Belajar “Mengapa” dan Mengapa Belajar

Ada yang pernah dengar kalimat ini?

Hidup adalah proses belajar. Selama kita hidup, kita akan terus belajar.

Tidak ada cara terbaik untuk menjalani hidup, begitu juga dengan cara belajar. Setiap orang pasti memiliki caranya masing-masing dan bisa jadi cara belajar si A cocok digunakan oleh si B tetapi tidak untuk si C.

Aku sendiri selalu bertanya apakah aku sudah menemukan cara belajarku sendiri. Di tahun 2016 yang lalu akhirnya aku mendapat satu lagi jawaban atas pertanyaan tesebut dengan sebuah cara: bertanya.

Setiap mempelajari suatu hal, aku akan menanyakan tiga pertanyaan terkait hal tersebut:

Mengapa (why) hal ini harus aku pelajari?
Apa (what) saja dari hal ini yang perlu aku pahami?
Bagaimana (how) hal ini dilakukan?

Konsep tiga pertanyaan ini sebenarnya meminjam Teori Golden Circle dari Simon Sinek yang sedikit dimodifikasi urutan pertanyaannya.

Golden Circle (tapi dituker letak what dan how)

Seperti pada dasarnya teori Golden Circle meminta kita untuk start with why, begitu juga aku belajar selalu mulai dari sebuah pertanyaan:

Mengapa (Why)

Mulai dari Mengapa (Why)

“masih menanti ilmu yang aku pelajari di sekolah/kuliah kepake di dunia nyata”
“ngapain sih belajar ini ribet banget palingan juga ga kepake”

Familiar dengan pertanyaan di atas? Yup aku juga, karena aku dulu selalu menanyakan hal tersebut. Ekstrimnya lagi kalo aku merasa itu tidak ada gunanya, aku tidak akan mau menyentuhnya sama sekali.

Contohnya, sebagai mahasiswa akuntansi, aku paling malas belajar Akuntansi Keuangan. Buat yang pernah belajar akuntansi di bangku kuliah, pasti pernah dengar dengan istilah depresiasi. Aku dulu tidak habis pikir ada orang-orang yang menciptakan Akuntansi Keuangan dengan sengaja memperumit hal, salah satunya bikin metode depresiasi. Dengan segala ketidakminatan tersebut, aku hanya berusaha mempelajari bagaimana (how) cara-cara atau rumus yang diperlukan untuk menjawab soal ujian (yang mana sering kali tetap tidak bisa jawab soalnya). Alhasil untuk mata kuliah Akuntansi Keuangan (dari level menengah 1–3 dan juga lanjutan 1–2), aku sudah “mengikhlaskan” apa yang akan terjadi dan diperoleh.

Namun semua berubah saat akhir tahun lalu, mau tidak mau, harus mempelajari kembali tentang Akuntansi Keuangan demi syarat kelulusan. Aku mencoba berdamai matkul tersebu dan mulai menanyakan:

“Mengapa sebagai anak Akuntansi, aku perlu mempelajari Akuntansi Keuangan?”
“Mengapa hal ini perlu dipahami?”

Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa bermacam-macam. Bisa jadi jawabannya sesimpel karena aku harus lulus, tapi bisa jadi juga kita memahami hakikat dari Akuntansi Keuangan dan segala kerumitannya itu apa.

Ternyata cara termudah untuk menemukan jawaban tersebut ada pada setiap chapter 1 dari buku dan setiap paragraf pembukaan setiap chapter tertentu lho (yang mana sering banget aku lompatin karena terkesan basa-basi dan langsung lompat ke tabel/rumus-rumus di chapter tersebut).

Mengapa penting banget untuk bisa menemukan jawaban dari pertanyaan Mengapa/Why? Karena dengan tau kenapa kita harus mempelajari subjek tersebut, semua hal yang ada di dalamnya menjadi lebih masuk akal untuk dipelajari dan dipahami. Jadi ingin bertanya ke diri sendiri: “mengapa nggak pernah baca bagian awal dari setiap buku atau chapter?”

Jika diibaratkan belajar bikin jus nanas (cuma random aja mikirnya jus nanas hehe), kita bisa tanya mengapa kita harus bikin jus nanas? Mengapa nggak jus lainnya aja? Mengapa nanasnya di jus nggak di makan langsung? Bisa jadi jawabannya adalah ternyata nanas adalah buah yang mengandung blablabla lebih tinggi dari buah mana pun atau semacamnya.

