BABY

Di ulang tahunnya yang ke dua puluh sembilan, angin sepoi sepoi yang sejuk bertiup di pantai, dan IA tahu itu. Benar, IA tidak berada di dekat pantai, karena GADISNYA membenci pasir dan air, tapi tetap saja IA tahu. Selalu ada angin sepoi sepoi yang sejuk di pantai.

Mereka sedang berada di taksi sehabis dari suatu tempat, dan di sepanjang jalan, IA mencengkeram sebuah kotak kardus yang dibungkus dengan kertas kado. Pemberian itu, dalam kotak kardus, adalah hadiah terbesar yang pernah IA dapatkan. Bukan yang paling indah memang, tapi sudah pasti yang terbesar. Dan IA terus melingkarkan lengannya di leher GADISNYA itu sepanjang jalan, mencium pipinya, payudaranya, semakin kaget setiap ciumannya pacarnya itu tidak malu malu.

Ketika IA membayar ongkos taksi, sopir taksi yang berwajah jelek itu mengatakan ia tidak pernah melihat pasangan yang lebih sempurna dari mereka. Sopir taksi itu sudah lama di jalanan, berkeliling kota seperti burung pemakan bangkai di pemakaman umum, tapi dia tidak pernah melihat pasangan lain seperti mereka. Dan yang kedua, sopir itu mengatakan bahwa, ia merasakan kehangatan tertentu di dalam tubuhnya. Sebuah kehangatan terpendam yang hanya menyeruak pada kesempatan langka ketika sebuah kebenaran besar terungkap ke udara.

Dan kemudian ketika IA mengatakan pada gadisnya itu, di ranjang, bagaimana perasaannya pada saat itu, GADISNYA itu mengatakan bahwa kalau IA membutuhkan motivasi dari sopir taksi berwajah penuh jerawat yang bahkan tidak bisa bertahan di jalannya sendiri, maka hubungan mereka benar-benar harus berakhir.

Ia menggelayut erat ke GADISNYA dan berkata bahwa GADISNYA itu baik hati dan IA sangat mencintainya. GADISNYA itu menangis seperti seorang putri kerajaan dan bilang padanya untuk mencintainya, seluruh jiwa raganya, bukan hanya organ-organ tubuhnya.

Mata mereka kemudian terpejam, dan angin laut menyejukkan wajahnya saat IA tertidur di samping GADISNYA, meringkuk seperti anak kecil, seperti bayi.

*diterjemahkan dari cerpen Etgar Keret berjudul Baby dalam kumpulan cerpennya berjudul The Nimrod Flipout.

*terjemahan ini merupakan latihan pribadi, mungkin saja tidak sesuai tapi saya berusaha.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.