Jauh …
Aku ingin mengajakmu pergi … jauh …
tak usah kau tanyakan kemana arahnya
tak usah kau tanyakan berapa lama waktunya
di temani dengan ribuan kaset music 90’an
menikmati perjalanan dengan bernyanyi sepanjang jalan, dengan kendaraan kesukaan, dengan snack ringan di tangan.
membicarakan perasaan dan kehidupan
rasanya akan sangat amat menyenangkan
aku ingin mengajakmu pergi … jauh …
melihat matamu yang tenang, lalu tinggi badanmu yang tidak seberapa, sehingga mudah untukku mencium keningmu
tanpa ac, angin masuk melalui sela-sela kaca jendela volvo wagon’89, lalu menyelinap masuk kedalam pikiranmu, membisikan semua kebahagian di hari itu
bisa jadi terlalu manis adalah lagu favoritmu, namun tidak bagiku, karena aku lebih suka melihat kamu bernyanyi, walau suaramu tidak seberapa, tak apa-apa, kau sudah berusaha …
Jika ada mesin waktu, maka akan ku tekan tombol “berhenti” agar kehidupan ini terdiam, karena siapapun tak boleh mengganggu perjalanan kami menuju sebuah tempat tersebut.
tempat dimana aku bisa mengenalinya secara perlahan, menyelam bersama angan-angan, menyemangatinya untuk bertahan hidup dengan segala ketidakmungkinan.
Sekali ia membicarakan dua cahaya yang hadir membayanginya, memberikan masa depan baginya, memberikan energi baginya. karena baginya, kehidupan ini berat.
karenanya, aku ingin mengajakmu pergi … jauh …
aku ingin kamu tau, sesampainya di kaki gunung nanti, akan ku buatkan api unggun, dan kau akan tau bahwa sebongkah kayu akan rela terbakar demi sekelilingnya terang dan merasakan hangat.
lalu rambutmu, kini putih terkena abu dan puing-puing yang berterbangan karena sisa kayu yang terbakar tadi …