Memandang dari Sebilah Pedang: Cara Menyikapi Kegagalan dan Keberhasilan

Dari sekian banyak jenis phobia, ternyata ada phobia yang dimiliki oleh hampir seluruh umat manusia:

Phobia atau Takut akan Kegagalan

Menurutku, dari sekian banyak rasa takut, rasa takut berjumpa dengan yang namanya kegagalan itu adalah rasa takut yang paling merugikan umat manusia.

Coba kita lihat sekitar kita. Sering tidak kamu bertemu orang yang memiliki kemampuan yang mumpuni untuk melakukan suatu hal, tetapi ternyata pencapaian di hidupnya tidak lah setara dengan kemampuan yang dimiliki?Pun mungkin sering juga kita bertemu dengan orang yang kemampuannya sebenarnya biasa-biasa saja, tetapi ternyata dia bisa mencapai banyak hal yang bahkan kadang orangnya sendiri tidak pernah menduga bisa mendapatkannya.

Pembeda antara dua tipe orang ini sebenarnya sangat sederhana: siap gagal. Orang yang sangat takut dengan kegagalan pasti tidak akan pernah mau mencoba dan orang yang tidak mencoba tidak akan pernah menuai hasil.

Simpel. Tapi nyatanya rasa takut kegagalan masih menghantui kita.

Aku tertarik untuk menulis ini karena aku dulunya adalah orang yang takut dengan kegagalan. Di sini aku ingin berbagi berpengalaman sebagai orang yang kemampuannya biasa-biasa saja, lalu bisa mencapai hal-hal yang tidak pernah aku sangka sebelumnya setelah memutuskan untuk sesimpel aku mengubah cara pandangku terhadap kegagalan dan keberhasilan. Aku percaya cara ini bisa juga diterapkan kepada orang lain.

Aku sadar satu-satunya hal yang bisa aku kendalikan di dunia ini adalah diriku sendiri, maka aku memutuskan untuk mengubah sesuatu dalam diriku:

Cara pandangku terhadap sesuatu.

Cara sederhana untuk mengubah perspektif kita adalah menganalogikan diri kita menjadi sesuatu atau benda lain. Untuk kita yang merasa butuh cara lain untuk menyikapi kegagalan, cobalah bayangkan diri kita adalah seperti sebilah pedang besi.

Bayangkan semua manusia yang terlahir di muka bumi ini sebagai bijih besi mentah. Di antara dari kita mungkin ada yang beruntung memiliki kualitas kadar dalam bijih besi yang cukup baik dibandingkan besi-besi lainnya. Tetapi tetap sama saja, dari awal kita sama-sama hanyalah seonggok bijih besi. Semua bijih besi ini memiliki mimpi yang sama: menjadi sebuah pedang yang bagus.

“Pedang” yang bagus adalah pedang yang rangkanya kokoh tak mudah patah dan juga tajam sehingga bisa menebas apa pun. Pertanyaannya adalah:

Bagaimana kita, dari sebuah biji besi ini, bisa menjadi “pedang” yang baik?

Untuk menjadi kokoh, kita harus sering ditempa. Semakin sering kita tertempa, semakin kuat rangka dari pedang itu.

Untuk menjadi tajam, kita harus sering diasah. Semakin sering terasah, semakin tipis dan lancip setiap sisi ujung dari pedang kita,

Nah, aku selalu percaya bahwa setiap kegagalan yang kita alami itu akan “menempa” kita sebagai sosok manusia. Semakin sering kita “tertempa” kegagalan, semakin kokoh kita menghadapi kehidupan. Kita menjadi lebih “tahan” terhadap cobaan dan juga tidak mudah patah semangat karena hal-hal sepele.

Begitu juga setiap keberhasilan yang kita alami juga akan “mengasah” kita sebagai sosok manusia. Semakin sering kita “terasah” keberhasilan, semakin tajam dan mudah kita “menebas” permasalahan yang ada dalam hidup kita.

Pedang yang sering ditempa tetapi tidak pernah diasah, masih bisa menjadi pedang tumpul yang bisa memotong suatu benda tetapi melalui tebasan berulang-ulang dan konsisten di satu titik yang sama. Sedangkan pedang yang sangat tajam karena sering diasah tetapi tidak pernah ditempa, ia akan mudah memotong banyak hal tetapi sangat rawan patah saat bertemu dengan benda (permasalahan) yang lebih kokoh.

Lalu pertanyaannya selanjutnya:

Lebih penting mana, ditempa atau diasah?

Keduanya sama pentingnya, jadi siapkan diri kita untuk menerima keduanya, karena baik saat gagal atau pun berhasil, keduanya akan membantu kita menjadi “pedang” yang bagus.

Kunci selanjutnya yaitu:

Berani Mencoba


sumber: pinterest