online mencapai $ 609 miliar pada tahun 2015, lebih dari 10 persen dari total volume penjualan ritel. Pertumbuhan jumlah paket yang dikirimkan ke pembeli online juga menunjukkan tren e-commerce yang berkembang pesat, yang menyediakan akses mudah ke berbagai pilihan barang menggunakan platform tunggal yaitu internet dan dengan harga yang sangat kompetitif.

Pada 2014, sekitar 14 miliar paket dikirim ke pembeli online dan angkanya melonjak menjadi 20,67 miliar pada 2015.

China, sebagai salah satu negara dengan pengiriman yang banyak ditujukan ke Indonesia, butuh 26 tahun untuk pengiriman ekspres untuk mencapai angka 1 miliar, delapan tahun untuk angka naik dari 1 miliar menjadi 10 miliar, dan hanya satu tahun untuk menggandakan dari 10 miliar menjadi 20 miliar item. Semua ini efek e-commerce.

Sebuah laporan dari Jaringan Informasi Bisnis China menunjukkan bahwa, untuk mengirim 20,6 miliar paket tahun lalu, daftar barang yang diperlukan termasuk sekitar 11 miliar kantong plastik, 3 miliar amplop kertas, 9,6 miliar karton, 16,5 miliar meter isolasi dan 2,9 miliar lembar padding.

Hingga saat ini, sektor industri yang relevan dan bahkan masyarakat secara keseluruhan belum menawarkan solusi yang tepat untuk menangani limbah paket dalam jumlah besar yang dihasilkan oleh pertumbuhan e-commerce.

Mengumpulkan dan mendaur ulang sampah adalah bisnis masyarakat di negara maju seperti Jerman, Jepang, dan Korea Selatan, yang telah mengeluarkan peraturan ketat tentang pengepakan komoditas ekspres. Kita bisa mengambil pengalaman mereka sebagai bahan pertimbangan.

Photo by freestocks.org on Unsplash

Saya pikir pemerintah harus meningkatkan pedoman dan pengawasan pelaksanaan peraturan yang relevan untuk melarang penggunaan kemasan di bawah standar atau berlebihan dan produksi bahan kemasan yang tidak ramah lingkungan.

Dan sudah saatnya bagi pemerintah untuk mendorong penelitian, pengembangan, dan penggunaan bahan kemasan yang cerdas dan ramah lingkungan, untuk memastikan semua limbah kemasan dapat dengan mudah didaur ulang menjadi sumber daya terbarukan.

E-commerce membutuhkan solusi pengemasan yang cerdas dan hijau.

Kami menyambut e-commerce untuk semua kenyamanan dan berbagai manfaatnya. Tetapi kita tidak mampu dan mengabaikan bahayanya bagi lingkungan.

C&G Earth

Written by

C&G Earth

🌱 Aksi kecil untuk peduli lingkungan 💡 Tips dan Inspirasi 🌏 Dari Indonesia untuk dunia

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade