HARI TERAKHIR

Gambar diambil dari https://img.carapedia.com/images/article/makan-banyak.jpg

Perutku hampir meledak, tapi aku terus makan. Ini hari terakhirku, dan tentu saja aku ingin menikmatinya, dengan santai dan bahagia.

Hampir 31 tahun aku telah mempercayainya. Selama itu pula aku hidup dengan cara-cara yang kuyakini itu. Dan kini aku akan meninggalkannya. Ya, hari ini adalah hari terakhirku, dan besok aku akan menggantinya dengan yang lain, karena sebuah alasan, cinta. Ini mungkin terdengar klise dan murahan, tapi begitu kau terjerat pada sosok yang membuatmu tak berdaya bahkan untuk mengungkapkan pendapatmu sendiri, rasa-rasanya kau ingin menampar pembuat lagu brengsek yang berjudul “Jatuh Cinta itu Biasa Saja” itu, percayalah. Kau rela menyerahkan kebebasanmu berpendapat, bahkan rela untuk menyerahkan dirimu bulat-bulat untuk menjadi hamba abadi bagi yang kau cintai. Bagi wanita itu: persetan Voltaire, sedangkan bagimu: kusambut perbudakan ini dengan senang hati.

Ngomong-ngomong, aku kenal wanita itu benar-benar karena kebetulan yang lagi-lagi klise. Wanita itu menabraknya ketika sedang berjalan, dan seperti adegan dalam sinetron murahan bikinan rumah produksi tanah air yang kerjaannya membodohi umat itu, buku-buku yang dibawanya berhamburan di hadapanku, lalu aku berniat membantunya memungut buku-buku itu, dan tak sengaja pula kami memungut buku yang sama, lalu beradu pandang, lalu sama-sama berujar: “seperti dalam sinetron ya?”, dan bersama-sama pula kami tertawa. Sialnya, aku tak cukup perhatian saat itu untuk tahu bahwa buku-buku yang dibawa wanita itu adalah tentang perjuangan hak-hak perempuan. Saat kami mulai akrab dan menjalin hubungan yang lebih dalam, dan kemudian sama-sama saling jatuh cinta, barulah aku tahu bahwa dia adalah wanita yang keras hati, sementara aku adalah lelaki yang lembek.

Dan kini, seperti dalam ketentuan yang sudah disebutkan sebelumnya, persetan Voltaire dan selamat datang perbudakan, jadilah kami pasangan yang serasi dan siap untuk menikah. Aku mengikuti semua keinginannya, dan ia dengan sangat bersemangat mendikteku dari hari ke hari. Aku sendiri pada dasarnya memang tidak punya harga diri, atau mungkin merasa masa bodoh, tidak merasa terganggu sama sekali dengan pola hubungan yang seperti Soeharto dan DPR di era orde baru itu. Setiap perkataannya akan kuaminkan. Yang penting bagiku adalah tetap bisa melumat bibirnya, menjilat lehernya, menghisap puting susunya, dan hal-hal yang kalau kutuliskan di sini kemungkinan bakal menyebabkan aku dikejar-kejar aktivis anti pornografi yang padahal diam-diam rajin mengunjungi laman sukatoro.com.

Ya, selama kebutuhan primerku sebagai salah satu spesies ciptaan Tuhan tercukupi — kau tahu bahwa kebutuhan dasar makhluk hidup agar terus eksis di muka bumi ini hanyalah makan dan berkembang biak (dalam hal ini bagiku adalah berhubungan seks), yang lain adalah omong kosong — aku tak akan banyak cakap. Maka setelah menjalin hubungan dengan status pacaran selama beberapa bulan, aku mengangguk saja saat ia menyuruhku menikahinya.

“Tapi kau harus pindah agama dulu” katanya.

“Bapak-ibuku tidak akan mau punya menantu seorang kafir”

Hidup bermasyarakat memang berat, banyak aturannya. Aku sebenarnya tahu bahwa gadis itu bukan orang yang taat banget terhadap agama. Buktinya, kami tetap melakukan hubungan seksual meski belum menikah (karena enak), yang sudah jelas dilarang dalam agama yang dianutnya. Tapi tetap, atas nama keinginan orangtuanya yang menurut asumsiku jelas-jelas akibat dari penerapan norma bermasyarakat, ia memintaku pindah agama. Sebenarnya ini agak kurang adil, tapi ideku bahwa kami berdua seharusnya sama-sama pindah ke agama yang baru yang belum pernah kami peluk sebelumnya, ditolak mentah-mentah olehnya. Dan seperti tebakan anda semua, aku pun tidak mendebat permintaannya lebih lanjut, dan segera kuiyakan saja permintaannya itu.