Setelah tau jawaban dari Mengapa/Why, pertanyaan selanjutnya adalah:

Apa (What)

Selanjutnya Apa (What)

Setelah tau mengapa kita mempelajari hal/subjek/topik tertentu, maka kita bisa masuk ke pertanyaan selanjutnya yaitu:

“Apa saja hal yang perlu diketahui dari hal tersebut”

Nah cara paling gampang kalo dari textbook adalah lihat subjudul yang ada. Jawaban dari pertanyaan ini bisa jadi contohnya yang perlu kita ketahui adalah definisi, jenis-jenisnya, atau kelebihan dan kelemahan suatu hal. Contohnya di topik depresiasi, jawaban dari pertanyaan Apa (What) bisa berupa jenis-jenis metodenya atau kelebihan dan kekurangan setiap metode.

Pada dasarnya pertanyaan Apa (What) ini menjadi kerangka dari hal yang harus kita pelajari. Jika kita belajar cara bikin jus nanas, kita bisa tanya apa saja bagian-bagian dari buah nanas? Apa yang perlu diperhatikan saat memilih nanas? Apa saja peralatan yang diperlukan untuk bikin jus nanas?

Selanjutnya ke pertanyaan terakhir yaitu:

Bagaimana (How)

Pertanyaan terakhir Bagaimana (How)

Pertanyaan ini sering kali menjawab cara-cara atau langkah praktis dari hal yang kita pelajari. Aku pribadi (dan sepertinya banyak orang lain juga) seringkali lompat dari dua pertanyaan sebelumnya dan terjabak hanya cukup menjawab pertanyaan terakhir ini. Kenapa begitu? Karena pada dasarnya saat kita tau langkah-langkahnya, kita sudah bisa melakukan suatu hal tersebut, lalu merasa sudah bisa dan menguasai hal tersebut. Tetapi saat kita dihadapkan pada pertanyaan/kasus tidak umum atau seperti yang kita pelajari langkahnya, kita akan kesusahan untuk menyelesaikannya. Padahal di dunia nyata setiap halnya unik tidak selalu seperti contoh yang kita pelajari. Kita bingung karena hal simpel yaitu kita tidak tau dasarnya ada langkah-langkah tersebut.

Contoh favoritku adalah pengalamanku waktu jaman SMA dulu. Aku ingat waktu itu ada seorang guru matematika yang jadi favorit seluruh siswa. Kenapa? Karena sang guru menciptakan rumus cepat dan mengajarkan bagaimana (how) mengerjakan berbagai soal matematika dengan cara pintas. Rumus diajarkan tanpa kita perlu tau dasarnya dari mana dan memang menghasilkan jawaban yang benar.

Semua murid berbahagia hingga akhirnya menyadari bahwa mereka baru saja mengerjakan soal matematika dasar SBMPTN (yang sebenarnya lebih ke arah puzzle dari pada soal perhitungan biasa) dan tidak ada satu pun soal matematika dasar yang bisa dikerjakan dengan cara cepat tersebut.

Kembali dengan contoh belajar bikin jus nanas, kita mungkin bisa saja langsung cari tau langkah-langkah membuat jus nanas dimulai dari mengupas nanas, memotong, masukan ke blender, dikasih sedikit air, kasih gula kalo perlu. Lalu bagaimana jika nanasnya setengahnya pas dipotong ada yang busuk? Bagian mana aja yang masih bisa dijus? Atau misalkan ternyata blendernya rusak, masih ada nggak cara lain untuk bikin jus itu? Kalo ada cara lain kira-kira nanti ada dampaknya nggak semisal kandungan vitaminnya jadi hilang? Nah seringkali biasanya kita bisa menyelesaikan itu semua kalo kita benar-benar tau jawaban dari Mengapa (Why) dan Apa (What) dari bikin jus nanas tersebut.

Begitulah tiga pertanyaan yang selalu jadi bekalku untuk mempelajari suatu hal. Sebenarnya untuk pertanyaan Apa dan Bagaimana bisa fleksibel ditukar-tukar, tapi aku selalu memulai dengan sebuah pertanyaan:

“Mengapa aku harus belajar hal ini?”

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.