Peta Pikiran

.

.

.

kau tahu
dan selalu sanggup mengerti
segala yang kini dan nanti
hanya ada seluruh dirimu tersesat
di peta hidupku

hari ini dan lusa sungguh
harilalu yang tiba terlambat dan tergesa
seperti kartu pos pagi ini 
yang kau buka dan kau tolak
karena untuk menerimanya
kau butuh alasan yang
lebih berat daripada memahami

kau nyala api yang
membakar habis diriku
kulihat abuku membentuk
puisi lain untukmu
ribuan puisi

api favoritku
ialah amarah di matamu
warna kegemaranmu
adalah bening air--di mataku

Aku mencari perangai
yang mampu membuat
jari-jariku mencair
sebelum sadar sesuatu telah mencuri
kata-kata di lidahku

Mengapa kebebasan
tidak membiarkanku
mengerjakan petualangan?

pada akhirnya tidak ada jawaban
untuk pertanyaan semacam itu
tiap orang--rupanya,
akan pulang sambil
menyeret diri sebagai pernyataan

kau tidak tahu jalan keluar
aku tidak menemukan
cara membuka pintu

itu mengapa 
di peta ini 
hanya ada kau 
terperangkap
seorang diri
--selamanya