Kutegaskan lagi, kebutuhanku cuma ada dua, sudah kusebutkan di atas. Apalagi? Agama bagiku tidak penting-penting banget, mau agama apa saja yang penting ada agama. Soal ini, aku berpegangan pada prinsip untung rugi dan teori probabilitas. Kalau seandainya dunia paska kematian itu tidak ada, pemeluk agama hanya sedikit rugi saja, karena beberapa kenikmatan dunia tidak kau cicipi. Tak masalah, toh kita memang tidak bisa mendapatkan semua isi bumi kan? Orang tak beragama pun kalau terkena diabetes tidak bisa menikmati gula, dan atheis penderita kolesterol tinggi juga tidak bisa makan sate kambing.

Tapi bagaimana kalau dunia paska kematian itu benar benar ada? Mampuslah kalian para atheis, jadi kerak neraka selamanya. Dan selama aku beriman, meskipun ada banyak dosa kubuat, kuharap imanku sedikit banyak akan membantu. Dan menurut asumsiku, kemungkinan keberadaan dunia paska kematian itu lebih besar daripada kemungkinannya untuk tidak ada. Setidaknya menurutku harus ada tempat penyiksaan untuk penguasa-penguasa yang kerjaannya membantai rakyat miskin, pembuat laman clickbait yang beritanya palsu semua itu, atau penipu-penipu berkedok toko online di jagat internet.

Karena pertimbangan itulah, atau mungkin juga karena sifat dasarku yang tidak punya harga diri itu, aku tidak pernah punya kebanggaan menjadi pemeluk agama. Meskipun aku bisa dibilang cukup taat, (kecuali urusan bercinta tadi tentunya) aku merasa biasa-biasa saja. Semua yang dilakukan dengan pertimbangan untung-rugi memang tak usah terlalu dibangga-banggakanlah.

Berbeda denganku, temanku yang taat dan punya kebanggaan yang kuat pada keyakinannya bilang bahwa hidup ini seperti ujian. Tuhan sudah mempersiapkan soalnya, dan bahan ujian dan petunjuknya ada di kitab suci. Kalau kau hendak lulus, katanya, maka pelajarilah bahan ujiannya dan ikutilah petunjuk-petunjuknya. Maka ia mengikuti petunjuk-petunjuk itu dengan tekun, sambil berusaha meyakinkanku untuk mengikutinya.

“Haish prek, omong kosong” pikirku dalam hati (ingat bahwa aku hanya tidak berdaya kepada wanita itu, kalau untuk orang lain aku tetap berdaya). Menurutku, hidupku ini memang ujian, tapi Tuhan tidak membuat soal, apalagi kisi-kisi jawabannya. Petunjuk petunjuk itu dibuat oleh lembaga belajar yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan ujian tersebut, yang tujuannya macam macam dari mulai cari jodoh, cari uang, cari massa, hingga cari kekuasaan. Lalu masing-masing mereka ini saling klaim bahwa lembaga belajar merekalah yang paling baik memberikan pelajaran untuk menempuh ujian tersebut, sambil menjelek-jelekkan lembaga yang lain, kalau perlu bahkan saling perang. Padahal belum ada satupun dari lembaga itu yang benar benar punya bukti bahwa anak didik mereka (yang berhasil mereka tipu itu) telah berhasil melewati ujian tersebut. Memang beberapa sudah melewatkan ujian tersebut, alias sudah mati. Tapi Tuhan belum memberikan pengumuman kelulusannya kok. Bisa saja semua lulus, tak perduli mereka belajar di lembaga yang mana, yang penting dia taat mematuhi perintah dan larangannya. Jadi, buat para pembelajar, juga para pimpinan lembaga belajar, sebaiknya jangan sok tahu dulu. Semua masih belum jelas, masih gelap seperti pandangan Si Buta dari Goa Hantu, komik kesayangan kita semua yang sekarang dibuat ulang lagi itu.

Nah, aku jadi melebar ke mana-mana. Tapi intinya sudah cukup jelas, aku orang yang cukup taat beragama, aku sedang jatuh cinta, dan aku siap untuk pindah agama demi cinta, tanpa perlawanan.

Besok adalah hari di mana perkawinanku dijadwalkan, dan beberapa saat sebelum perjanjian pernikahan diucapkan, di situlah aku akan mengikrarkan — disaksikan oleh pemuka agama setempat, perpindahan iman.

Saat ini, bukan karena berlebih-lebihan, tapi untuk mengenang apa yang kupercayai dan kuyakini selama 31 tahun yang lewat, aku memasuki sebuah restoran di pinggir kota, yang menjadi langgananku selama ini. Aku sudah memesan sebuah meja, untuk diriku sendiri, dan segera duduk di kursinya.

“Babi panggang dong, 5 porsi…” kataku pada pelayan.

“Dan 5 botol bir dingin, botol besar ya…”

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Chandra Agusta’s story.